Pengembangan IKM Bakal Fokus Pada Tiga Sektor

Kamis, 13/09/2012

NERACA

Jakarta – Industri Kecil dan Menengah (IKM) akan memfokuskan diri pada pengembangan industri makanan, fesyen dan printing (percetakan) di 2013 serta mengalokasikan dana sekitar Rp 150 miliar. Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah mengungkapkan dari rencana pengembangan ini, untuk mendorong perekonomian berbasis kerakyatan yang semuanya mengarah ke IKM.

"Tahun depan akan tambahan Rp 150 miliar. Itu akan kita coba pilih program prioritas yang paling cepat bisa mendorong kegiatan usaha IKM. Makanya sekarang sedang di evaluasi," katanya usai melakukan rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta, Rabu (12/9).

Euis mengatakan dipilihnya tiga program tersebut bukan tanpa alasan. Tiga industri tersebut memiliki prospek. "Coba kita lihat sekarang berbagai daerah sudah menggunakan digital printing. Oleh karena itu kita akan coba industri printing. Kita angkat karena printing itu ada mesin ada prosedur mengoperasikan dan pasar nya juga jelas," kata dia.

Adanya tambahan anggaran diharapkan, pertumbuhan IKM pada tahun akan naik sekurangnya 1% dari tahun 2012. Pemerintah menaikkan anggaran sampai 70%. "Kalau rata rata sekarang pertumbuhan 5%, paling tidak naik 1% jadi 6%. Yakin optimis bisa. Anggaran tahun ini menjadi Rp 390 miliar," katanya.

Industri Unggulan

Beberapa waktu lalu, Menteri Perindustrian M S. Hidayat akan fokus untuk mengembangkan beberapa industri unggulan diantaranya industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki/sepatu, telematika, pengolahan rotan, komponen otomotif, makanan minuman, dan industri kreatif.

Sebagian besar merupakan industri kecil menengah (IKM) yang masih mengalami berbagai kendala, antara lain lemahnya daya saing produk IKM karena mutunya yang belum memadai, desain yang belum berorientasi pasar, ketersediaan bahan baku kurang terjamin, lemahnya akses terhadap permodalan dan pemasaran, serta rendahnya kemampuan manajemen dan teknologi.

“Untuk itu, pemerintah terus berupaya mengatasi permasalahan sektor industri melalui program-program untuk meningkatkan daya saing industri, antara lain meningkatkan kemampuan SDM, kualitas dan disain produk melalui pelatihan, meningkatkan teknologi melalui restrukturisasi mesin peralatan, meningkatkan pemasaran melalui fasilitasi keikutsertaan pengusaha dalam pameran di dalam dan luar negeri, memfasilitasi bantuan permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), memberikan fasilitas tax holiday, tax allowance, BMDTP serta kegiatan-kegiatan lainnya,” tutur Menperin.

Khusus untuk meningkatkan teknologi, Kemenperin melaksanakan Program Restrukturisasi Industri TPT dan Kulit Produk Kulit (KPK) melalui bantuan potongan harga maupun bantuan langsung kepada kelompok usaha bersama IKM. Mantan ketua kadin ini, mengharapkan para pelaku industri dapat memanfaatkan mesin peralatan bantuan Kemenperin itu secara optimal terutama untuk meningkatkan kembali daya saing dan produktivitas industrinya.

Program Restrukturisasi Industri TPT dan KPK juga dimaksudkan untuk mendukung industri kreatif fashion di Indonesia, sebagai lokomotif penggerak industri tekstil dan industri alas kaki. Industri kreatif fashion termasuk salah satu industri yang cukup berkembang di Jawa Barat, antara lain produk-produk Distro dan produk busana muslim.

Industri kreatif yang umumnya merupakan IKM telah menunjukkan peningkatan inovasi, dikarenakan meningkatnya kolaborasi antara desainer, pengrajin, dan pemroses. Keunikan budaya yang dipadukan dengan sentuhan teknologi telah menghasilkan produk fashion yang berkarya tinggi, dalam bentuk motif tradisional yang diperbarui tanpa menghilangkan pola baku yang dianut. Hal ini tentu menjadi keunggulan industri kreatif bidang fashion kita yang harus dipromosikan.