Sejarah Awal Urbanisasi di Jawa

NERACA

Terjadinya peningkatan populasi di Pulau Jawa pertama kali disurvei oleh Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Bingley Raffles yakni 4,5 juta, kemudian pada 1900 disurvei lagi dengan jumlah penduduk mencapai 30 juta jiwa.

Dari survei itu dapat diketahui terjadinya ledakan penduduk. Ledakan penduduk yang oleh Jan Wissman Christie ditulis dalam artikelnya State Without Cities: Demographic Trends in Early Java, tidak mencakup seluruh wilayah Pulau Jawa, namun hanya meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Christie melihat tentang distribusi populasi di Pulau Jawa yang berbeda. Distribusi populasi meliputi wilayah di daerah-daerah perkebunan swasta (partikelir), dan faktor-faktor yang menyebabkan urbanisasi.

Reid mengatakan bahwa populasi yang terjadi di tanah-tanah partikelir di Jawa Tengah dan Jawa Timur akibat dari struktur ekonomi kolonial. Struktur ini dibangun oleh kolonialisme di Asia Tenggara pada abad ke-16 dan abad ke-17.Hal itu disebabkan Asia Tenggara sudah menjadi daerah urbanisasi global. Tetapi Christie berpendapat bahwa pola pertumbuhan dan populasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah terjadi sebelum masa kolonial.

Menurut data arkeologis, Jawa telah melakukan perdagangan barang tambang pada abad ke-3 Sebelum Masehi dengan daerah di sebelah utara Vietnam. Pada masa perdagangan Pulau Jawa memiliki peranan penting sebagai daerah “Indianisasi”.

Kemudian data yang diambil dari demografi Jawa sendiri memiliki potensi sebagai pengekspor tembaga, piring, dan batu sebagai sumber ekonomi masyarakat Jawa.

Dalam artikel Christie yang diterbitkan oleh Southeast Asia Program Publications at Cornell University membagi dalam beberapa pokok bahasan.

Pada abad ke-9 sampai abad ke-14 manusia Jawa tinggal di daerah yang subur terutama dekat dengan gunung berapi dan delta sungai.

Sebelum tahun 929 M dominasi kerajaan terletak di daerah Gunung Merapi di Jawa Tengah, kemudian akibat serangan dari Sriwijaya, kekuasaan politik dipindahkan ke timur di delta Sungai Brantas. Pusat kekuasaan yang berada di delta sungai Brantas melahirkan kerajaan seperti Kediri, Singosari, dan Majapahit. (agus/dbs)

BERITA TERKAIT

Berikan Penghasilan Tambahan - Gojek Latih Ratusan Ibu-Ibu Muslimat NU Bogor

Guna meningkatkan daya saing Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta memberikan peluang pendapatan tambahan bagi kaum perempuan di Bogor,…

Optimalisasi Dana Bergulir - LPDB KUMKM Rekomendasikan Pembentukan BLUD dan Jamkrida

Optimalisasi Dana Bergulir LPDB KUMKM Rekomendasikan Pembentukan BLUD dan Jamkrida NERACA Tangerang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir - Koperasi, Usaha…

Reklamasi teluk, Solusi Jakarta menuju Global city

sukses Uni Emirat Arab  membangun Palm Island di lepas pantai kota dubai dengan gedung al burj, yang menjadi ikonnya. Banyak…

BERITA LAINNYA DI

Perintahkan Gubernur Jakarta Selesaikan Sodetan Ciliwung

Perintahkan Gubernur Jakarta Selesaikan Sodetan Ciliwung Presiden Joko Widodo memerintahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menyelesaikan pembebasan lahan di…

Normalisasi Sungai Butuh Relokasi Yang Tidak Merugikan

Normalisasi Sungai Butuh Relokasi Yang Tidak Merugikan Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gusti Ayu Surtiari mengatakan…

Wawasan Kultur: - Harus Jadi Pertimbangan Penanganan Banjir

Wawasan Kultur: Harus Jadi Pertimbangan Penanganan Banjir Wawasan kultur harus menjadi pertimbangan dalam usaha untuk menangani banjir yang terjadi di…