Hindari Jebakan Twin Deficit

Selasa, 11/09/2012

Belakangan ini ramai dibicarakan oleh kalangan pengamat ekonomi soal defisit fiskal dan defisit neraca perdagangan yang saling berkaitan antara satu dan lainnya. Keterkaitan antara kedua model defisit ini dikenal sebagai twin deficit (defisit kembar). Artinya, secara teoritis bila terjadi kebijakan fiskal yang ekspansif (defisit fiskal) maka nilai tukar riil mata uang domestik (rupiah) akan terapresiasi, sehingga daya saing perdagangan akan menurun dan memperburuk defisit neraca perdagangan (current account deficit).

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca transaksi berjalan kian melebar akibat pelemahan ekonomi global. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II/ 2012 mencapai US$6,9 miliar (sebesar 3,1% PDB) dibandingkan dengan US$3,2 miliar (sebesar 1,5% PDB) pada kuartal I/2012. Namun, di tengah memburuknya neraca transaksi berjalan, surplus neraca modal meningkat menjadi US$5,5 miliar (sebesar 2,5% PDB) pada triwulan II/ 2012.

Kombinasi defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan menyebabkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai 4,6% sejak awal tahun 2012 ini. Depresiasi rupiah ini tergolong paling dalam jika dibandingkan dengan mata uang asing lainnya di Asia Tenggara.

Hal yang sama juga terlihat dalam postur RAPBN 2013, dimana pemerintah memprediksi rencana besaran defisit anggaran sebesar Rp150,2 triliun atau 1,62% terhadap PDB. Angka ini turun dari defisit di APBN-P 2012 sebesar Rp190,1 triliun atau 2,23% terhadap PDB. Pembiayaan defisit RAPBN 2013 direncanakan berasal dari sumber-sumber pembiayaan dalam negeri sebesar Rp169,6 triliun, dan pembiayaan luar negeri (neto) sebesar minus Rp19,5 triliun.

Fenomena twin deficit memang tidak akan terjadi apabila institusi fiskal di suatu negara tanggap dalam merespon setiap surplus/ defisit fiskal dan membuat kebijakan yang sesuai dengan kondisi neraca fiskal negara mereka masing-masing. Kebijakan fiskal yang tidak responsif akan menyebabkan defisit fiskal mempengaruhi tingkat suku bunga dan akan berdampak pada nilai tukar.

Perubahan nilai tukar yang rentan dapat menyebabkan defisit neraca perdagangan. Artinya, sebuah negara akan lebih rentan mengalami twin deficit jika negara itu memiliki tingkat keterbukaan (degree of openness) yang tinggi dan terus menerus melakukan kebijakan fiskal, ekspansif tanpa menyesuaikan dengan kondisi perekonomian yang ada.

Berbeda dengan kondisi negara high income seperti Singapura dan Brunei, middle income (Malaysia) sama sekali tidak terlihat terjadi twin deficit, karena di negara-negara tersebut dapat menutupi defisit mereka dengan menggunakan surplus yang diperoleh pada periode-periode sebelumnya.

Karena itu, di negara middle income yang mengalami twin deficit, diperlukan sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter, sedangkan di negara low income stabilitas kondisi sosial politik dalam negeri juga diperlukan untuk mewujudkan stabilitas perekonomian. Sedangkan di negara high income, walaupun tidak mengalami twin deficit, diversifikasi ekonomi perlu dilakukan agar tidak terlalu bergantung kepada perdagangan internasional karena berdasarkan penelitian sejumlah pakar moneter, current account memberi pengaruh yang besar kepada anggaran pemerintah.

Bagaimanapun, defisit fiskal dan defisit neraca perdagangan (current account deficit) dianggap dapat mengganggu kestabilan kondisi perekonomian suatu negara dalam jangka panjang (Edwards, 2001). Sehingga untuk menghindari jebakan twin deficit tersebut, Indonesia perlu konsisten memperhatikan pentingnya diversifikasi ekonomi, dan sinkronisasi yang harmonis antara kebijakan fiskal dan moneter. Semoga!