Waspadai Fluktuasi Kinerja Emiten Tambang

AKIBAT TREN HARGA BATUBARA DUNIA MENURUN

Kamis, 13/09/2012

Jakarta - Batubara kini telah menjadi komoditas primadona di dunia. Sayangnya, memasuki pertengahan September 2012, harga komoditas dunia itu cenderung menururn hingga ke level US$86,21 per metrik ton (MT) lantaran krisis ekonomi melanda Eropa saat ini. Selain itu, perlambatan ekonomi China, India, Korea Selatan dan Jepang, juga turut andil terhadap penurunan permintaan ekspor batubara ini.

NERACA

Hal ini tentu saja berimbas terhadap perkembangan harga saham emiten tambang di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan tren penurunan harga ini, lantas bagaimana kinerja emiten tambang hingga akhir 2012? Managing Research PT Indosurya Asset Management, Reza Priyambada, menilai bahwa pergerakan saham-saham pertambangan pada kuartal III 2012 masih cenderung datar (flat). Seandainya terdapat pergerakan naik, dia mengatakan hal itu tidak terlalu signifikan.

“Itu tergantung sentimen pasar. Kalau sentimennya positif maka pelaku pasar akan lebih percaya diri,” kata dia kepada Neraca, Rabu (12/9). Menurut dia, faktor eksternal atau secara makro ekonomi, baik global maupun dalam negeri, jelas mempengaruhi pergerakan saham-saham batubara.

Reza mencontohkan, harga-harga komoditas yang mengalami kenaikan, tentu saja akan mempengaruhi kinerja emiten pertambangan, di mana nilai ekspornya pasti menurun. Sehingga menimbulkan ketidakpercayaan pelaku pasar terhadap saham emiten bersangkutan.

“Kalau pengaruh dunia internasional, ya, krisis ekonomi Eropa akan mempengaruhi kinerja pertambangan, dan secara langsung atau tidak, akan mempengaruhi kinerja saham,” paparnya. Dia juga mengatakan, kemungkinan pergerakan dari saham-saham emiten pertambangan tidak akan jauh berbeda dibanding dengan saat ini, di mana masih bergerak variatif.

Dia bilang bahwa semua saham pertambangan sedang ada dalam area oversold. Ini disebabkan adanya tekanan jual maka jatuh ke dalam. Reza menegaskan, ketika harga saham menyentuh area oversold, biasanya akan naik kembali. “Tapi dengan syarat sentimen dari pelaku pasar harus berubah positif,” tambahnya.

Saham yang tidak bisa melepaskan diri dari area oversold adalah PT Resource Alam Indonesia Tbk. Sementara pergerakan saham-saham tambang yang sebagian besar masih di area ini antara lain PT Bumi Resources Tbk, PT Medco Energi International Tbk, dan PT Energy Mega Persada Tbk.

Sedangkan saham emiten yang masih stabil adalah PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk. “Saham PT Adaro Energy Tbk dan PT Harum Energy Tbk masih berada di area konsolidasi batas tengah karena sedang mencari waktu kenaikan jangka panjang,” jelas Reza.

Reza memprediksi pergerakan saham-saham tambang pada kuartal IV 2012, tergantung dari sentimen global dan keadaan di pasar bursa dalam negeri. “Kalau sentimen global sudah mereda di akhir tahun, biasanya ada tren kenaikan harga saham. Nah, harga saham-saham pertambangan, khususnya batu bara, ikut akan naik,” tandas dia.

Masih Menjanjikan

Di tempat terpisah, Lektor FE Universitas Pancasila Agus S Irfani mengatakan, yang mendasari anjloknya harga batubara disebabkan karena masalah harga saja. Artinya, pasokan berlebih, sementara permintaan berkurang.

Dia menerangkan, harga acuan batubara sejak Maret 2012 terus menurun, yakni US$112,87 MT, April US$106,67 MT, Mei US$102,12 MT, Juni US$96,65 MT, Juli US$87,56 MT, serta Agustus US$84,75 MT. “Sebenarnya, emiten-emiten batu bara itu masih menjanjikan. Terutama saham Bumi Resources masih cukup potensial untuk bangkit. Meskipun mereka masih disibukkan masalah internal,” ujarnya, kemarin.

Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini hampir seluruh emiten batubara kinerjanya menurun. Sebut saja, PT Bukit Asam Tbk turun 3%, PT Indika Energy Tbk tergerus 56%, PT Atlas Resources Tbk bahkan anjlok 64%. Sementara PT Bumi Resources Tbk merugi Rp3 triliun, namun PT Garda Tujuh Buana Tbk mendapatkan laba sebesar Rp1 triliun.

Selain itu, dirinya menyarankan kepada para investor untuk bersabar dan tidak menjadi investor jangka pendek yang hanya mengejar profit taking. Agus melanjutkan, faktor krisis Eropa juga menentukan harga batu bara. Pasalnya, pasar potensial untuk batu bara adalah negara-negara Benua Biru tersebut.

Untuk itu, ada baiknya perusahaan tambang memiliki tujuan ekspor ke negara lainnya, selain Eropa. “Prediksi saya, dalam waktu 1-2 bulan ke depan ada recovery harga batu bara. Bulan Oktober nanti, harga batu bara diperkirakan bisa mencapai US$90 MT karena permintaan China meningkat 57%,” tegasnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM, Rudi Rubiandini menuturkan, jika harga batubara terus turun dan menyentuh harga di bawah US$60 MT, maka akan mengancam kelangsungan perusahaan pertambangan batubara.

"Kalau harga batu bara terus turun, apalagi sampai di bawah US$60 per ton, itu bisa membuat perusahaan tambang batubara "harakiri" (bunuh diri)," terangnya. Dikatakan Rudi, harga batubara di bawah US$60 MT ini dinilai terlalu rendah dan tidak ekonomis lagi bagi perusahaan tambang.

Menurut dia, harga batubara paling bagus beberapa bulan lalu mencapai US$126 MT. Namun sekarang, terus turun hingga menyentuh angka US$85 MT. Penurunan ini juga telah membuat pengusaha tambang batu bara sedikit panik.

Untuk itu, dengan harga batu bara saat ini berkisar US$85 MT, Rudi menyarankan agar perusahaan tambang batu bara melakukan reorganiasasi perusahaannya dengan cara meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM).

"Saat ini lakukan dulu reorganisasi perusahaannya, seperti peningkatan kualitas SDM pegawainya seperti menyekolahkan lagi pegawainya dan lainnya. Namun, jika harga sudah mendekati US$60 per ton, maka segera melakukan efesiensi perusahaan," pungkasnya. ria/ahmad/ardi