Risiko Globalisasi Ekonomi

Sejumlah pemimpin Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) pada akhir pertemuan mereka, Minggu (9/9) di Vladivostok, Rusia, menyerukan untuk selalu siap menghadapi tantangan dan meredam risiko yang di tengah lingkungan ekonomi global termasuk pasar keuangan yang masih rentan.

Langkah ini diperlukan dalam upaya memperkuat kesejahteraan di kawasan Asia Pasifik dan kepemimpinan kawasan ini dalam global ekonomi. Ini tidak lain sebagai tekad untuk terus membangun dan menjaga kemajuan yang sudah dicapai mereka selama ini, terutama di tengah kondisi perekonomian dunia yang masih suram.

Tidak hanya itu. Hal ini juga menunjukkan bahwa perdagangan dunia dan aliran modal global tidak hanya berlangsung lebih intensif, tetapi juga mempunyai tingkat kecepatan dan besaran yang jauh melampaui masa-masa sebelumnya. Tentunya, pergerakan perdagangan dan modal global ini akan mempunyai dampak yang serius terhadap perekonomian dalam negeri nasional masing-masing negara, terutama negara yang telah mengintegrasikan diri ke dalam perekonomian global.

Di sini, dampak globalisasi bagi ekonomi nasional akan berlangsung melalui tiga mekanisme yakni tekanan perdagangan yang semakin kompetitif, multinasionalisasi produksi, dan integrasi pasar keuangan. Kompetisi ini telah diakui secara umum meski sebenarnya kompetisi itu tidak hanya dalam perdagangan, tetapi juga dalam memperebutkan investasi. Mekanisme lainnya berhubungan erat dengan multinasionalisasi produksi dan berikut ancaman perusahaan multinasional yang dapat memindahkan lokasi produksinya dari satu negara ke negara lain dalam rangka mencari keuntungan terbesar.

Jadi secara umum, sikap yang sebaiknya harus diambil Indonesia adalah fleksibel, akomodatif tetapi cerdik dalam menghadapi arus perubahan yang diakibatkan perubahan dinamika internasional. Namun semuanya itu memerlukan prasyarat yaitu diperlukan tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk itu, ke depan Indonesia perlu secara lebih serius memperbaiki sektor pendidikan, karena jika tidak mampu dihadapi secara cerdik, kecenderungan dinamika internasional justeru akan lebih banyak membawa dampak negatif ketimbang aspek positif yang menguntungkan.

Karena itu, untuk membantu pemulihan perekonomian nasional, serta berupaya memulihkan kembali citra Indonesia di mata internasional. Maka tidak dapat ditawar-tawar lagi, politik luar negeri Indonesia juga perlu diarahkan untuk memaksimalkan pencapaian sasaran tersebut.

Ini penting, sebab esensi dari total diplomacy dalam politik luar negeri adalah “diplomasi yang melibatkan semua komponen bangsa dalam suatu sinergi dan memandang substansi permasalahan secara integratif”. Diplomasi ini tidak lagi melihat adanya pemisahan yang rigid antara isu domestik dan eksternal.

Terkait dengan APEC, Indonesia perlu melakukan pendekatan bilateral dapat dijadikan sarana dalam upaya peningkatan bobot kerjasama perdagangan internasional yang saling menguntungkan, dan mengoptimalkan perjanjian dagang lintas batas. Pendekatan bilateral sangat efektif untuk melakukan diversifikasi pasar ke pasar ekspor nontradisional, karena peran pemerintah dalam diplomasi perdagangan sangat signifikan dalam membuka akses pasar.

BERITA TERKAIT

Mendorong Ekonomi Syariah jadi Pilar Ekonomi Nasional

    NERACA   Jakarta - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan Bambang Kusmiarso mengatakan, Indonesia yang mayoritas penduduknya…

Harian Ekonomi NERACA Genap 34 Tahun

Di bulan Agustus ini, tepatnya pada 18 Agustus 2019, Harian Ekonomi NERACA genap berusia 34 tahun. Meski di tengah maraknya…

BTN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) siap mendorong pertumbuhan ekonomi di Bengkulu agar bisa lebih maju lagi, salah satunya melalui…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Menjaga Indonesia Damai

Di tengah maraknya budaya asing secara masif masuk ke negeri ini, generasi muda Indonesia kini menghadapi tantangan cukup berat. Selain…

Ancaman Kejahatan Siber

Kejahatan dunia siber berupa peretasan data masih mengincar perusahaan besar, khususnya industri jasa keuangan dan perbankan. Paparan studi yang dilakukan…

Harian Ekonomi NERACA Genap 34 Tahun

Di bulan Agustus ini, tepatnya pada 18 Agustus 2019, Harian Ekonomi NERACA genap berusia 34 tahun. Meski di tengah maraknya…