Bekasi Perkirakan Urbanisasi Turun

NERACA

Sudah menjadi tradisi di Indonesia ketika Lebaran tiba maka akan ada siklus tahunan yang sangat besar yaitu mudik Lebaran. Banyak cerita sukses dari ibukota yang dibawa pulang kampung sehingga membius pendengarnya ikut mengikuti sukses saudara sekampungnya di ibukota.

Namun tak seperti di daerah penyangga DKI lainnya, pejabat di Bekasi memperkirakan urbanisasi pada tahun ini justru menurun.

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bekasi, Jawa Barat, memprediksi arus urbanisasi pascaperayaan Idul Fitri 1433 H menurun bila dibandingkan kondisi yang sama tahun lalu.

"Tak mungkin kami merekayasanya dengan melarang pendatang masuk ke Kota Bekasi. Itu sama saja dengan pelanggaran hak asasi manusia," kata Kepala Bidang Perkembangan, Proyeksi, dan Penyerasian Kebijakan Penduduk Disdukcapil Kota Bekasi Yuyu Mulyati, di Bekasi, Kamis.

Menurut dia, laju urbanisasi pada tahun ini diperkirakan sekitar satu persen dari jumlah penduduk warga Kota Bekasi, yakni sekitar 230.000 jiwa. Penurunan laju tersebut dilatarbelakangi tren selama tiga tahun terakhir.

Pada tahun 2009, kata dia, laju urbanisasi sekitar tiga persen dan menurun menjadi 1,7 persen pada tahun berikutnya. Kemudian pada tahun 2011, laju urbanisasi kembali turun menjadi 1,5 persen, hingga akhirnya tahun ini diprediksi hanya sekitar satu persen.

Menurut dia, terdapat banyak faktor yang membuat laju urbanisasi tersebut diprediksi menurun. Contohnya, antara lain makin terbatasnya area permukiman hingga membuat harganya mahal.

"Lapangan kerja pun makin berkurang, sehingga risiko menjadi pengangguran di kota pun lebih tinggi," katanya.

Pemerintah Kota Bekasi, Kata dia, sama sekali tidak melarang kehadiran pendatang baru di wilayahnya. Namun dengan catatan, mereka memiliki keterampilan dan kemampuan untuk bekerja.

"Tanpa memiliki kemampuan, orang-orang demikian hanya akan menjadi beban tambahan bagi Pemerintah Kota Bekasi karena hanya berakhir sebagai pengangguran dan ujung-ujungnya mengemis," katanya.

Semakin Menjadi

Laju urbanisasi ke kota metropolitan, seperti Makassar dan sejumlah kota besar di Indonesia semakin menjadi. Kota-kota besar memiliki magnet yang kuat untuk menarik orang datang beraktivitas di sana.

"Kota besar dianggap bisa memberi nilai rupiah dan manfaat beda di daerah," terang Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, Selasa (28/8).

Ilham mengaku, bisa jadi hal tersebut juga merupakan kegagalan otonomi daerah. Kabupaten/kota tidak mampu memberikan lapangan kerja yang diminati atau dibutuhkan warganya. "Yang saya lihat, di daerah lapangan kerja yang ada lebih pada sektor pertanian, tidak ada pada sektor industri. Kalaupun ada, itu relatif sedikit. Sementara di kota besar menjanjikan itu semua," tegas Ilham.

Ditegaskan Ilham, yang dibutuhkan kabupaten/kota agar penduduknya tidak berpindah, yaitu mereka harus lebih kreatif menekan dan mengerem laju orang melakukan urban dengan menyajikan lapangan kerja sesuai dengan keinginan.

Ditambahkannya, Makassar sendiri, mengalami problem pertambahan penduduk setiap tahunnya. Terjadi pertambahan 7-10 persen akibat laju urbanisasi. Ini mengakibatkan menjadi angka kerawanan sosial, karena Makassar punya ruang pemukiman terbatas.

"Inilah yang kemudian dibenahi setiap tahunnya, pemukiman kumuh terus dibenahi, karena terus bertambahnya laju urbanisasi utamanya pascalebaran," tambahnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan penduduk, terang Ilham, tahun ini dilakukan kembali operasi yustisi untuk memperbaiki administrasi kependudukan di Makassar. (agus/dbs)

Related posts