Bangun Pabrik Turbin, Investor China Gandeng Perusahaan Lokal

Jumat, 14/09/2012

NERACA

Jakarta - Minat investor asing yang akan masuk untuk berinvestasi ke Indonesia sangat besar, salah satunya adalah investor dari China yang akan berminat untuk menanamkan modalnya sebesar US$ 20 juta untuk membangun pabrik mesin turbin di Indonesia dengan menggandeng perusahaan lokal.

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Budi Darmadi memaparkan investor asal China akan berekspansi dengan mendirikan pabrik mesin turbin itu merupakan salah satu faktor pendukung pembangunan pembangkit listrik yang tengah dilakukan pemerintah.

Produk yang akan dibuat oleh produsen asal China itu, menurut Budi, menggunakan teknologi dari Eropa. Lebih jauh lagi Budi mengungkapkan kalau nantinya produk yang dipasarkan memakai standar Eropa dan lisensi dari China. “Dengan masuknya investor asal China, Indonesia sudah memiliki dua pabrik turbin, yakni Siemens di Bandung yang bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia," ungkapnya di Jakarta, Kamis (13/9).

Investasi di sektor mesin turbin, lanjut Budi, akan meningkatkan penggunaan produk dari dalam negeri. "Ini dilakukan sebagai salah satu usaha pemerintah memperkuat barang dan mengurangi defisit neraca perdagangan. Diperkirakan investasinya sekitar US$ 20 juta," ujarnya.

Budi menuturkan pihaknya mendorong mitra lokal untuk bermitra dengan perusahaan asal China. "Kami akan mengupayakan perusahaan dari dalam negeri untuk bekerja sama dengan perusahaan China membuat turbin dengan kualitas yang handal," katanya.

Sejumlah investor China akan membangun pabrik pemurnian alumina dan pengolahan pasir besi di Indonesia. Investasi pada sektor industri logam hulu melalui pembangunan pabrik pengolahan pasir besi menjadi Direct Reduced Iron (DRI) dan baja oleh Oriental Mining and Minerals Resources Co Ltd & Rui Tong (RT) Investment Co Ltd ini senilai US$ 1,5 miliar.

Pembangunan pabrik akan dimulai pada 2016 dengan kapasitas 0,6 juta ton per tahun. Managing Director RT Global Resources Capital Hong Kong Limited Lizhi Zhao menuturkan, dibangunnya pabrik di Indonesia ini bisa mendorong industri berat agar lebih maju. "Kita sedang melakukan studi kelayakan infrastruktur yang ada, kelistrikan, jalan, dan tanah," ujar Zhao.

Pabrik pengolahan pasir besi dan baja akan dibangun di Garut, Jawa Barat (Jabar), di atas lahan seluas 50 hektare (ha). Pembangunan akan dilakukan dalam empat tahap. Pada tahap kedua, yakni 2017, akan dibangun dengan kapasitas 1,4 juta ton. Pembangunan akan selesai hingga 2019 dengan kapasitas total mencapai enam juta ton.

Alih Teknologi

Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat menuturkan, pembangunan pabrik DRI dapat menjadi jembatan teknologi pengolahan baja yang lebih maju. Pembangunan ini akan menyerap tenaga kerja sebanyak 16 ribu orang. "Rencana investasi ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap produk impor serta memperkuat struktur industri logam dan integrasi industri hulu dan hilir," ujar Hidayat.

Selain pembangunan pabrik DRI, perusahaan Beijing Shuang Zhong Li Investment Management Co Ltd akan membangun pabrik pemurnian alumina, peleburan aluminium, dan pembangkit listrik. Nilai investasi proyek berbasis aluminium sebesar US$ 7,1 miliar akan dilakukan dalam tiga tahapan mulai 2015.

Pada tahap pertama, akan dibangun pabrik dengan kapasitas 0,6 juta alumina serta powerplant (pembangkit listrik) 50 megawatt (mw). Tahapan kedua dan ketiga pada 2018 dan 2020 dengan kapasitas 0,6 juta ton alumina, 0,3 juta ton ingot aluminium, dan powerplant 600 mw. Jika pembangunan pabrik selesai akan menyerap sekitar 30 ribu lapangan kerja.

Selain Oriental Mining and Minerals Resources Co Ltd & Rui Tong Investment Co Ltd, Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto menambahkan, masih ada satu perusahaan lagi dari Cina yang masih mengantre untuk berbisnis sektor serupa disini.