Hingga Agustus, Penerbitan Obligasi Capai Rp 975,48 Triliun

NERACA

Jakarta–PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat penerbitan obligasi yang dicatatkan di BEI hingga Agustus 2012 mencapai Rp975,48 triliun dan US$ 100 juta. Jumlah tersebut di dominasi Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp803,05 triliun dan obligasi korporasi sebesar Rp172,42 triliun.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa (AB) Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat mengatakan, dengan jumlah tersebut persentase goverment bond sebesar 82% dan obligasi korporasi 18%,”Untuk goverment bond sendiri total series yang tercatat mencapai 92 serie. Sementara untuk obligasi korporasi dari 98 penerbit total serie penerbitan mencapai 324 series, “katanya di Jakarta, Kamis (13/9).

Dari jumlah tersebut aktivitas pelaporan transaksi efek berdasarkan frekuensi oleh bank umum mulai periode 2006 – 2012 mencapai 56% (341.074 kali) dari seluruh pelaporan SBN. Sedangkan obligasi korporasi mencapai 10% (12.041 kali).

Dia juga mengungkapkan, untuk data aktivitas pelaporan transaksi efek berdasarkan volume oleh bank umum mencapai 67% (Rp7.688 triliun) dari seluruh pelaporan SBN. Untuk obligasi korporasi mencapai 16% (Rp105 triliun).

Sistem Perdagangan Obligasi

Selain itu, dirinya juga menuturkan, pihaknya akan terus berdiskusi dengan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) agar perdagangan surat berharga negara dan obligasi korporasi dapat ditransaksikan melalui sistem perdagangan BEI.

Kata Samsul Hidayat, selama ini obligasi dan SBN hanya diwajibkan untuk dilaporkan kepada BEI dan belum ditransaksikan dengan menggunakan sistem BEI. Padahal, BEI sudah memiliki sistem perdagangan obligasi Fixed Income Trading System (FITS) bekas peninggalan Bursa Efek Surabaya.“Sistemnya sudah ada, sudah siap, namun sudah lama tidak ditransaksikan melalui sistem FITS ini. Jika perdagangannya melalui sistem FITS, maka setiap transaksi obligasi diberlakukan seperti transaksi saham, ada perdagangannya, kuotasinya, serta kegiatan kliring dan settlement-nya,”ungkapnya.

Menurut Samsul, pendiskusian dengan Bapepam-LK sendiri juga diintensifkan kepada bagaimana transaksi surat utang dapat diarahkan. Sebab selain dapat ditransaksikan melalui FITS, masih ada metode lainnya.

Beberapa metode lainnya adalah transaksi obligasi di pasar domestik ditransaksikan melalui sistem Bursa melalui fasilitas Alternative Trading System (ATS). Jadi, setiap transaksi obligasi yang dilakukan investor tidak dikenakan kliring dan settlement dan hanya difasilitasi dan dilakukan melalui sistem BEI.“Mekanisme berikutnya adalah Regulated Over The Counter, jadi transaksi obligasi yang dilakukan akan sama seperti saat ini (terjadi di luar BEI), namun mekanisme transaksinya lebih diatur dalam bentuk regulasi,” jelasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Penyaluran Dana Desa Capai Rp59,2 Triliun

      NERACA   Bogor - Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Boediarso Teguh Widodo mengatakan realisasi dana desa…

Manulife Sebut Pasar Obligasi Masih Positif

  NERACA   Jakarta - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memandang beberapa faktor positif dari domestik masih akan terus…

MCAS Bukukan Penjualan Rp 1,1 Triliun

PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) sepanjang sebelas bulan pertama tahun ini mengantongi angka penjualan sebesar Rp1,1 triliun atau meningkat…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pasok Permintaan PLN - DWGL Kejar Produksi 8 Juta Ton Batu Bara

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan saham perdananya di pasar modal pada perdagangan Rabu (13/12), PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL)…

Samindo Anggarkan Capex US$ 13,8 Juta

NERACA Jakrta - Tahun depan, PT Samindo Resources Tbk (MYOH) perusahaan penyedia jasa pertambangan batu mengalokasikan capex sebesar US$ 13,8…

Permintaan Ban TBR Meningkat - GJTL Genjot Produksi Jadi 3.500 Ban Perhari

NERACA Jakarta - Mengandalkan pasar ekspor dalam menggenjot pertumbuhan penjualan, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) terus meningkatkan kapasitas produksi dan…