Hasil Jualan SUN Capai Rp6,6 T

Hasil Jualan SUN Capai Rp6,6 T

Jakarta--Pemerintah kembali menerbitan kembali Surat Utang Negara (SUN) guna menutup defisit anggaran APBN. Hasil transaksi penjualan surat utang tersebut mencapai Rp 6,6 triliun, di bawah target yang ditetapkan Rp 7 triliun. "Total penawaran mencapai Rp 14,841 triliun. Pemerintah menyerap Rp 6,6 triliun," kata Kepala Biro Humas Kemenkeu Yudi Pramadi di Jakarta, Selasa (19/4/2011).

Diakui, Yudi, pelelangan SUN tersebut dalam bentuk rupiah dan dilaksanakan pada hari ini. “Lelang 5 seri surat utang negara dalam mata uang rupiah dilakukan pada 19 April 2011,” tambahnya.

Data Kemenkeu menyebutkan lelang 5 seri surat utang negara (SUN) tersebut antara lain, SPN20110720, penawaran yang masuk Rp 1,875 triliun. Pemerintah menyerap Rp 600 miliar. Jatuh tempo 20 Juli 2011, SPN20120406, penawaran yang masuk Rp 3,27 triliun. Tak ada yang diserap oleh pemerintah FR0055, penawaran yang masuk Rp 1,423 triliun. Pemerintah menyerap Rp 1 triliun. Jatuh tempo 15 September 2026 FR0056, penawaran yang masuk Rp 3,633 triliun. Pemerintah menyerap Rp 800 miliar. Jatuh tempo 15 September 2026 FR0057, penawaran yang masuk Rp 4,64 triliun. Pemerintah menyerap Rp 4,2 triliun. Jatuh tempo 15 Mei 2041.

Sebelumnya, berdasarkan data catatat Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu, pada Maret 2011 pemerintah juga telah menjual SUN sebesar Rp 4,1 triliun. Malah pembeli asing cukup banyak, tercatat penempatan dana asing di SUN naik menjadi Rp 208,99 triliun, dari posisi 23 Maret 2011 yang sebesar Rp 204,82 triliun. Sampai 24 Maret 2011, total SUN yang diperdagangkan mencapai Rp 674,91 triliun. Porsi terbesar masih dipegang oleh perbankan yang jumlahnya mencapai Rp 227,91 triliun.

Kemudian Bank Indonesia (BI) memiliki SUN sebesar Rp 11,99 triliun. Lalu industri reksa dana memiliki SUN sebesar Rp 51,5 triliun, industri asuransi Rp 88,11 triliun, industri dana pensiun Rp 37,51 triliun, industri sekuritas Rp 140 miliar, dan lain-lain Rp 48,76 triliun.

Pemerintah melalui Kementrian Keuangan mengungkap beban utang Indonesia pada Maret 2011 mencapai Rp 1.694,63 triliun. Padahal Pebruari 2011 baru mencapai Rp 1.692,17 triliun. Jadi ada penambahan utang sebesar Rp 2,46 triliun Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman US$ 68,49 miliar dan surat berharga US$ 126,09 miliar. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 6.422,9 triliun, maka rasio utang Indonesia tercatat sebesar 26%.

Yang jelas dibandingkan dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang di Maret 2011 bertambah Rp 17,78 triliun. Jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah hingga Maret 2011 mencapai US$ 194,58 miliar, bertambah dibanding Februari 2011 yang sebesar US$ 191,79 miliar.

Data Ditjen Pengelolaan utang menyebutkan pinjaman pemerintah pusat hingga akhir Maret 2011 antara lain, pinjaman bilateral: US$ 42,12 miliar, multilateral: US$ 23,15 miliar, komersial: US$ 3,12 miliar, supplier: US$ 60 juta. Jumlah total surat utang pemerintah yang belum dilunasi hingga Maret 2011 mencapai US$ 126,09 miliar. Naik dibandingkan 2010 yang sebesar US$ 118,39 miliar, kenaikannya cukup besar. **cahyo

Related posts