Persaingan Pasar Ban di Indonesia Makin Sengit

Rabu, 12/09/2012

NERACA

Jakarta – Industri otomotif dalam negeri nampaknya sedang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Ini terlihat dari persaingan pasar ban nasional semakin ketat lantaran banyak produsen ban Internasional seperti Hankook dan Pirelli yang menyerbu pasar ban domestik. Hankook bahkan telah membangun pabrik di Indonesia.

General Manager Marketing PT. Gajah Tunggal Arijanto Notorahardjo mengatakan pesaingan ban akan semakin sengit di Indonesia dan perusahaan akan terus meluncurkan produk-produk ban yang berkualitas dan bernilai tinggi dengan harga yang kompetitif. "Serbuan produsen ban asing akan membuat pasar ban semakin atraktif dan harga akan semakin kompetitif," katanya di Jakarta pada Selasa (11/9).

Arijanto mengatakan pasar ban Indonesia menjadi magnet perusahaan-perusahaan ban asing lantaran penjualan mobil Indonesia terus meningkat dan pertumbuhan industri otomotif Indonesia semakin besar.

Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil Indonesia mencapai angka 894.164 unit pada tahun lalu. Gaikindo menargetkan angka penjualan mobil tahun ini tembus satu juta unit.

Saat ini PT. Gajah Tunggal menguasai pangsa pasar sekitar 26 persen setelah Bridgestone di urutan pertama dan Michelin di urutan kedua. Perusahaan memproduksi 45 ribu unit ban setiap harinya dan 15.5 juta ban pertahun.

Terus Meningkat

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia Azis Pane mengatakan industri ban di Indonesia diprediksi akan mengalami peningkatan. Menurut dia, industri ban di Indonesia bisa mencapai angka 5% pada semester II 2012 ini. “Kalau semester II ini bisa mencapai 5 % pertumbuhannya,” kata Aziz.

Azis mengatakan kinerja industri ban tahun ini cukup terpengaruh dengan pasar ekspor Indonesia. Menurut dia, pasar ekspor ban Indonesia pada tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Untuk pasar ekspor memang ada penurunan saat ini,” katanya.

Meski begitu, Azis mengatakan, kinerja industri ban tahun ini cukup baik di tengah pasar ekspor yang menurun. Kinerja industri ban disebutnya tertolong oleh pasar domestik yang cukup baik. “Ini karena permintaan pasar dalam negeri cukup baik,” katanya.

Dia mengatakan permintaan ban yang cukup tinggi itu karena pengaruh tingginya penjualan di sektor otomotif pada tahun lalu. “Jadi orang-orang yang beli mobil tahun lalu sekarang sudah harus ganti ban,” katanya.

Azis mengatakan industri ban bisa mencapai kinerja pertumbuhan yang cukup baik karena proses penggantian ban dari konsumen itu. “Industri ban itu jadi tertolong oleh faktor replacement dari konsumen,” katanya.

Hal itu, disebut Azis, terlihat dari kinerja industri ban pada semester I 2012 lalu. Dia mengatakan industri ban pada semester lalu bisa mencapai angka 4 %. “Padahal kami memprediksi industri ban pada semester lalu hanya 1 atau 2 % saja, tapi ternyata bisa 4%,” katanya.

Sekedar informasi paling kurang, tiga prinsipal ban dunia dan satu perusahaan gabungan lokal Indonesia berkomitmen segera malakukan investasi di Indonesia dengan total nilai 2,22 miliar dollar AS atau Rp 20,8 triliun pada semester pertama tahun ini.

Rincian investasi yang dikucurkan adalah dari Hankook Tire (Korea) yang memasuki tahap pertama membangun pabrik ban mobil di Cikarang dengan nilai US$ 353 juta. JK Tyres - prinsipal ban asal India - berniat mengakuisisi PT Mega Rubber di Jawa Tengah dengan aliran dana US$ 250 juta

Selanjutnya, Pirelli Tire SpA (Italia) bermitra dengan PT Astra International Tbk segera membangun pabrik ban sepeda motor senilai US$ 120 juta di Bekasi, Jawa Barat pada tahun ini. Tak ketinggalan, PT Karet Unggul Nusantara, perusahaan gabungan dari beberapa BUMN yakni PT Perkebunan Nusantara III (PT PN-III), PT PN-IX, PT PN-VII, PT PN-VIII dan PT PN-XII menyiapkan investasi US$ 400 juta untuk membangun pabrik ban sepeda motor berkapasitas 14 juta ban per tahun di Kawasan Industri Kujang, Cikampek, Jawa Barat.

Kondisi tersebut adalah gambaran industri komponen Indonesia menyambut pertumbuhan industri dan bisnis otomotif nasional ke penjualan satu juta unit. Sayang, kondisi di pertengahan bulan ini, juga muncul rintangan baru, pembatasan DP minimum 30%.