IPO Bank Syariah Mandiri Terealisasi di 2014

Didukung Induk Usaha

Selasa, 11/09/2012

NERACA

Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) merestui anak usahanya, PT Bank Syariah Mandiri (BSM), untuk melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2014 mendatang. Menurut Direktur Keuangan dan Strategi BMRI, Pahala Nugraha Mansury, hal tersebut karena kondisi keuangan perseroan yang sehat.

"Kami sedang bersiap-siap untuk IPO (Bank Syariah Mandiri) tahun depan karena butuh waktu untuk bisa merealisasikannya. Selain itu, kondisi keuangan juga baik dan permodalan di atas 12%. Jadi tahun 2014 sudah go public," kata Pahala di Jakarta, Senin (10/9).

Namun dia mengaku, sebagaimana yang diharapkan Bank Indonesia (BI), sebelum melantai di bursa, ada baiknya BSM harus benar-benar siap sehingga siap untuk menarik potensial investor. Pahala menilai, kondisi keuangan BSM cukup baik, terlihat dari pertumbuhannya di kisaran 30%-40% setiap tahun.

Selain melihat kondisi keuangan, lanjut dia, pihaknya juga ingin meningkatkan lagi sinergi antara anak usaha dan induk sehingga nilai perusahaan semakin baik. Lebih lanjut Pahala menuturkan, keinginan BMRI agar BSM segera IPO adalah semata-mata agar bisa diterima investor pasar modal.

Di tempat terpisah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berpendapat sama dengan BMRI, yang menilai jika perbankan syariah dapat melakukan IPO maka dapat memberikan sentimen positif untuk pasar modal Indonesia. Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman Darmansyah Hadad mengatakan, kepentingan IPO ini ditentukan oleh keputusan internal perusahaan, dalam hal ini BSM dan BMRI sebagai induk usaha.

Mengenai himbauan BI agar perbankan syariah menunda IPO terlebih dahulu, Muliaman melihat hal itu lebih dikarenakan agar persiapan BSM benar-benar matang. “Himbauan BI itu supaya pelaksanaan IPO Bank Syariah Mandiri disiapkan sebaik mungkin. Jangan sampai sia-sia apalagi merugi nantinya," tutur Muliaman.

Namun dia mengakui, pertumbuhan perbankan syariah sangat tinggi. Hal itu tentu berimbas positif ke rencana go public BSM sangat besar. Akan tetapi Muliaman mengingatkan agar perbankan syariah dapat memenuhi persyaratan sebelum melantai di bursa.

Sebelumnya, Direktur Direktorat Pengembangan Perbankan Syariah BI, Edy Setiadi mengharapkan, IPO dilakukan jika perbankan tersebut sudah siap, baik dari sisi permodalan maupun branding. Dan, dia melihat, hal itu belum ada di perbankan syariah sehingga belum siap untuk go public.

“Lebih baik di konvensional saja dulu, karena rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mereka lebih kuat. Apalagi saat ini masih ada beberapa masalah di bank syariah seperti dana haji, misalnya," ujar Edy, beberapa waktu lalu.

Apabila IPO tetap dipaksakan, sementara persoalannya masih ada, dirinya khawatir ke depan akan memberikan sentimen negatif kepada pergerakan saham bank bersangkutan. Menanggapi rencana PT Bank Muamalat dan PT Bank Syariah Mandiri untuk IPO, Edy menyarankan agar bank konvensional yang menjadi induk usahanya saja yang sementara mencarikan pendanaan di pasar modal terlebih dahulu.

Sementara khusus Bank Muamalat, lanjut Edy, bisa mencari pendanaan melalui penjualan sukuk seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Dia juga meminta perbankan syariah untuk bisa menekan ongkos dengan menggunakan kantor cabang yang dimiliki induknya.

"Jadi, bank syariah tidak harus buka kantor cabang di daerah bila di sana sudah ada cabang bank konvensional. Kan, cost-nya bisa lebih rendah," tukas Edy. [ria/ardi]