Licinnya Bisnis Belut Berkualitas Ekspor

Sabtu, 15/09/2012

Belut tak hanya digemari sebagai penganan, pelbagai khasiat daging belut juga bermanfaat bagi banyak industri kosmetik. Tak aneh pesona hewan berlendir ini kian licin mendatangkan keuntungan.

NERACA

Bagi masyarakat Indonesia, hewan belut tidak asing. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa gemar mengonsumsi belut. Di Jepang, yang masyarakatnya gemar mengonsumsi ikan segar, daging belut atau dikenal sebagai Unagi merupakan menu favorit restoran.

Namun pangsa pasar Jepang menekankan prasyarat kualitas belut ekspor. Semisal harus memiliki kadar lemak pada daging belut yang rendah (tak boleh lebih dari 10 persen). Dan belut tujuan ekspor, harus diberi pakan khusus berupa pasta yang dipercaya mempengaruhi rasa daging. Mereka lebih menyukai belut berukuran sekitar 250 sampai 400 gram per ekornya.

Pangsa pasar Jepang memang terbuka luas, selain beberapa negara seperti Malaysia, Korea, Taiwan dan Singapura. Namun yang menjadi produk unggulan adalah jenis anguilla bicolor yang harganya mencapai Rp 55 ribu per kilo gram, yang konon sempat pula menembus angka Rp 105 ribu per kilo gram.

Tak heran kalau belut asli Jepang (anguilla japonica) sampai masuk daftar hewan langka yang tak boleh diperdagangkan oleh Konvensi Perdagangan Internasional untuk Hewan-Hewan Langka (CITES). Tapi di Indonesia tentunya ini adalah peluang besar yang harus digarap.

Selain jenis bicolor, Indonesia mempunyai dua jenis lain yang juga laku di pasaran Internasional, yaitu jenis marmorata dan renhati.

Di pasar harga marmorata mencapai Rp 150 ribu per kilo gram sementara renhati mencapai Rp 300 ribu per kilo gram. marmorata banyak diserap di sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat.

Sedangkan belut jenis renhati, meski banyak dikembangkan di Australia, namun anehnya tak bisa tumbuh dengan optimal, mungkin faktor cuaca sangat mempengaruhi. Contohnya bila musim dingin tiba, belut jantan hanya bisa bertumbuh hingga setengah kilo gram dan yang betina hanya sekitar dua kilo. Namun di Indonesia, belut pejantan dapat tumbuh hingga berat dua kilo gram dan yang betina bisa sampai lima kilo gram.

Saat ini diperkiraan permintaan dunia untuk belut per tahun mencapai 230.000 ton. Sementara permintaan Jepang mencapai 120.000 ton per tahun. Sejauh ini, Cina menjadi produsen utama belut yang memasok 70% permintaan dunia. Sementara produsen belut lainnya selain Indonesia adalah Vietnam dan Bangladesh.

Tujuan Ekspor

Ekspor belut kali pertama oleh Indonesia dilakukan ke Taiwan pada tahun 2007, seberat 300 kilogram (Kg). Lalu berturut-turut ekspor belut dilakukan ke Hongkong, Singapura, Jerman, Italia, Belanda, dan Amerika Serikat.

Di Indonesia ada sekitar 12 spesies belut yang tersebar di Pantai Barat Pulau Sumatera, Pantai Pesisir Selatan Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Pantai Timur Pulau Kalimantan, perairan Sulawesi, Maluku, hingga di perairan Papua.

Hingga saat ini, Indonesia memang baru mengekspor belut dalam bentuk benih. Karena itu, sejak tahun 2010 lalu, pemerintah menargetkan akan mengekspor belut siap dikonsumsi, dengan tujuan Jepang sebagai peminat utama, pasar Korea Selatan, Vietnam, dan Taiwan.

Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru berkembang sebagai tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai pos penampungan.

Memang belut segar kini semakin dicari, bahkan harganya semakin melambung jika sudah masuk ke restoran. Untuk harga satu porsi unagi-hidangan belut segar-di restoran Jepang yang cukup bergengsi di Jakarta Selatan mencapai Rp250.000.

Apalagi bila dibeli di Tokyo, Osaka, maupun di restoran Jepang di kota-kota besar dunia. Dengan demikian boleh jadi banyak yang mengendus peluang bisnis belut yang kini pasarnya menganga lebar. Maklum pasokan belut-bibit maupun ukuran konsumsi-sangat minim, sedangkan permintaannya membludak.

Dan konon sebuah penelitian yang dilakukan menyebutkan bahwa belut asal Indonesia memiliki kandungan DHA (zat bagi perkembangan otak) lebih tinggi dari Ikan Salmon yang menjadi produk unggulan beberapa negara di Amerika dan Eropa.