Perlu Restrukturisasi Subsidi Agar Tepat Sasaran

Jumat, 14/09/2012

NERACA

Jakarta—Pemerintah menegaskan restrukturisasi pemberian subsidi diperlukan agar penerima subsidi BBM maupun listrik benar-benar masyarakat yang membutuhkan dan mengurangi beban anggaran subsidi. "Harus ada satu restrukturisasi. Yang perlu diberikan subsidi, harus diberikan subsidi, yang tdak perlu jangan diberikan subsidi karena dapat menganggu pembiayaan untuk infrastruktur kita," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Kamis.

Lebih jauh Hatta menambahkan masih banyak alokasi dan pemberian subsidi tidak tepat sasaran, akibatnya anggaran subsidi bertambah setiap tahun dan membuat anggaran belanja modal untuk infrastruktur menjadi terbatas. "Ingin saya sampaikan bahwa kita perlu melakukan restrukturisasi, karena subsidi energi saja sudah sekitar Rp200 triliun sehingga total subsidi energi dan non energi mencapai Rp300 triliun lebih," tambahnya

Untuk itu, segala upaya untuk menekan anggaran subsidi dengan menaikkan harga Tarif Tenaga Listrik (TTL) dapat segera disetujui oleh DPR setelah dilakukan pembahasan dengan pemerintah.

Sementara, mengenai keinginan pemerintah untuk menambah kuota BBM bersubsidi yang diperkirakan melampaui jatah 40 juta kiloliter pada 2012, Hatta mengatakan hal tersebut perlu dilakukan karena ada pertumbuhan sektor transportasi. "Dari awal kami perkirakan dalam APBN Perubahan 2012 khusus untuk itu kita akan terlampaui, oleh sebab itu pemerintah mengajukan tambahan kuota,” tuturnya.

Dikatakan Hatta, pengalaman tahun lalu pada 2011 juga melebihi 40 juta kiloliter. “Pada 2011 juga 40 juta lebih realisasinya, ditambah pertumbuhan ekonomi dan transportasi pasti lebih," ucapnya

Menurut Hatta, agar konsumsi BBM bersubsidi tidak melebihi kuota pada tahun-tahun mendatang, pemerintah akan terus mengupayakan pengaturan penggunaan BBM dan menekan upaya penyelundupan. “Jangan sampai tingkat pertumbuhan subsidi melampaui dari pertumbuhan yang sebenarnya, seperti ada penyalahgunaan. Oleh sebab itu, upaya penghematan dan pengendalian harus tetap dilakukan," jelasnya

Namun Hatta enggan membicarakan kemungkinan pemerintah akan menaikkan harga BBM pada 2013 untuk mengurangi beban anggaran subsidi, karena pemerintah tidak berencana untuk melakukan hal tersebut. "Kok ngomong kenaikan BBM, saat ini upaya kami hanya pengendalian," tegasnya.

Yang jelas Bendahara Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bayu Priawan Djokosoetono mengatakan, fakta dan data nasional menunjukkan bahwa hingga 2012 Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonominya. "Ini merupakan prestasi yang menggembirakan di tengah situasi ketika dunia mengalami perlambatan ekonomi," katanya.

Bahkan, lanjut Bayu, berbagai krisis yang mendera perekonomian global, tidak menggoyahkan perekonomian Indonesia, sebaliknya justru mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif, di tengah negara-negara lain terperosok dalam krisis. "Oleh karena itu dengan jumlah penduduk sebanyak 240 juta jiwa, menjadikan negara ini kaya akan potensi untuk menjadi 'key player' dalam perekonomian dunia," jelasnya

Meskipun demikian, menurut Bayu, masih banyak tugas yang harus dilaksananakan untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju, diantaranya adalah kebutuhan akan fungsi kepemimpinan yang kuat, tegas, serta amanah.

Di sisi lain, peran serta rakyat dalam proses pembangunan tidak bisa diabaikan, sebab rakyat merupakan subjek dan objek dari pembangunan nasional.Apalagi, tambahnya, di tahun 2015 Indonesia akan menjadi bagian dari ASEAN Economic Community (AEC), yang mana tantangan dan hambatan yang dihadapi Indonesia, semakin besar. **bari