Otomotif, Bukan Jadi Penonton

Rabu, 12/09/2012

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Indonesia sekarang memiliki potensi pasar yang cukup besar dalam industri otomotif. Hal ini didukung dengan jumlah populasi masyarakat, membaiknya daya beli, iklim politik yang aman dan fundamental ekonomi yang positif. Sehingga tidak heran setiap tahun, banyak agen pemegang merek tunggal (ATPM) merilis produk teranyar mobil-mobil baru.

Selain itu, banyak pula perusahaan otomotif dunia mulai dari Jepang, Eropa, Korea, Malaysia hingga Cina silih berganti berdatangan ke Indonesia dengan menawarkan produk baru, hingga membuka pabrik. Bahkan yang terbaru, perusahaan otomotif ternama dari India, Tata Motors, ikutan nimbrung akan membangun pabrik di Indonesia pada 2013. Rencana perusahaan otomotif India yang sudah banyak melakukan ekspansi ke berbagai negara itu, siap meramaikan persaingan ketat dengan berbagai macam merek pabrikan mobil lainnya yang sudah ada di negeri ini.

Bila sudah demikian halnya, Indonesia hanya menjadi pasar empuk meraup keuntungan perusahaan asing dan dipaksa menjadi konsumtif hingga menjadi penonton dan bukan pemain. Kondisi ini satu sisi dinilai positif karena akan membuka lapangan kerja karena ada investasi modal asing masuk, tetapi di sisi lain akan merugikan negara dalam jangka panjang, karena mandul bersaing dalam kemandirian industri otomotif buatan dalam negeri.

Seharusnya Indonesia berani menghadirkan produk otomotif buatan negeri sendiri, sebagaimana yang telah dilakukan Malaysia dengan produk Proton maupun China dengan produk Chery-nya. Pada dasarnya, potensi bangsa ini memiliki perusahaan otomotif lokal ada dan besar. Hanya saja, dukungan pemerintah masih "setengah hati" dengan berbagai alasan soal infrastruktur, kualitas ataupun purna jual.

Sejatinya, berbagai kendala tersebut bukanlah masalah yang berarti bila semua pihak baik pemerintah, swasta dan BUMN sinergi bergandeng tangan. Karena pada dasarnya, produk baru memiliki banyak kekurangan dan seiring waktu bisa diperbaiki kualitasnya. Pasalnya, semua komponen industri otomotif Indonesia memiliki itu semua dan bila bicara teknologi hal tersebut bisa dibeli ataupun ditransfer dengan mengirim insiyur atau tenaga ahli belajar di negara maju.

Indonesia sebenarnya punya pengalaman dalam mengembangkan industri otomotif lokal dengan mobil nasional Timor dan belum lama ada mobil Esemka (SMK), hasil kreasi anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan di Solo, Jawa Tengah, yang dipopulerkan Wali Kota Solo Joko Widodo. Namun minimnya dukungan pemerintah dan kencangkan tarik menarik kepentingan memaksa impian memiliki mobil nasional pupus di tengah jalan.

Besarnya potensi pasar terhadap Mobnas harusnya bisa menggugah Kementerian Perindustrian untuk mulai serius mengembangkan mobil nasional yang berbasis buatan anak negeri. Bukan lagi mobil Jepang yang diakui sebagai mobil Indonesia. Bangsa ini layaknya harus memiliki kemandirian dalam ekonomi dan teknologi, termasuk di dalamnya memiliki mobil nasional buatan anak negeri.