Waspadai Krisis Obligasi Asia Timur Senilai US$ 6 Triliun

NERACA

Jakarta - Dampak krisis ekonomi Eropa, memberikan dampak signifikan bagi perekonomian negara Asia dan termasuk perlambatan ekonomi Cina. Asian Development Bank (ADB) dalam laporannya menyebutkan krisis ekonomi yang melanda Eropa bisa mengancam pasar obligasi mata uang lokal Asia Timur yang tengah berkembang dan mencapai US$ 6 triliun.

Kepala Kantor ADB untuk Integrasi Ekonomi Regional, Iwan J Azis dalam siaran pers di Jakarta, Senin (10/9) mengatakan, para pembuat kebijakan di kawasan ini harus mempersiapkan diri untuk guncangan dan volatilitas yang akan terjadi dari pasar keuangan global. Pasalnya, pasar obligasi mata uang lokal bisa sebagai alternatif yang aman di tengah krisis.

Kendatipun demikian, dia menghimbau untuk tidak boleh lengah. Menurut Iwan, pasar yang memiliki volatilitas yang tinggi dapat menghalangi investasi jangka panjang dan mengancam perekonomian karena meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan pemerintah dan perusahaan dalam mengumpulkan dana.

Selain itu, reaksi pasar yang tidak menentu terhadap tindakan kebijakan akan merusak prediktabilitas dan efektivitas kebijakan konvensional. Dia menambahkan, partisipasi kawasan yang lebih besar di pasar obligasi Asia Timur dan kerjasama yang lebih baik diperlukan untuk mengatasi volatilitas yang berasal dari guncangan eksternal dan memperkuat jaring pengamanan keuangan kawasan.

Bagian khusus dari Asia Bond Monitor yang menganalisa kinerja pasar obligasi lokal dari Cina, Indonesia, Republik Korea, Malaysia, Filipina, dan Thailand menunjukkan bahwa dampak turunan dari runtuhnya Lehman Brothers dan krisis kawasan Eropa yang sedang berlangsung cukup signifikan dan mungkin akan berlanjut.

Dampak permasalahan tersebut tidak hanya dirasakan di pasar obligasi tetapi juga di pasar keuangan lainnya di kawasan ini, termasuk melalui kurs mata uang asing. Laporan Asia Bond Monitor mencatat bahwa meskipun ada ketidakpastian dan guncangan di pasar keuangan global, obligasi yang beredar di pasar di kawasan ini terus berkembang, hingga mencapai US$ 5,9 triliun pada akhir Juni atau meningkat 1,9% dari akhir Maret dan tumbuh 8,6% dari akhir Juni 2011.

Pada akhir Juni, terdapat US$ 2 triliun obligasi korporasi yang beredar, 15,2% lebih tinggi dari tahun sebelumnya, sedangkan US$ 3,9 triliun pasar obligasi pemerintah hanya 5,5% lebih besar. Kemudian imbal hasil obligasi di banyak pasar, seperti Cina, Indonesia dan Vietnam mulai naik pada bulan Juli dan Agustus setelah jatuh pada paruh pertama tahun ini, yang mencerminkan berkembangnya ketidakpastian dalam ekonomi global.

Kata Iwan J Azis, risiko terhadap pasar terus membesar. Risiko ini termasuk memburuknya sentimen investor akibat meredupnya prospek ekonomi global, volatilitas arus modal dan penjualan obligasi pemerintah yang berlebihan untuk membiayai kebijakan stimulus. (bani)

BERITA TERKAIT

Waspadai Fluktuasi Rupiah

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam rentang perjalanan beberapa pekan terakhir  menguat signifikan. Dari posisi terlemahnya sejak 1998…

PTBA Bukukan Laba Bersih Rp 3,93 Triliun

Di kuartal tiga 2018, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) membukukan laba bersih Rp3,93 triliun, naik 49,67% year on year (yoy)…

Oktober, Kontrak Baru WSBP Rp 4,56 Triliun

NERACA Jakarta - Hingga per Oktober 2018, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) berhasil membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…

Strategi Hilirisasi - Pabrik Feronikel Antam Rampung Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Komitmen PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjalankan strategi hilirisasi terus dilakukan dengan pembangunan pabrik Feronikel Haltim dengan…