Korsel dan Selandia Baru Tahan Suku Bunga

NERACA

Seoul--Bank sentral Korea Selatan mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah pada 3,0%. Demikian pula dengan Bank sentral Selandia Baru ikut mempertahankan suku bunga acuannya di rekor terendah 2,5%.

Bank of Korea (BoK) mempertahankan suku bunga tak berubah untuk kedua bulan berturut-turut, setelah memangkasnya pada Juli sebesar 25 basis poin, dalam pelonggaran kebijakan pertamanya sejak awal 2009. Penurunan pada Juli bertepatan dengan upaya pemerintah untuk membalikkan pelambatan ekonomi di Korea Selatan yang kesulitan karena penurunan ekspor yang disebabkan oleh lemahnya ekonomi AS dan krisis utang zona euro yang berkepanjangan.

Analis pasar telah memperkirakan penurunan lebih lanjut 25 basis poin pada Kamis didukung data pemerintah yang menunjukkan inflasi terendah dalam 12-tahun 1,2 % pada Agustus dan tingkat pengangguran bertahan stabil di 3,1 %. "Saya pikir itu keputusan yang sangat mengecewakan," kata Frances Cheung, seorang penyiasat senior di Credit Agricole CIB di Hong Kong.

Ekspor Korea Selatan turun untuk kedua bulan berturut-turut pada Agustus, turun 6,2 % dari tahun sebelumnya menjadi 42,97 miliar dolar AS. Ekspor Juli turun 8,8 % tahun-ke-tahun. "Mengingat lemahnya permintaan domestik dan inflasi yang rendah, saya dapat melihat tidak ada rintangan untuk menghentikan mereka memotong suku bunga," tambah Cheung

Awal pekan ini, pemerintah mengumumkan sebuah paket stimulus baru 5,2 miliar dolar AS dari rencana pengeluaran dan keringanan pajak, yang Menteri Keuangan Bahk Jae-Wan sebut sebuah respon terhadap "meningkatkan keprihatinan tentang mengendurnya kekuatan ekonomi kita." Dalam pernyataan Kamis, bank sentral mengatakan, mereka yakin paket stimulus kemungkinan akan "berkontribusi untuk mencegah terjadinya pendalaman perlambatan ekonomi".

Tetapi Cheung dari Credit Agricole berpendapat bahwa paket saja tidak cukup dan ekonomi memerlukan keduanya, penurunan suku bunga dan bantuan fiskal untuk meningkatkan kecepatan laju perekonomian. "Perlu kombinasi kebijakan moneter dan fiskal agar benar-benar memiliki sebuah dampak," jelasnya

Sementara Bank sentral Selandia Baru mengatakan perlambatan pertumbuhan di China dan berlanjutnya ketidakpastian di Eropa. “Pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya moderat dalam beberapa tahun ke depan,” kata Gubernur bank sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand) Alan Bollard di Jakarta

Suku bunga acuan atau "official cash rate" telah berada di posisi 2,5 % sejak Maret tahun lalu, ketika bank memangkasnya dalam upaya untuk membatasi dampak kerusakan akibat gempa bumi yang melanda provinsi selatan dari Canterbury.

Sejak itu, kondisi dunia melemah, serta dolar Selandia Baru terus menguat, berarti prospek inflasi tetap tenang dan "tetap tepat" untuk mempertahankan suku bunga, kata Bollard. "Prospek mitra perdagangan Selandia Baru tetap lemah. Beberapa negara kawasan euro berada dalam resesi dan pertumbuhan China telah melambat. Risiko penurunan yang signifikan di zona euro terus berlanjut." Di dalam negeri, kegiatan ekonomi diperkirakan tumbuh moderat selama beberapa tahun berikutnya.

Aktivitas pasar perumahan terus meningkat sesuai perkiraan, dan perbaikan serta rekonstruksi di Canterbury diharapkan lebih meningkatkan sektor konstruksi." "Mengimbangi ini, konsolidasi fiskal menghambat pertumbuhan permintaan, dan dolar Selandia Baru yang tinggi terus melemahkan pendapatan ekspor dan mendorong substitusi terhadap barang-barang impor dan jasa," kata Bollard.

Inflasi tahunan Selandia Baru baru-baru ini bergerak di bawah 2,0 % dan diperkirakan mendekati titik tengah dari kisaran target 1,0-3,0 % selama jangka menengah. **cahyo

Related posts