Pemerintah Kembangkan Pembangkit Listrik Fuel Cell

Gandeng Korea Selatan

Rabu, 12/09/2012

NERACA

Jakarta - Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai sumber energi mempunyai kelemahan, karena sebagai energi fosil yang jumlahnya terbatas, serta tidak dapat diperbaharui dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penggunaan energi fosil tersebut harus segera dialihkan ke energi baru terbarukan. Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mengembangkan pembangkit listrik tenaga fuel cell berkapasitas 300 kilowatt (KW) dengan pemanfaatan hidrogen.

Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi Kementerian ESDM Maritje Hutapea mengatakan, pemanfaatan hidrogen sebagai sumber energi pembangkit listrik tersebut merupakan teknologi baru dan pertama di Indonesia. Pengembangan ini telah menggandeng Pemerintah DKI Jakarta dan Pemerintah Korea Selatan dalam tahap pilot project.

Dia menjelaskan, hidrogen dapat dihasilkan dari berbagai sumber energi, baik fosil maupun energi terbarukan seperti gas alam, air dan biomassa yang berfungsi sebagai energi pembawa (carrier). Dengan adanya fuel cell tersebut akan menggantikan peran pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang saat ini masih banyak digunakan di Jawa, Madura dan Bali.

"Hidrogen merupakan energi yang bersih sehingga pemanfaatan energi tersebut dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Selain juga meningkatkan ketahanan energi. Sehingga adanya pembangkit tersebuut dapat mengurangi target gas emisi rumah kaca nasional yang telah ditargetkan sebesar 26% pada 2020," ujar Maritje di Jakarta, Selasa (11/9).

Proyek Lanjutan

Dalam proyek kerja sama tersebut Pemerintah Korea telah menunjuk POSCO, sedangkan Pemerintah Indonesia memilih PT Propertindo sebagai perusahaan kontraktor pembangunan pembangkit listrik tersebut. Proyek ini juga merupakan tindaklanjut melalui Korea International Cooperation Agency (KOICA) memberikan hibah kepada Indonesia untuk pembangunan pilot fuel cell senilai US$3 juta, akhir tahun lalu.

Menurut Maritje, tujuan pilot project ini dilakukan di Ancol yaitu untuk menyediakan listrik di wilayah yang kekurangan listrik di daerah tersebut sekaligus sebagai cara untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. “Alasan Ancol dipilih sebagai sarana sosialisasi agar masyarakat bisa melihat,” katanya.

Ini adalah proyek ketiga dari tiga proyek yang bernama “Treatment of Wastes from Oil Palm Industry and Production of Bio energy and Value Added Products Using Them” (US$2,5 miliar) dan “Wood Biomass Energy Development Model” (US$4 miliar), yang ROD telah ditandatangani oleh KOICA dan pemerintah Indonesia dalam rangka mendukung proyek perubahan iklim yang diusulkan oleh Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) melalui proyek hibah pemerintah Korea untuk East Asia Climate Change Partnership.

Bahan Bakar Hidrogen

Fuel cell adalah sebuah alat elektrokimia yang mirip dengan baterai, tetapi berbeda karena dirancang untuk dapat diisi terus reaktannya yang terkonsumsi yaitu dia memproduksi listrik dari penyediaan bahan bakar hidrogen dan oksigen dari luar. Hal ini berbeda dengan energi internal dari baterai. Sebagai tambahan, elektroda dalam baterai bereaksi dan berganti pada saat baterai diisi atau dibuang energinya, sedangkan elektroda sel bahan bakar adalah katalitik dan relatif stabil.

Reaktan yang biasanya digunakan dalam sebuah sel bahan bakar adalah hidrogen di sisi anode dan oksigen di sisi katoda (sebuah sel hidrogen). Biasanya, aliran reaktan mengalir masuk dan produk dari reaktan mengalir keluar. Sehingga operasi jangka panjang dapat terus menerus dilakukan selama aliran tersebut dapat dijaga kelangsungannya.

Sel bahan bakar seringkali dianggap sangat menarik dalam aplikasi modern karena efisiensi tinggi dan penggunaan bebas-emisi, berlawanan dengan bahan bakar umum seperti metana atau gas alam yang menghasilkan karbon dioksida. Satu-satunya hasil produk dari bahan bakar yang beroperasi menggunakan hidrogen murni adalah uap air.

Namun, ada kekhawatiran dalam proses pembuatan hidrogen yang menggunakan banyak energi, karena memproduksi hidrogen membutuhkan carrier hidrogen, biasanya bahan bakar fosil, meskipun air dapat dijadikan alternatif, dan juga listrik, yang diproduksi oleh bahan bakar konvensional. Meskipun sumber energi alternatif seperti energi angin dan surya dapat juga digunakan, tetapi sekarang ini mereka sangat mahal.