IPO Waskita Terlaksana di Akhir Tahun Ini

Senin, 10/09/2012

NERACA

Jakarta - PT Waskita Karya (Persero), salah satu perusahaan infrastruktur pelat merah, memprediksi pelaksanaan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dilakukan pada kuartal IV-2012 mendatang. Perseroan akan melepas sahamnya ke publik sebanyak 35%. Direktur Utama Waskita Karya, Muhammad Choliq menjelaskan, supaya pelaksanaan IPO tersebut terealisasi, maka dibutuhkan Peraturan Pemerintah (PP), yang saat ini tengah dikaji.

“IPO kami perkirakan paling cepat akhir November hingga awal Desember 2012. Tapi kan mesti menunggu PP. Kami juga berharap dalam waktu dekat (PP) sudah bisa keluar," kata Choliq di Jakarta, Jumat (7/9), pekan lalu. Menurut dia, PP sangat dibutuhkan karena untuk mengembalikan status perseroan menjadi perusahaan badan usaha milik negara (BUMN).

Selama ini, lanjut dia, Waskita Karya berada di bawah naungan PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero). Dengan berubahnya status perseroan menjadi BUMN ini pun dilatarbelakangi masalah keuangan yang dihadapi Waskita Karya pada 2008 lalu. Oleh sebab itu, perlu dilakukan restrukturisasi dan revitalisasi melalui PPA.

Restrukturisasi dan revitalisasi perseroan tersebut dilakukan dengan penambahan modal oleh PPA sebesar Rp475 miliar, sehingga kepemilikan Waskita Karya menjadi 99% oleh PPA dan 1% milik negara. Choliq pun memperkirakan, dana hasil IPO sekitar Rp1 triliun ini akan digunakan untuk pengembangan bisnis.

“Bisnis yang akan kami kembangkan antara lain bisnis properti, minihydro, dan beton precast sekitar 45%. Sementara yang 55% untuk modal kerja guna mendukung pertumbuhan usaha jasa konstruksi,” tambah dia. Seperti diketahui, tiga BUMN sekuritas, PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas, dipercayakan menjadi penjamin emisi (underwriter) IPO Waskita Karya.

Sebelumnya telah diberitakan, memasuki semester II-2012, belum ada satu pun BUMN yang melakukan IPO. Namun demikian, pemerintah tetap optimis hampir seperempat kapitalisasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sumbangan dari perusahaan-perusahaan pelat merah. Meskipun BUMN yang tercatat di papan bursa jumlahnya hanya 18 perusahaan.

Deputi Menteri BUMN Bidang Privatisasi dan Perencanaan Strategi Kementerian BUMN, Pandu Djajanto mengklaim, dari 18 BUMN yang sudah melakukan IPO saat ini, seluruhnya merupakan perusahaan berkapitalisasi besar sehingga leading (memimpin) di pasar modal. “Emiten BUMN masih menjadi leading market kapitalisasi pasar modal,”katanya, beberapa waktu lalu.

Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito menambahkan, pihaknya sangat berharap seluruh perusahaan BUMN listing di pasar modal Indonesia. Ito lalu mencontohkan Malaysia, yang seluruh perusahaan negaranya wajib masuk ke pasar modal negeri Jiran itu.

“Tidak masalah apakah perusahaan itu sedang sakit atau tidak. Nah, kalau di Indonesia jumlah privatisasi yang dilakukan sejumlah perusahaan pelat merah selama 18 tahun terakhir sangat minim, tak lebih dari 18 BUMN,” keluh dia. [ardi]