Pemerintah Kurang Dukung Pasar Modal

BEI Cibir IPO BUMN

Jumat, 14/09/2012

NERACA

Jakarta– Minimnya perusahaan BUMN mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) menuai keprihatinan bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, sepanjang tahun 2012 ini belum ada satupun perusahaan plat merah mencatatkan sahamnya di bursa.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, pemerintah dinilai kurang memberikan dukungan terhadap pasar modal. “Pemerintah kurang memberikan dukungan ke pasar modal karena tidak mau melakukan penawaran saham perdana BUMN ,”katanya di Jakarta, Kamis (13/9).

Menurutnya, masih sedikit penawaran saham perdana yang dilakukan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kemungkinan karena belum ada yang berminat dan ini terlihat dari banyak perusahaan BUMN yang belum siap melakukan penawaran saham perdana. Padahal, Menteri BUMN dinilai memiliki semangat tinggi untuk mendukung BUMN dapat melakukan penawaran saham perdana.

Kendatipun demikian, Ito mengakui, semangat Menteri BUMN cukup tinggi dan perlu dukungan staf, walapun belum ada satupun BUMN yang masuk ke bursa saham. Hingga kini, perusahaan BUMN baru 18 yang tercatat melakukan penawaran saham perdana di BEI. Terakhir PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang baru melepas saham ke publik pada 2011 lalu.

Namun, Ito masih optimis 25 emiten dapat mencatatkan saham perdana pada tahun ini. Nilai emisi penawaran saham perdana pun diperkirakan dapat melebih dari tahun lalu. Pada 2011, nilai emisi dari penawaran saham perdana mencapai Rp19,59 triliun. “Nilai emisi tergantung situasi pasar pada semester kedua 2012. Pada semester pertama banyak pihak meragukan hingga kini sudah ada 15 emiten yang listing,” jelasnya.

Asal tahu saja, bukan kali pertama BEI bersuara keras agar BUMN diminta lebih banyak IPO. Hal ini dimaksudkan agar industri pasar modal bisa meningkatkan likuiditas dengan masuknya BUMN. ”Dengan banyak BUMN yang melantai di bursa dapat menambah kapitalisasi pasar dan memperbanyak pilihan-pilihan berinvestasi untuk investor, dengan menjadi perusahaan publik maka di samping perusahaan semakin transparan, asetnya juga meningkat tajam,” jelas Ito.

Sebelumnya, Ito juga pernah bilang minimnya BUMN IPO dituding karena ketakutan masuk ke bursa untuk transparansi. Menurut Ito di Malaysia saja seluruh perusahaan negara seluruhnya wajib masuk ke pasar modal. Tidak dipersoalkan apakah perusahaan itu sedang sakit atau tidak. Di Indonesia jumlah privatisasi yang dilakukan sejumlah perusahaan plat merah selama 18 tahun terakhir masih minim, yakni tak lebih dari 18 BUMN.

Merespon tudingan tersebut, Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah bilang, tidak mudah memang melakukan penawaran saham perdana BUMN karena banyak sekali hambatannya, “Banyak sekali hambatan BUMN dan semuanya terkait dengan perizinan, khususnya dari DPR,”tuturnya.

Meski sulit untuk mendapatkan perizinan, Dahlan tetap optimis dapat memperbanyak perusahaan BUMN untuk melakukan IPO di BEI. Saat ini, pihaknya masih memiliki rencana memperbanyak IPO di kalangan BUMN.

Selain memudahkan untuk mendapatkan sumber pendanaan yang lebih murah, juga menghindari intervensi dari pihak luar dan mengembangkan pasar modal Indonesia.”Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak turun ke pasar modal. Khusus untuk Semen Baturaja dizinkan atau tidak, terserah saja,” tukas Dahlan. (bani)