Urbanisasi Setelah Lebaran

Sabtu, 15/09/2012

Oleh Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Hari-hari belakangan ini arus lalu lintas di DKI Jakarta terasa lebih padat daripada sebulan sebelum bulan Puasa. Hal itu dapat dimaklumi karena bersamaan dengan arus balik Lebaran 2012, banyak warga perdesaan yang ikut ”terbawa arus” ke kota-kota besar, termasuk ke Jakarta.

Mereka adalah warga perdesaan yang berpindah ke kota, karena di tempat asalnya mereka tidak mempunyai lapangan pekejaan yang layak untuk menopang kebutuhan hidupnya.

Apalagi dalam budaya konsumtif seperti sekarang, yang mengutamakan kepemilikan benda-benda mewah, membuat orang lebih suka untuk berurbanisasi ke kota besar. Kota besar seakan menjadi obsesi yang bisa menjawab segala mimpinya akan terpenuhinya kebutuhan hidup itu.

Di kota besar, ada pula glamour yang membuat mereka seperti laron yang melihat cahaya cemerlang di gelap malam. Berbeda dengan ketika mereka tinggal di kampungnya, hanya gelap dan sunyi saja yang menerkam.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkirakan arus urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota pasca Lebaran 2012 mencapai satu juta orang.

Kota-kota besar khususnya Jakarta masih menjadi daya tarik tersendiri untuk masyarakat yang melakukan urbanisasi. Orang-orang dari luar Pulau Jawa menganggap Jakarta itu lokasi yang tepat untuk mencari lapangan pekerjaan.

Padahal, Jakarta pada saat ini tengah menghadapi berbagai permasalahan salah satunya kepadatan penduduk. Penduduk kota besar sudah banyak yang hidup dalam kemiskinan. kondisi tersebut dapat menimbulkan masalah, apalagi jika arus urbanisasi didominasi para pencari kerja tanpa keahlian.

Arus urbanisasi yang tidak terkendali dan didominasi para pencari kerja tanpa keahlian akan menimbulkan beban baru bagi pemerintah. Karena pemerintah kota harus menyiapkan berbagai strategi menghadapi urbanisasi salah satunya dengan menyiapkan balai latihan kerja.

Sebaliknya, daerah pengirim perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan baru serta memberi insentif bagi penduduk untuk tidak melakukan urbanisasi. Dikaitkan dengan program kependudukan, pertambahan penduduk usia produktif di perkotaan menjadi ancaman tersendiri. Ketika yang datang adalah anak-anak muda usia subur, tanpa pekerjaan dan akhirnya menikah, sehingga dapat melahirkan generasi miskin baru di perkotaan. Hal itu menimbulkan “lingkaran setan” dalam bidang kependudukan, sehingga semakin memperberat tekanan kependudukan terhadap lingkungan.

Oleh karena itu, diperlukan strategi pemerintah secara lebih mendasar, agar masalah urbanisasi ini tidak menjadi kian deras.