Sumi Indo Kabel Targetkan Penjualan Naik 20%

NERACA

Jakarta – Perusahaan kabel PT Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI) memproyeksikan bisa menaikkan penjualannya sebesar 20% di tahun ini. Di tahun 2011, perseroan berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp1.412 atau naik sebesar 15% dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp1.226 miliar. “Di Indonesia, GDP terus meningkat, permintaan dalam negeri sejauh ini relatif cukup kuat sehingga kami optimis bisa menaikkan penjualan sebesar 20% di tahun ini.”kata Presiden Direktur PT Sumi Indo Kabel Tbk Takahisa Hiura di Jakarta, Senin (10/9).

Takahisa mengatakan, optimisme kenaikan penjualan tersebut juga didorong oleh peningkatan infrastruktur dan penambahan mesin yang diambil dari belanja modal perusahaan (Capital Expenditures) tahun ini yang mencapai US$4 juta. Hal tersebut diupayakan perseroan untuk meningkatkan kapasitas produksi.“Volume produksi kami saat ini diperkirakan bisa mencapai 1500 ton per bulan dari sebelumnya yang hanya mencapai 1300 ton per bulan.” ujarnya.

Meskipun demikian, dia mengakui, diperlukan upaya keras untuk itu karena hingga semester I tahun ini, IKBI masih membukukan penurunan pendapatan. Penurunan pendapatan tersebut disinyalir akibat penurunan harga penjualan dan terpukul krisis keuangan Eropa serta keterlambatan pembangunan paska bencana di timur Jepang.

Dia menambahkan, penurunan juga terjadi akibat adanya kecenderungan kuat dari peningkatan harga bahan baku seperti tembaga, baja, aluminium dan plastik yang naik lebih dari 70% di tahun lalu akibat fluktuasi harga minyak mentah. Selain itu, kompetisi harga intensif semakin lebih ketat namun permintaan cukup tinggi.

Proporsi produksi saat ini masih didominasi oleh pasar ekspor, yaitu sebesar 70%, sedangkan sisanya merupakan pasar domestik. "Untuk dalam negeri, market share kita hanya sebesar 30%, sementara 70% ditujukan untuk ekspor," ujarnya.

Sementara, Direktur PT Sumi Indo Kabel Tbk. Sulim Herman Limbono mengatakan, agar berhasil bertahan di tengah resesi bisnis saat ini, perseroan telah melakukan langkah-langkah efisiensi melalui upaya internal dan meminimalisir risiko. “Setelah mendapat order, perseroan langsung memesan tembaga untuk memperoleh harga yang pasti. Selain itu, kami juga mempergunakan jaringan pembelian global Sumitomo Electric Industries untuk mendapatkan harga bahan baku yang kompetitif.” paparnya

Tantangan di tahun 2012 dinilai pihak manajemen perseroan semakin besar, di mana terjadi krisis ekonomi global dan persaingan usaha yang semakin tajam, baik di pasar ekspor maupun domestik. Karena itu diperlukan juga langkah peningkatan dan pengembangan usaha.

Selain penambahan mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi tahun ini, menurut dia saat ini perseroan tidak hanya fokus pada pasar Jepang, namun juga menyasar negara-negara Asia dan Amerika Selatan. (lia)

BERITA TERKAIT

DIALOG TINGKAT TINGGI INDO-PASIFIK

Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) bersama Deputi Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters memberikan konferensi pers…

Penjualan Wahana Pronatural Naik 33,11%

Sepanjang tahun 2018, PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) mencatatkan penjualan sebesar Rp308,57 miliar pada 2018. Perolehan tersebut meningkat 33,11% dibandingkan dengan…

Penjualan CPO Domestik Turun - Laba Bersih Wilmar Cahaya Anjlok 13,75%

NERACA Jakarta –Di tahun 2018, kinerja PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) pada 2018 kurang memuaskan karena laba bersih perseroan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Penetrasi Pasar Ritel Modern - CSAP Resmikan Mitra10 Ke-30 di Cirebon

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama tahun ini, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) sukses membuka gerai bari Mitra10 ke-30…

PSAB Bukukan Laba Bersih US$ 15,29 Juta

Emiten pertambangan emas, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mencatatkan laba bersih sepanjang tahun 2018 sebesar US$15,29 juta atau naik…

Saham IPO Wahana Interfood Oversubscribed

NERACA Jakarta - Debut perdana di pasar modal, saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) dibuka naik 69,7% ke level…