Mutiara Bisa Dibeli Lewat Obligasi Rekapitulasi

Kamis, 13/09/2012

NERACA

Jakarta---Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pemilik 99% saham Bank Mutiara menyatakan tidak mempermasalahkan dengan rencana pembelian Bank Mutiara menggunakan dana obligasi rekapitalisasi pemerintah yang ada di perbankan. "Kami terbuka dengan semua opsi pembelian termasuk dengan obligasi rekapitalisasi,” kata Sekretaris Perusahaan LPS Samsu Adi Nugroho di Jakarta, Rabu.

Lebih jauh kata Samsu, LPS akan berpegang dalam Undang-Undang. Apalagi tak ada aturan yang melarang ataupun membatasi masalah pembelian melalui cara tersebut. “Karena dalam undang-undang LPS, penjualan bank tidak dibatasi harus menggunakan uang tunai," ungkapnya

Menurut Samsu, tugas LPS adalah berusaha memenuhi ketentuan undang-undang yang menyebutkan harga penjualan Bank Mutiara harus sesuai dengan dana talangan pemerintah. "Kepentingan LPS adalah amanat undang-undang ini terpenuhi, namun kan harus ada proses 'due diligence' terhadap calon pembelinya sesuai persyaratan yang ditentukan LPS dan Bank Indonesia," katanya.

Pembelian dengan obligasi rekapitalisasi, menurutnya juga bukan wacana baru karena sejak awal sudah pernah dimunculkan dalam proses penjualan Bank Mutiara sejak dua tahun lalu. "Kita memang sudah melihat opsi itu, karena dana talangan Pemerintah ke Bank Mutiara pun juga tidak semuanya tunai, tetapi ada obligasi pemerintah juga sekitar Rp2 triliun - Rp4 triliun," katanya.

Berdasarkan kinerjanya yang terus membaik sejak berganti nama dari Bank Century menjadi Bank Mutiara, menurut Samsu nilai pasar Bank Mutiara bisa mencapai tiga kali dari ekuitasnya saat ini.

Ekuitas Bank Mutiara sampai Juli 2012 sebesar Rp1,108 triliun dan diperkirakan akan meningkat menjadi Rp1,136 triliun pada akhir tahun. Sementara total aset sampai Juli sudah mencapai Rp13,95 triliun dengan target akhir tahun RP14,78 triliun.

Berdasarkan Rencana Bisnis Bank yang dipaparkan manajemen Bank Mutiara belum lama ini, hingga akhir 2013, ekuitas perseroan diprediksi bisa mencapai Rp1,5 triliun. Peningkatan ekuitas itu ditopang oleh prediksi laba bersih perseroan pada akhir 2012, yang diprediksi sebesar Rp180 miliar dan pada akhir 2013 diperkirakan sebesar Rp260 miliar.

Begitu pula dengan aset Bank Mutiara pada akhir 2013, ditargetkan mencapai Rp20 triliun, yang diantaranya akan ditopang oleh pertumbuhan pengucuran kredit sepanjang tahun depan yang ditargetkan mencapai Rp3 triliun.

Dengan total ekuitas dan aset sebesar itu, Bank Mutiara memiliki room yang besar untuk meningkatkan ekspansi dan kinerja bisnisnya termasuk melakukan pencadangan dalam menjaga tingkat kesehatan bank. Hal itu sesuai dengan rencana manajemen Bank Mutiara yang fokus menggarap segmen UMKM.

Pembelian Bank Mutiara menggunakan dana dari penjualan Obligasi Rekapitalisasi oleh sejumlah bank juga mendapat dukungan wakil Ketua Komisi XI DPR RI Harry Azhar Azis. "Ada usul menggunakan dana hasil penjualan untuk beli Bank Mutiara. Seperti yang telah dilakukan Bank Mandiri. Jadi semangatnya bank BUMN membantu proses divestasi Bank Mutiara," ujarnya

Pembelian dengan obligasi rekapitalisasi ini tentunya akan menguntungkan pemerintah, karena bisa menjual Bank Mutiara sesuai harga yang disyaratkan DPR, sebesar Rp6,7 triliun. Selain itu, pembelian Bank Mutiara menggunakan obligasi rekap juga dapat mengurangi beban bunga obligasi yang harus dibayar Pemerintah. **ria/cahyo