Akhir Pekan, IHSG Masih Terkoreksi

Jumat, 14/09/2012

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham Kamis (13/9) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup terkoreksi 3,46 poin atau 0,08% ke posisi 4.170,64. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 1,32 poin (0,18%) ke level 715,89.

Analis Milenium Sekuritas Abidin mengatakan, IHSG bergerak dalam kisaran sempit karena pelaku pasar masih 'wait and see' terhadap hasil FOMC terkait kebijakan untuk meningkatkan ekonomi di AS, “Data pengangguran yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar menunjukan ekonomi AS masih melambat, kondisi itu diekspektasikan pasar the Fed akan mengeluarkan kebijakan kuantitatif easing (QE),”katanya di Jakarta, Kamis (13/9).

Dia mengatakan, investor juga sedikit mengabaikan sentimen positif dari Eropa terkait Jerman yang akan berpartisipasi dalam penanggulangan krisis di beberapa negara zona Euro. Sementara analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono menambahkan, the Fed kemungkinan besar akan menahan suku bunga rendah hingga 2015.

Purwoko menambahkan, dalam pertemuan FOMC itu the Fed akan mencari jalan keluar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS yang dibawah dua persen pada kuartal II 2012 dan menurunkan angka pengangguran yang sudah bertahan di level delapan persen selama 43 bulan terakhir.

Berikutnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) Jum’at akhir pekan akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah di kisaran level "support" 4.152-4.188 poin. Pada perdagangan Kamis, frekuensi transaksi perdagangan saham sebesar 158.061 dengan volume mencapai 4,670 miliar lembar saham senilai Rp3,682 triliun.

Tercatat 104 saham menguat, sebanyak 147 saham melemah, sementara 98 saham belum bergerak nilainya atau stagnan. Kondisi bursa saham di negara lain juga terlihat memerah. Hanya bursa di Malaysia dan Jepang yang masih menghijau.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Fast Food Indonesia (FAST) naik Rp 1.600 ke Rp 14.000, Astra Agro (AALI) naik Rp 1.000 ke Rp 21.650, Roda Viva (RDTX) naik Rp 625 ke Rp 3.150, dan Multi Prima Sejahtera (LPIN) naik Rp 500 ke Rp 8.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement Tunggal Perkasa (INTP) turun Rp 450 ke Rp 19.600, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 450 ke Rp 49.300, Smart Tbk (SMAR) turun Rp 350 ke Rp 6.800, dan Lion Metal Works (LION) turun Rp 350 ke Rp 9.650.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI hanya naik tipis 4,302 poin (0,10%) ke level 4.178,399. Sementara Indeks LQ45 menguat tipis 0,538 poin (0,08%) ke level 717,750. Indeks bergerak fluktuatif dalam rentang yang tidak terlalu lebar. Indeks sempat jatuh ke posisi terendahnya di 4.167,068, tapi juga sempat ke posisi tertingginya di 4.180,924.

Aksi beli masih terjadi di saham-saham unggulan, terutama berbasis komoditas tambang dan perkebunan. Tapi aksi jual di saham-saham lapis dua memaksa indeks bergerak datar akibat koreksi. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 92.900 kali pada volume 2,243 miliar lembar saham senilai Rp 1,877 triliun. Sebanyak 85 saham naik, sisanya 107 saham turun dan 98 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Fastfood (FAST) naik Rp 1.600 ke Rp 14.000, Astra Agro (AALI) naik Rp 950 ke Rp 21.600, Multi Prima (LPIN) naik Rp 500 ke Rp 8.000, dan Asahimas (AMFG) naik Rp 300 ke Rp 7.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Lion Metal (LION) turun Rp 350 ke Rp 9.650, Indocement (INTP) turun Rp 350 ke Rp 19.700, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 350 ke Rp 49.400, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 300 ke Rp 38.700.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka turun 0,58 poin atau 0,01% ke posisi 4.173,51. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,15 poin (0,02%) ke level 717,06, “Bursa Asia dibuka 'mixed' dengan kecenderungan melemah tipis, investor masih 'wait and see' terkait keputusan quantitative easing (QE) dari The Fed," kata analis Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro.

Dia menambahkan, pergerakan bursa Asia melawan arah bursa Eropa dan AS yang berada dalam area positif atau menguat meski relatif tipis, kondisi itu memfaktorkan sentimen dari keputusan pengadilan Jerman yang menyetujui partisipasi Jerman dalam injeksi dana siaga "European stability mechanism" senilai 500 miliar euro.

Menurutnya, sentimen positif dari bursa Eropa terkompensasi oleh spekulasi stimulus dari China tidak akan terlalu besar karena justru akan memberikan efek negatif bagi perekonomiannya.

Dari dalam negeri, lanjutnya, pasar domestik akan mengantisipasi keputusan BI rate dalam rapat dewan Gubernur (RDG) BI serta penetapan suku bunga fasilitas simpanan BI (FASBI) yang diekspektasikan naik untuk mengurangi tekanan nilai tukar Rupiah.

Bursa regional diantaranya indeks Hang Seng menguat 35,93 poin (0,18%) ke level 20.111,32, indeks Nikkei-225 naik 43,67 poin (0,49%) ke level 9.002,99, dan Straits Times melemah 11,61 poin (0,38%) ke level 3.018,02. (bani)