Defisit Transaksi Berjalan Turunkan Kepercayaan Publik

GANGGU APBN DAN NILAI TUKAR RUPIAH

Rabu, 12/09/2012

Jakarta—Defisit transaksi berjalan yang makin lebar dinilai cukup mengkhawatirkan banyak pihak. Meski Bank Indonesia (BI) memprediksi akhir 2012 bisa berkurang dari 3,1% menjadi 2,4%. Namun defisit transaksi berjalan ini berdampak negatif ke banyak lini, termasuk menggerus cadangan devisa dan menurunkan nilai tukar rupiah. “Bahkan mengganggu APBN yang pada akhirnya membuat kepercayaan publik kepada pemerintah menurun,"” kata peneliti Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika.

NERACA

Guru Besar FE Unibraw itu mengakui, masalah kepercayaan publik ini tak boleh dianggap remeh. Karena bukan hanya menyangkut kepentingan domestik, tapi juga terkait publik internasional. “Ini kepercayaan publik, baik domestik maupun internasional menyangkut terhadap kinerja ekonomi Indonesia,” tegas Erani kepada Neraca, Selasa (11/9).

Karena itu, menurut dia, pemerintah harus bisa mengatasi defisit ini dalam beberapa bulan ke depan ini. “Sebelum melebar ke mana-mana, pemerintah harus segera mengambil langkah jangka pendek dan angka panjang. Dalam jangka panjang, harus ada upaya memperbaiki struktur ekonomi, dengan berfokus pada industri domestik,” tambahnya

Bahkan Erani menyarankan agar defisit ini harus diatasi dengan memperbaiki struktur ekonomi dan merevisi kebijakan industry. Hal ini agar produk ekspor tak tergantung lagi pada bahan impor, serta mempunyai nilai tambah. “Dalam jangka pendek, defisit ini harus diatasi dengan diversifikasi ekspor,” ujarnya

Erani juga menerangkan, defisit perdagangan bisa tidak berlanjut jika Indonesia mulai mencari peluang pasar ekspor yang baru. “Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus segera mencari jalan keluar dengan mencari pasar baru seperti negara-negara di Afrika, agar defisit perdagangan bisa disetop,” imbuhnya

Hal yang sama dikatakan ekonom kepala Bank Danamon, Anton Gunawan, yang menilai defisit transaksi berjalan (current account deficit) yang cukup besar ini memang menjadi kekhawatiran internasional, termasuk investor asing. “Di sini yang khawatir investor asing. Kalau besarnya (current account deficit) 3%, persepsinya menjadi buruk. Apalagi kalau sampai di atas 3%. Itu sudah sangat berbahaya,” ungkapnya

Anton tak membantah pertumbuhan ekonomi meningkat. Tapi impor juga ikut melonjak. Mayoritas dari barang impor ini adalah bahan baku mentah (raw materials) dan barang modal seperti telepon seluler dan komputer jinjing (laptop). “Seharusnya pemerintah mendorong industri manufaktur dalam negeri untuk maju. Jadi kita tidak kebanyakan impor. Impor wajib dibatasi,” urainya

Diakui Anton, pertumbuhan ekonomi Indonesia bagus. Namun faktanya perekonomian Indonesia juga banyak kelemahannya. “Sejak Orde Baru sektor manufaktur tidak terlalu berkembang. Sektor primer seperti tambang dan migas, masih menjadi primadona sampai sekarang,” paparnya

Secara terpisah, ekonom Dr. Rizal Ramli juga mengakui pendapatan ekonomi bruto (GDP) sejatinya tidak merepresentasikan kesejahteraan rakyat secara riil. ”Parameter yang tepat dalam mengukur kesejahteraan adalah Human Development Index (HDI). Apabila angka-angka indikator ini bagus maka baru bisa disebut negara berhasil membangun ekonomi dan mensejahterakan rakyatnya,” jelasnya.

Namun sayangnya, kata Rizal, pemerintah gagal memanfaatkan potensi itu. Begitu pula gagal ciptakan manuver yang dapat menyakinkan kalangan usaha kelas dunia.”Indonesia memiliki potensi besar. Tetapi dikarenakan kepemimpinan yang lemah dan tidak bagus, serta permisif terhadap korupsi, Indonesia kehilangan kesempatan untuk menjadi negara yang makmur,” jelasnya.

Yang jelas, ekonom Cide, Umar Juoro, berpendapat Indonesia belum terjebak middle income trap. Karena pertumbuhan ekonominya masih tinggi. ”Peluang kita masih terbuka, tapi memang keadaan global masih menurun. Cina juga masih terhambat kan untuk jadi negara maju karena pertumbuhannya melambat,” katanya.

Yang harus dikuatkan, ujar Umar, adalah transaksi berjalan dan investasi luar negeri harus lebih selektif. ”Batasi impor minyak, kemudian investasi didorong ke sektor migas, maka kita akan bisa memenuhi sendiri tanpa harus impor. Investasi kita memang naik, namun kebanyakan hanya memanfaatkan pasar dalam negeri, dan ini berarti import content-nya tinggi. Maka PMA memang harus selektif lalu diarahkan ke migas dan infrastruktur,” tuturnya.

Lebih jauh kata Umar, arus kapital juga masih akan mempengaruhi. ”Capital outflow berpengaruh, kalau defisit neraca terus berjalan, maka rupiah akan terus terdepresiasi,” tegasnya

Sementara itu, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Prof. Firmanzah PhD., mengungkapkan pemerintah menerapkan keep buying strategy dengan tujuan menjaga tingkat inflasi dan menjalankan serta mengembangkan program pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Di samping itu, melakukan perbaikan penyerapan anggaran. “Keep buying strategy akan terus dilakukan. Strategi ini akan membuat masyarakat mampu untuk terus berakses ke produk dan jasa seperti kredit usaha rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan stimulus fiskal, selain menjaga inflasi,” ujarnya

Namun demikian, guru besar FEUI itu mengakui penerapan keep buying strategy ini menyebabkan supply side menjadi turun. Karena sektor produksi kurang berjalan. Dengan demikian, kran impor pun dibuka sehingga menjadi tinggi.

Tak hanya itu saja, Firmanzah juga menjelaskan, melalui Perpres 71/2012 tentang Pengadaan Lahan untuk Fasilitas Umum, nantinya masyarakat tidak hanya menerima dalam bentuk uang atau tanah, tetapi juga berhak atas kepemilikan aset. “Nantinya, program public private partnership (PPP) akan berlanjut (sustainable) dan menjadi public private people partnership, sehingga tidak jual putus,” tambahnya.

Selain itu, dirinya juga optimis target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8% sebagai salah satu asumsi makro ekonomi dalam RAPBN 2013 bisa tercapai. Bahkan Investasi dan konsumsi domestik tetap menjadi motor penyumbang pertumbuhan tersebut. “Kita berharap bisa mencapai 6,8% tahun depan. Investasi dan konsumsi domestik akan menjadi motor penyumbang pertumbuhan,” ujarnya. ardhi/iwan/ria/mohar/cahyo