EximBank Garap Industri Hulu

Ajak Bank Nasional

Selasa, 11/09/2012

NERACA

Jakarta--Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank) mengajak perbankan nasional untuk mengekspansi pembiayaan ke industri hulu/dasar dengan harapan untuk mendorong ekspor komoditas Indonesia. "Kami melihat banyak proyek yang merupakan program pemerintah untuk hilirisasi industri hulu, salah satunya pembangunan pabrik pengolahan baja dasar (blast furnace) PT Indoferro yang segera beroperasi ini," kata Ketua Dewan Direktur Indonesia Eximbank, I Made Gede Erata, di Cilegon, Banten, Senin.

Indonesia Eximbank telah memberikan fasilitas pembiayaan tahap satu senilai Rp617,5 miliar (65 juta dolar AS) kepada PT Indoferro untuk membangun pengolahan baja dasar yang mengolah bijih besi menjadi "pig iron" dengan kapasitas produksi 550 ribu ton per tahun.

Dengan hadirnya pabrik pengolahan bijih besi tersebut, maka kebutuhan "pig iron" pabrik baja di Indonesia yang diperoleh melalui impor diharapkan dapat terpenuhi, selain juga diekspor ke negara lain seperti Australia, China, India, Brazil, dan negara lain di kawasan Asia.

Erata mengatakan IndoEximbank telah lama bekerja sama dengan perusahaan induk PT Indoferro yaitu Growth Steel Group untuk memberikan pembiayaan investasi berbasis ekspor, sehingga ke depannya IndoEximbank akan tetap melanjutkan komitmennya.

Direktur Pelaksana Indonesia Eximbank, Basuki Setyajid, dalam kunjungan kerja ke lokasi pabrik PT Indoferro di Cilegon, Banten, Senin mengatakan hingga Agustus 2012 total aset Indonesia Eximbank tercatat sebesar Rp30,99 triliun dengan kontribusi pembiayaan sekitar 79,94 persen. "Selama nasabah memiliki aktifitas ekspor, kita langsung masuk ke sana," katanya.

Menurut Basuki, dengan target tersebut maka diperkirakan tahun ini Indonesia Eximbank membutuhkan dana sekitar Rp 2 triliun dan 500 juta dolar AS yang sebagian besar sumber dananya berasal dari penerbitan surat obligasi. "Sementara kebutuhan tahun depan diperkirakan sekitar Rp3 triliun dan 500 juta dolar AS, semuanya obligasi karena Eximbank tidak bisa mencari dana melalui dana pihak ketiga," jelasnya

Sementara itu Direktur Utama PT Growth Steel Group, Fajar Suherman, mengatakan proyek pembangunan pabrik di Cilegon tersebut merupakan kelanjutan dari proyek anak perusahaan PT Growth Asia di Medan yang berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Biomassa. "Kami melihat ketersediaan bijih besi dan bijih nikel di Indonesia sangat banyak, sementara kebutuhannya naik terus, maka mulai 2006 kita kembangkan proyek ini dengan peletakan batu pertamanya pada November 2007," kata Fajar.

Fajar mengatakan meskipun proses pembangunannya agak terkendala, namun proyek pembangunan pabrik PT Indoferro yang akan mulai resmi beroperasi tahun depan itu merupakan yang pertama di Indonesia untuk pengolahan bijih besi. "Selama ini bijih besi diekspor langsung dalam bentuk batuan tanpa diolah oleh perusahaan, namun seiring peraturan pemerintah yang tidak membolehkan barang mentah, maka ke depan kita bisa mengolah sumber daya alam untuk membuat Indonesia menjadi kompetitif," katanya.