BTPN Optimis Bakal Kantongi Izin BI - Akuisisi Bank Sahabat

NERACA

Jakarta – Rencana PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) mengakusisi Bank Sahabat Purba Danarta masih menunggu izin dari Bank Indonesia (BI). Nantinya, setelah izin keluar bank Sahabat akan dijadikan bank umum syariah bagian dari bank milik Northstar Pacific dan Texas Pacific Group itu.

Direktur BTPN Anika Faisal mengatakan, pihaknya masih menunggu izinya dari Bank Indonesia dan berharap bisa direspon dan sinyal positif, “Kita akan terus mengikuti proses perijinan di BI hingga akhir dan berharap agar proses tersebut berjalan lancar. Kabarnya dalam waktu dekat ini akan keluar ijinnya,"katanya di Jakarta, Selasa (11/9).

Sementara, mengenai rencana injeksi modal dan pengembangan usaha terhadap Bank Sahabat Purba Danarta jika perijinan sudah keluar, Anika mengatakan hal itu masih dalam kajian manajemen BTPN. "Kami masih melakukan berbagai simulasi dan upaya untuk optimalisasi atas akuisisi ini, sambil menunggu keluarnya ijin," kata Anika.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Perbankan Syariah BI Edy Setiadi mengatakan permohonan BTPN untuk membuka bank umum syariah masih diproses di bagian pengawasan perbankan, dan diperkirakan bisa keluar sebelum akhir tahun ini. “Ijin sudah masuk permintaan ke BI yaitu di bagian pengawasan 1 atau 2. Nanti bentuknya bank umum syariah," ungkapnyaa.

Dia menambahkan, izin operasional bank umum syariah yang diminta BTPN bisa keluar tahun ini, karena dinilai memiliki business plan (rencana bisnis) yang jelas. Terlebih lagi, lanjutnya, BTPN telah memiliki unit usaha syariah (UUS).

Saat ini saham BTPN sebanyak 71,61% dimiliki oleh Texas Pacific Group (TPG), sementara masyarakat memiliki 27,39% dan PT. MKM 1%. Sedangkan kepemilikan saham Bank Sahabat Purba Danarta antara lain PT Triputra Persama Rahmat sejumlah 87,5%, Djoenaedi Joesfeof 12,4%, Kwik Kian Gie dan Frederik Bernard George Tumbuan masing-masing 0,1%.

Sebelumnya, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk juga akan melunasi pokok dan bunga obligasi perseroan I-2009 senilai Rp371,84 miliar. Pembayaran obligasi perseroan I-2009 seri A yang akan jatuh tempo pada 7 Oktober 2012. Kewajiban tersebut terdiri pelunasan pokok obligasi sebesar Rp350 miliar dan bunga sebesar Rp21,84 miliar.

Untuk bunga obligasi perincian masing-masing yaitu seri A sebesar Rp9,84 miliar dan seri B senilai Rp12 miliar. Dana untuk pembayaran saat ini telah ditempatkan perseroan pada term deposit Bank Indonesia dan sertifikat Bank Indonesia (SBI). (bani)

Related posts