Jangan Bangga Pertumbuhan Ekonomi Tinggi

Waspadai Middle Income Trap

Jumat, 14/09/2012

NERACA

Jakarta –Pemerintah diminta jangan membanggakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Karena disisi lain ada kelemahan yang perlu diwaspadai, terutama terkait jebakan kelas berpendapatan menengah (middle income trap). “Kita jangan terlalu bangga pertumbuhan naik. Harus hati-hati dengan beban penduduk besar. Gini ratio yang menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan. Ini sumber dari middle income trap,” kata Destry Damayanti, Chief Economist Bank Mandiri, ketika ditemui dalam acara Macroeconomic Outlook: Review Q2/2012, di Jakarta, Kamis (13/9).

Destry mencontohkan Filipina sudah menjadi negara dengan penduduk berpendapatan menengah daripada Indonesia. “Dulu Filipina adalah negara paling maju di ASEAN. Untuk maju lagi agak berat karena based-nya tinggi, karena dibutuhkan teknologi, inovasi, dan pendidikan," ujarnya.

Jadi jangan sampai kita lengah seperti Filipina, tapi malah harusnya mencontoh Korea Selatan yang sudah berhasil melalui jebakan middle income. Yaitu dengan meningkatkan kualitas pasar tenaga kerja, pemakaian teknologi, dan membangun infrastruktur. “Dulu Korea Selatan bisa lewatin ini dengan meningkatkan teknologi dan inovasi. Kita di sini saja PDB 3000-4000 sudah puas. HDI kita masih rendah dari pendidikan, kesehatan, dan sebagainya,” terangnya

Destry menambahkan sektor informal yang meningkat jadi formal dapat menjadi salah satu cara untuk melepaskan diri dari jebakan middle income itu. “Iya, bisa saja sektor informal yang sekarang banyak berubah menjadi formal, menjadi salah satu cara kita lepas (dari jebakan itu). Karena edukasi lebih bagus dan pendapatan lebih konsisten,” paparnya

Diakui Destry, pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh angka 6,4% pada kuartal kedua 2012. ” Kita so far aman-aman saja, karena pertumbuhan dan konsumsi masih tinggi, serta government spending berkurang. Kemudian di Juli 2012 defisit transaksi berjalan kita sudah berkurang dari Rp300 juta. Penurunan yang di Juli adalah dari impor minyak, yang negatif 20%,” jelasnya

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini sudah berhasil mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan. “Sampai akhir tahun ini dan tahun depan, target pertumbuhan ekonomi kita diperkirakan sekitar 6,3%-6,8%, dan di 2014 sebesar 7,0%-7,7%. Kemudian target lain di 2014, yaitu tingkat inflasi yang bisa dijaga di angka 4,0%-6,0%, tingkat pengangguran di kisaran 5,0%-6,%, tingkat kemiskinan pada angka 8,0%-10,0%, dan GDP per kapita mencapai US$4500,” katanya.

Destry juga mengatakan pertumbuhan perekonomian Indonesia saat ini disokong oleh pertambahan jumlah kelas penduduk berpendapatan menengah, yang pada 2010 sudah mencapai 131 juta orang. Serta Indonesia sedang mengalami periode bonus demografik sampai tahun 2030.

Menurut Destry, jumlah pengangguran di Indonesia pada tahun 2012 ini memang menurun. Karena banyak dari mereka yang diterima bekerja di sektor formal. Kemudian ini juga dibantu oleh sektor manufaktur, perdagangan, konstruksi, dan finansial yang terus menyerap tenaga kerja setiap tahunnya. “Aktivitas ekonomi sektor informal ada 30% dari GDP kita, namun sekarang sudah berkurang karena mungkin sudah didaftarkan (sehingga tidak informal lagi). Dari sektor informal ini akan menjadi sumber pertumbuhan kita ke depannya,” ujarnya.

Jadi, Destry juga bilang wajar kalau pemerintah ingin menaikkan pajak terhadap sektor informal. “Karena ada pendapatan sekitar Rp800 triliun yang masih overhand atau di luar sektor formal. Kemudian pertumbuhan kredit perbankan di sektor mikro juga tinggi,” imbuhnya. **ria