Sulit Defisit Transaksi Berjalan Bisa Surplus

Senin, 10/09/2012

NERACA

Jakarta—Bank Indonesia mengaku pesimis defisit transaksi berjalan akan mengalami surplus. Alasanya selama kondisi perekonomian dunia belum membaik, maka sulit untuk mencapainya. “Sulit untuk mencapai surplus transaksi berjalan karena pertumbuhan ekonomi dunia belum membaik,” kata Direktur Kepala Grup Neraca Pembayaran Departemen Statistik dan Moneter Bank Indonesia Doddy Zulverdi di Jakarta,Minggu.

Diakui Doddy, bahkan BI memprediksi hingga 2013 pertumbuhan ekspor Indonesia juga masih akan tertekan karena harga komoditi juga cenderung menurun. Namun demikian defisit transaksi berjalan diprediksi menurun menjadi dua % pada akhir tahun 2012. "Sampai Juli, defisit transaksi berjalan membaik sesuai perkiraan kita, ekspor meningkat impor menurun sehingga defisit transaksi berjalan menyusut,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut Doddu, BI berharap ke depan defisit ini bisa turun hingga mencapai 2,3%. “Kita berharap pada bulan-bulan berikutnya akan semakin baik, sehingga perkiraan kita defisit transaksi berjalan menjadi dua % pada akhir tahun," jelasnya

Menurut Doddy, dari data ekspor-impor BPS Juli lalu terlihat adanya perbaikan di sisi ekspor sementara nilai impor mulai menurun. "Ini sesuai ekspektasi kami, karena memang tidak ada impor yang besar. Jika defisit menurun menjadi dua %, itu level yang aman untuk investor asing masuk ke negeri kita," jelasnya

Data BPS menyebutkan, nilai ekspor Indonesia Juli 2012 mencapai 16,15 miliar dolar AS atau mengalami peningkatan sebesar 4,60 % dibanding ekspor Juni 2012. Meski demikian, bila dibanding Juli 2011 mengalami penurunan sebesar 7,27 %.

Sementara untuk tahun 2013, Doddy memperkirakan dengan kondisi perekonomian dunia yang belum membaik maka pertumbuhan ekspor Indonesia juga masih akan tertekan karena harga komoditi juga cenderung menurun. "Sulit untuk mencapai surplus transaksi berjalan karena pertumbuhan ekonomi dunia belum membaik, jadi perkiraan defisit transaksi berjalan pada 2013 masih akan di sekitar dua %," ucapnya

Dijelaskan Doddy, defisit transaksi berjalan pada triwulan II yang mencapai 3,1 % disebabkan karena kinerja ekspor yang menurun di saat permintaan impor meningkat pesat.

Kendati transaksi modal dan finansial mengalami kenaikan surplus yang signifikan, jumlahnya tidak cukup untuk menutupi defisit transaksi berjalan sehingga secara keseluruhan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit sebesar 2,8 miliar miliar dolar AS.

Meski berbagai pihak menilai defisit transaksi berjalan merupakan hal yang normal dalam perekonomian sebuah negara yang sedang bertumbuh, Doddy berpendapat defisit transaksi berjalan Indonesia sudah memasuki level yang membahayakan jika terus didiamkan. "Jika pelebaran defisit terus dibiarkan maka bisa berbahaya bagi perekonomian kita terutama pada munculnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sehingga cadangan devisa juga akan tertekan," paparnya

Doddy mengatakan, selain akan meningkatkan terhadap nilai tukar, defisit transaksi berjalan juga akan mengganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi karena tingginya investasi yang masuk diiringi peningkatan impor dan tidak diimbangi pertumbuhan ekspor.

Sebelumnya, pada Agustus Bank Indonesia dan Pemerintah, merumuskan langkah-langkah kebijakan dalam rangka mengatasi meningkatnya defisit transaksi berjalan.

Bank Indonesia akan menempuh beberapa langkah. Pertama, BI akan terus melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah. Kedua, memperkuat operasi moneter dengan pengendalian likuiditas. Ketiga, meningkatkan pendalaman pasar valas, termasuk dengan merelaksasi ketentuan terkait tenor forward. Keempat, kebijakan makroprudential melalui pengelolaan pertumbuhan kredit dengan memperkuat implementasi loan to value (LTV). **cahyo