Tren Emiten Properti Garap Bisnis Kawasan Industri

Kamis, 13/09/2012

NERACA

Jakarta – Banyaknya perusahaan asing mendirikan pabrik di Indonesia dan juga perdagangan dalam negeri, membuat permintaan kawasan industri juga menaik tajam. Kabar ini menjadi peluang bagi emiten properti menggarap kawasan industri sebagai bisnis baru disamping menggarap proyek hotel, apartemen, mal ataupun perkantoran.

Head of Retail and Strategic Consulting Jones Lang LaSalle, Vivin Harsanto mengatakan, prospek bisnis kawasan industri masih menjanjikan hingga dua tahun mendatang. Kenaikan harga tanah kawasan industri tercatat paling tinggi dibandingkan jenis properti lain, “Banyak industri yang ingin masuk di sektor otomotif atau consumer goods. Lahan yang mereka cari cukup luas mencapai 15-20 ha. Bahkan otomotif bisa lebih besar sekitar 100 ha,"katanya.

Dia juga menyebutkan, semakin banyak pengembang ekspansi di kawasan industri baik perluasan lahan atau mencari lokasi baru. Minat dari pelaku industri masih tinggi, khususnya sektor otomotif dan produk-produk konsumsi.

Tengok saja PT Intiland Development Tbk yang berencana mengembangkan kawasan industri baru di Jawa Timur (Jatim) dengan mengakuisisi lahan sekitar 500-1.000 hektare (ha). Direktur Utama Intiland Hendro Gondokusumo mengatakan, pihaknya tengah mengincar lahan skala besar di sebuah kota di Jatim. “Dananya untuk akuisisi belum bisa diungkapkan karena khawatir terjadi kenaikan harga yang pesat. Namun, kami optimistis bisa menyelesaikan negosiasi tahun depan,” ujar.

Prospek Pasar

Dia menjelaskan, pengembangan kawasan industri baru di Jatim memiliki potensi yang besar, seiring meningkatnya aktivitas relokasi dan ekspansi perusahaan. Di kawasan industri Ngoro Industrial Park (NIP) di Mojokerto, misalnya, permintaannya naik tajam. Proyek yang dikembangkan Intiland tersebut bahkan siap menambah lahan baru untuk perluasan NIP 3.

Langkah yang sama juga dilakukan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN). Perseroan menyatakan, sektor ini makin menjanjikan Karawang pun menjadi pilihan APLN karena belum banyak pengembang masuk.

Direktur Marketing APLN, Indra W. Antono menegaskan, Karawang diprediksi menjadi kawasan industri baru sebagai pelengkap Cikarang, Bekasi dan Tambun. Terlebih adanya rencana pemerintah untuk membangun bandara serta pelabuhan peti kemas baru di Karawang. "Di Karawang karena ada peluang. Nanti industri yang ada di sana akan mix, bisa industri berat dan ringan. Kita ini membaca peluang," tuturnya.

Selain pembangunan kawasan, Agung Podomoro juga berniat menghadirkan kawasan hunian sebagai kebutuhan pelengkap para pekerja. Tidak mau kalah, anak usaha PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) yaitu PT Bakrie Ecoinvesta akan mengajak mitra strategis asing berasal dari China untuk mengembangkan kawasan industri di Kalimantan. "Kami sedang mencari mitra strategis, salah satunya dari China," ujar Mantan Direktur Utama ELTY yang akan memimpin PT Bakrie Ecoinvesta, Hiramsyah Thaib.

Lebih lanjut dia menuturkan, pihaknya akan menjelaskan lebih detil untuk pengembangan kawasan industri tersebut pada bulan depan. Grup Bakrie, melalui anak usahanya akan membangun lima kawasan industri di lima provinsi. Kelima kawasan industri itu di Sumatra, dua di Jawa, satu di Kalimantan, dan satu di timur Indonesia. Salah satu kawasan yang sudah siap di Kalimantan Timur. Perseroan akan membangun kawasan industri bernama Trans Kalimantan Economic Zone dengan nilai investasi lebih dari Rp10 triliun di lahan seluas 30 ribu hektar.

Pembangunan Jaya Ancol

Sementara PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) yang selama ini bisnis utama di hiburan, mencoba keuntungan menggarap bisnis pembangunan kawasan industri untuk menambah portofolio bisnis.

Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi mengatakan, pihaknya bakal mengembangkan kawasan industri dengan jenis industri ringan seperti elektronika. "Ini memang ekspansi pertama kita ke kawasan industri. Dengan lokasi di Marunda, lebih pas untuk industri yang light atau ringan," ujarnya,

Dia mengungkapkan, ekspansi ini merupakan bagian dari rencana perseroan jangka menengah. PJAA bakal memulai proyek ini pada akhir tahun 2013 mendatang. Saat ini, progres proyek sedang melakukan pematangan studi perencanaan.

Budi mengungkapkan, di lokasi itu bakal dilengkapi dengan pelabuhan dan pergudangan. Proyek ini juga diakuinya seiring dengan momentum pertumbuhan ekonomi dan tengah dipacunya pembangunan infrastruktur di Tanah Air. PT Kawasan Ekonomi Khusus Marunda (KEK Marunda) sendiri merupakan perusahaan patungan yang dibentuk PJAA dengan PT Jakarta Propertindo dengan PT Pembangunan Jaya. Dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor dalam PT KEK, perseroan mengambil saham sebesar 25%, PT Jakarta Propertindo 25%, dan PT Pembangunan Jaya 50%.

Nilai investasi proyek tersebut, lanjut Budi mencapai Rp 3 triliun. Pendanaan bakal dibagi sebesar 30% dari ekuitas masing-masing perusahaan dan 70% dari pinjaman. Dengan demikian, porsi ekuitas 600 miliar dan dengan nilai saham Ancol 25%, maka modal yang harus disetor oleh perseroan sebesar 150 miliar rupiah. (bani)