Marak Aksi Beli Picu IHSG Berpeluang Rebound

NERACA

Jakarta – Diluar prediksi, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa ditutup terkoreksi tipis 5,304 poin (0,13%) ke level 4.155,356. Sementara Indeks LQ45 ditutup menipis 1,222 poin (0,17%) ke level 714,478. Maraknya aksi beli menjelang penutupan perdagangan belum mampu menyelamatkan indeks dari tekanan, kendatipun hanya menahan dari koreksi yang cukup dalam.

Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono megatakan, IHSG ditutup melemah tipis mengikuti sentimen negatif dari bursa regional menyusul kekhawatiran akan kemampuan Yunani dalam memenuhi persyaratan untuk menerima bantuan,”Indikasi itu terlihat dari ketidakmampuan pemerintah Yunani mendapatkan kesepakatan dari partai koalisi mengenai pemotongan anggaran belanja yang merupakan persyaratan untuk menerima dana bantuan selanjutnya," katanya di Jakarta, Selasa (11/9).

Dia menambahkan, pasar juga masih menanti pengumuman The Fed pada 13 September mendatang. Selain itu, investor juga masih menanti potensi stimulus menyusul data ekonomi yang melemah di Amerika dan China.

Berikutnya, indeks BEI Rabu akan bergerak "mixed" dengan kecenderungan menguat pada kisaran 4.130-4.177 poin. Pada perdagangan kemarin, saham-saham tambang berbalik arah ke zona hijau menjelang penutupan perdagangan, diikuti saham industri dasar, finansial dan perdagangan. Saham-saham ini yang berhasil mengurangi koreksi yang diderita indeks.

Sayangnya, sudah terlalu banyak saham yang terkena koreksi sehingga indeks pun gagal balik arah ke zona hijau meski banyak aksi beli di penghujung perdagangan. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 118.245 kali pada volume 3,927 miliar lembar saham senilai Rp 3,228 triliun. Sebanyak 94 saham naik, sisanya 112 saham turun, dan 111 saham stagnan.

Bursa-bursa di regional mengakhiri perdagangan dengan mixed. Pasar saham Asia rata-rata bergerak dalam rentang yang tidak terlalu lebar. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Inti Bangun (IBST) naik Rp 1.100 ke Rp 5.500, Multi Prima (LPIN) naik Rp 450 ke Rp 7.600, Lion Metal (LION) naik Rp $00 ke Rp 9.500, dan HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 400 ke Rp 52.400.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Sarana Menara (TOWR) turun Rp 2.400 ke Rp 20.400, Unilever (UNVR) turun Rp 350 ke Rp 28.000, Jaya Pari (JRPT) turun Rp 300 ke Rp 2.800, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 300 ke Rp 38.600.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup ambles 25,002 poin (0,60%) ke level 4.135,658. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 3,627 poin (0,51%) ke level 712,073. Indeks sama sekali tidak menyentuh teritori positif sejak awal perdagangan. Aksi ambil untung terus terjadi sehingga indeks pun sempat jatuh ke posisi terendahnya hari ini di level 4.127,759.

Saham-saham unggulan yang naik tinggi menjadi sasaran investor untuk melakukan aksi ambil untung, salah satunya berbasis komoditas seperti agrikultur dan tambang. Saham-saham lapis dua juga ikut menjadi sasaran aksi jual. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 44.513 kali pada volume 1,398 miliar lembar saham senilai Rp 1,524 triliun. Sebanyak 60 saham naik, sisanya 138 saham turun, dan 86 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Inti Bangun (IBST) naik Rp 900 ke Rp 5.300, Multi Prima (LPIN) naik Rp 250 ke Rp 7.400, Lion Metal (LION) naik Rp 100 ke Rp 9.200, dan Inovisi (INVS) naik Rp 100 ke Rp 6.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Sarana Menara (TOWR) turun Rp 3.450 ke Rp 19.350, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 ke Rp 49.450, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 400 ke Rp 38.500, dan Unilever (UNVR) turun Rp 350 ke Rp 28.000.

Sementara perdagangan sesi I, indeks BEI dibuka turun 8,19 poin atau 0,20% ke posisi 4.152,47. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,09 poin (0,29%) ke level 713,62, “Bursa Asia pagi melemah merespon koreksi bursa AS dan Eropa tadi malam dipicu dari pelaku pasar cenderung 'wait and see' atas keputusan Jerman terkait rencana partisipasi negara itu dalam Bailout Eropa dan juga stimulus AS pada minggu ini oleh The Fed," kata analis samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro.

Selain itu, lanjut Yualdo Yudoprawiro, pelemahan bursa global juga memfaktorkan kebijakan sebagian perusahaan Jepang untuk melakukan efisiensi yang dikhawatirkan akan melemahkan komsumsi masyarakat.

Sementara itu, analis Kresna Securities Etta Rusdiana Putra menambahkan, data ekonomi China masih menunjukkan perlambatan meskipun sesuai dengan ekspektasi pasar. Selain itu, lanjut dia, angka produk domestik bruto (PDB) Italia di kuartal dua 2012 kembali terkontraksi 2,6% dibanding periode sama tahun lalu (year on year/YoY), lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 2,5 YoY.

Lanjutnya, kata Etta Rusdiana Putra, angka pengangguran AS yang masih stabil di kisaran 8,1% kembali membuka spekulasi pasar terhadap stimulus tambahan di AS. Sentimen tersebut diharapkan mampu meredam tekanan jual di pasar global.

Bursa regional diantaranya indeks Hang Seng melemah 97,32 poin (0,49%) ke level 19.729,85, indeks Nikkei-225 turun 67,64 poin (0,76%) ke level 8.801,76, dan Straits Times menguat 0,95 poin (0,03%) ke level 3.009,0. (bani)

Related posts