Soal Error Trading, BEI Dicibir Harus Punya SOP

Senin, 10/09/2012

NERACA

Jakarta - Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) mencibir PT Bursa Efek Indonesia (BEI) soal berulang kalinya error perdagangan bursa. Bahkan untuk hal yang memalukan tersebut, BEI diminat untuk memiliki standard operating procedure (SOP) sehingga tidak lagi terjadi error pada sistem perdagangan saham, “Jika sistem perdagangan saham kembali mengalami gangguan, pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat langsung menjalankan SOP secara otomatis."kata Ketua APEI Lily Widjaja di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia mengatakan, perusahaan efek yang menjadi anggota bursa (AB) mengharapkan, dengan adanya SOP, tidak usah ada lagi diskusi-diskusi terkait bagaimana mengatasi error tersebut. Di samping itu, informasi terjadinya gangguan sistem perdagangan juga harus dilakukan lebih cepat dan merata sehingga semua pelaku pasar memiliki informasi yang sama. "Informasi harus disampaikan lebih cepat, jangan hanya disampaikan ke satu atau dua pihak saja karena itu unfair. Pihak APEI telah melakukan diskusi dengan BEI terkait hal tersebut dan telah disepakati," tandasnya.

Meski demikian, ungkap Lily, pihak AB belum ada yang meminta secara resmi untuk memfasilitasi klaim ke pihak Bursa akibat terganggunya sistem perdagangan saham di BEI pada 27 Agustus lalu."Jika mesin utama terganggu maka sistem Disaster Recovery Center (DRC) dapat langsung jalan sehingga sistem rencana keberlanjutan bisnis (Business Continuity Plan/BCP) juga langsung berjalan," kata dia.

Sebelumnya, hal sama juga diungkapkan oleh Managing Research Reza Priyambada, yaitu pada saat gangguan sistem remote trading kembali menghadang kegiatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pertengahan bulan kemarin. Akibatnya, transaksi perdagangan di bursa lokal itu ditutup lebih awal.

Gangguan pada sistem tersebut menurut Reza sangat jelas merugikan investor. Bahkan, tidak hanya investor yang dirugikan, para broker juga ternyata ketiban sial. Jadi, tidak heran jika para investor mengancam BEI ke meja hijau lewat gugatan class action karena terganggunya transaksi di pasar modal membuat investor menderita rugi cukup besar.

Reza juga menyayangkan, tidak adanya pemberitahuan terkait kendala tersebut dari pihak bursa sebelumnya. Dengan begitu, hal tersebut bisa memberikan kesan sistem di broker yang bermasalah, "Gimana kita mau input order nasabah kalau server di bursanya bermasalah," ujarya.

Bicara masalah kerugian, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, pihaknya melihat dari komisi saja bisa mencapai ratusan miliar. Pasalnya, jika transaksi ramai maka diperkirakan mencapai lebih dari lima ratus miliar rupiah. Mengingat, pasca liburan minat investor cukup kuat bertransaksi saham. Akan tetapi, IHSG menjadi stagnan karena terkendala sistem remote trading BEI pada saat itu.

Direktur Teknologi Informasi BEI Adikin Basirun mengakui, sistem perdagangan masih sering eror berulang kali karena otoritas BEI belum mewajibkan sistem milik data vendor terkoneksi dengan sistem sistem penanggulangan bencana (DRC) BEI. (lia)