Sentimen Global Picu Harga Emas Bergerak Konsolidatif

Kamis, 13/09/2012

NERACA

Jakarta – Terus meningkatnya harga emas masih ada ruang dan bahkan harga emas diperkirakan masih bergerak dalam kisaran terbatas sambil menunggu dua event penting yang akan di umumkan hasilnya akhir pekan ini.

Head of Research and Analysis PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan, emas berpotensi menguat sepanjang logam mulia ini masih berada di atas 1.724 dolar AS per troy ons. "Resisten berada di kisaran US$ 1.742 per troy ons. Bias sementara masih 'bullish',"kata Ariston dalam risetnya di Jakarta, Rabu (12/9).

Dia juga menjelaskan bahwa pergerakan konsolidatif terjadi karena pasar masih menunggu dua event penting, yakni keputusan mahkamah konstitusi Jerman terkait persetujuan terhadap aktivasi lembaga bailout permanen Eropa (ESM European Stability Mechanism) pada Rabu dan hasil rapat moneter US Federal Reserve, Kamis 13 September. Di mana pasar menantikan apakah Fed memutuskan kebijakan pelonggaran kuantitatif atau tidak.

Kedua event tersebut, katanya, akan menjadi "market mover" dan penentu arah pergerakan emas selanjutnya. "Berita positif dari keduanya bisa mengangkat emas mendekati 1.800 dan bila sebaliknya maka emas akan kembali ke area 1.650-an," ungkapnya.

Sementara itu, emas ditutup menguat Selasa (11/9) menjelang pengumuman mengenai kemungkinan program pembelian obligasi (stimulus) oleh U.S. Federal Reserve pekan ini dan juga karena adanya peringatan bahwa AS berpotensi mengalami penurunan peringkat utangnya.

Emas untuk pengiriman Desember menguat US$ 3,10 atau 0,2% menjadi US$ 1.734,90 per troy ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange.

Kemudian melemahnya dolar AS juga ikut memberikan dorongan kekuatan bagi emas. Dolar AS merosot tajam setelah Moody’s Investors Service memperingatkan bahwa AS berisiko mengalami penurunan peringkat utangnya tahun depan yang kini di level "AAA". Indeks dolar turun menjadi 79,855, dari sehari sebelumnya 80,408.

Pada perdagangan Senin (10/9), emas melemah namun mencatat penguatan tajam pekan lalu menyusul data tenaga kerja yang lebih rendah dari perkiraaan, sehingga memicu ekspektasi the Fed akan meluncurkan kebijakan pelonggaran moneter tahap berikutnya dalam pertemuannya pekan ini.

Sebelumnya, Marketing Manager Logam Mulia Refinery Bussiness PT Aneka Tambang, Bambang Wijanarko menuturkan, minat investasi masyarakat dalam bentuk emas atau logam mulia terus meningkat seiring dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cenderung bergerak melemah, “Beberapa hari ini harga emas mengalami peningkatan, naiknya harga emas dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar AS,"ujarnya.

Dia menuturkan, rata-rata pembelian emas ritel di PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebanyak 10-12 kilogram (kg) per hari. Sementara per Agustus total penjualan sebanyak 500-600 kg, sedangkan pada bulan sebelumnya hanya mencapai sekitar 300 kg.

Dia juga menambahkan, harga emas Rabu (5/9) sebesar Rp523.000 per gram atau meningkat sebesar 4,6% dibanding per 23 Agustus atau setelah Hari Raya Lebaran lalu yang senilai Rp500.000. "Harga kami bisa dicek langsung ke harga emas di LME (London Metal Exchange) atau harga pasar spot yang bergerak 24 jam, kemudian dikonversi ke gram dan rupiah," ujar Bambang.

Sejak 2010, lanjut Bambang, penjualan emas kepada masyarakat terus mengalami peningkatan. Pada dua tahun lalu tercatat sebanyak tiga ton terjual ke masyarakat, kemudian pada berikutnya terjadi peningkatan sebesar 100% menjadi enam ton.

Sementara di sepanjang semester I 2012 emas terjual sebanyak 3,6 ton dengan harga rata-rata Rp490.000 per gram. "Masyarakat lambat laun sudah mulai sadar berinvestasi dalam bentuk emas, hal itu dikarenakan emas dapat dijadikan 'hedging' (lindung nilai) di tengah kondisi ekonomi yang cenderung bergerak melambat," ujar dia.

Sementara Staff Marketing Yuki Yuwono menambahkan, mulai maraknya masyarakat investasi dalam bentuk emas dipicu dari terus meningkatnya harga emas dunia. (bani)