Untung Cepat Beranak dalam Lumpur - Budidaya Belut :

NERACA

Budi daya belut sebenarnya tidak sulit dan juga tidak mahal. Masyarakat yang memiliki lahan sempit pun dapat memelihara belut. Secara teknis budi daya dan pemeliharaan belut (monopterus albus) hanya memerlukan perhatian dalam memilih lokasi budi daya, pembuatan kolam, media pemeliharaan, memilih benih, perkembangbiakan belut, penetasan, makanan dan kebiasaan makan serta hama.

Dalam kelompoknya, belut dikenal dalam tiga jenis, yaitu belut rawa, belut sawah dan belut kali. Namun demikian jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut sawah dalam lubang-lubang parit atau lumpur.

Umumnya memang belut berkembang biak secara alami di alam terbuka. Dan lumpur menjadi media yang sangat mendukung perkembangbiakan belut. Namun untuk membudidayakan belut, media selain lumpur pun dapat dilakukan, semisal di sebuah kolam dengan busa sebagai media memamahbiak. Itu pun dengan beberapa persyaratan, seperti temperatur dan kandungan ph pada air.

Secara alami, belut memiliki masa kawin selama musim hujan (4-5 bulan), di malam hari dengan suhu sekitar 28° C atau lebih. Musim kawin ini ditandai dengan berkeliarannya belut jantan ke penjuru kolam, terutama ke tepian dan tempat dangkal yang akan menjadi lubang perkawinan.

Telur-telur dikeluarkan di sekitar lubang, di bawah busa atau lumpur dan setelah dibuahi akan dicakup pejantan untuk disemburkan di lubang persembunyian yang dijaga belut jantan.

Saat telur ini akan menetas setelah 9-10 hari, tetapi dalam pendederan menetas pada hari ke 12-14. Anak-anak belut ini memiliki kulit kuning yang semakin hari akan berangsur-angsur menjadi coklat. Belut jantan akan tetap menjaga sampai belut muda berusia dua minggu atau mereka meninggalkan sarang penetasan untuk mencari makanan sendiri.

Belut pun jarang terserang penyakit yang disebabkan oleh kuman atau bakteri, namun mereka sering kekurangan pangan, kekeringan atau dimakan sesama belut dan predator lainnya, sehingga memerlukan air mengalir agar tetap sehat.

Setelah belut berkembang sesuai yang diharapkan, kita harus memperhatikan tata cara panen agar belut tidak luka dan tetap segar, baik untuk pasar lokal maupun antar daerah dan ekspor. Belut untuk pasar lokal hanya memerlukan ukuran sedang dengan umur 3-4 bulan, sedangkan ekspor perlu ukuran lebih besar dengan usia 6-7 bulan.

Perlakuan pasca panen pun juga harus diperhatikan, baik dalam membersihkan dan memperbaiki kolam pemeliharaan serta dilakukan penggantian media yang baru, sehingga makanan belut tidak habis bahkan semakin banyak.

BERITA TERKAIT

Mangrove Terimbas Kebocoran Minyak, Pertamina Cepat Menangani

Bekasi-Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdar) Alipbata Muara Gembong Bekasi Sonhaji menegaskan, mangrove di Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi,…

Lalai Dalam Proyek Karaha - HIL Somasi PT Bangun Cipta Kontraktor

NERACA Jakarta- H Infrastructure Limited (“HIL”) perusahaan konstruksi terbesar di Selandia Baru melayangkan mengajukan surat teguran/ somasi kepada PT Bangun…

Penegakan Netralitas ASN Dalam Pemilu Butuh Keterlibatan Publik

Penegakan Netralitas ASN Dalam Pemilu Butuh Keterlibatan Publik   NERACA Jakarta - Direktur Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) Maya Rostanty…

BERITA LAINNYA DI PELUANG USAHA

Waralaba Diklaim Gerbang Generasi Muda Mulai Usaha

Ketua Kehormatan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar mengatakan, sekarang ini banyak anak muda yang ingin mandari secara ekonomi. Salah…

Tahun 2019, Pemerintah Targetkan 8 Juta UMKM Aplikasikan Tekhnologi

Pemanfaatan teknologi digital untuk bisnis, khususnya skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sudah menjadi sebuah keharusan. Sebab itu, upaya…

Pesatnya Perkembangan Pasar Modern dan Digitalisasi, Sarinah Tetap Bina UMKM

BUMN ritel PT Sarinah (Persero) menyatakan yakin bisa tetap eksis di tengah pesatnya perkembangan dunia digital. Untuk itu, Sarinah tetap…