Pemerintah Siapkan Dana Kekeringan Rp1,4 triliun

Senin, 10/09/2012

NERACA

Jakarta – Pemerintah mengaku telah menyiapkan anggaran sebesar Rp1,4 triliun untuk mengantipasi terganggunya ketahanan pangan akibat kekeringan. Dana itu untuk persawahan yang terganggu akibat kekeringan. ““Pemerintah menganggarkan Rp1,4 triliun untuk mengantisipasi kekeringan. Dana ini bisa digunakan untuk pengairan supaya para petani bisa menanam kembali,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa

Hatta menjelaskan berdasarkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau yang akan melanda Indonesia bisa lebih panjang satu bulan. Namun hingga saat ini, musim kemarau yang panjang belum mengganggu produksi beras serta harga bahan-bahan pokok yang cenderung masih stabil. “Produksi beras kita masih terbilang cukup stabil,” ucap Hatta.

Selain itu, lanjut dia, Pemerintah juga telah mengantisipasi terganggunya ketahanan pangan dengan memanfaatkan Badan Urusan Logistik (Bulog). “Hingga bulan ini, Bulog telah membeli beras petani hingga 2,9 juta ton,” jelasnya.

Cara pemerintah mengantisipasi kemarau yang panjang tidak hanya membuat saluran-saluran irigasi agar sawah-sawah bisa tetap memproduksi, namun pemerintah juga berniat untuk membuat hujan buatan yang dilakukan pada Oktober 2012. “Dibutuhkan dana sekitar Rp1,7 miliar untuk membuat sekali hujan buatan,” ungkap Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, Muhammad Hasan di Jakarta

Dikatakan Hatta, nantinya curah hujan yang diturunkan dalam hujan buatan tersebut mencapai 200 meter kubik per detik. Hujan ini bertujuan untuk mengisi waduk-waduk yang mulai mengalami simpangan minus volume air. “Kami akan terus berikhtiar untuk menanggulangi masalah kekeringan ini,” ujar Hasan.

Saat ini, setidaknya ada sekitar 13,9 ribu hektar di Jawa Timur yang mengalami kekeringan. Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jawa Timur Achmad Nurfalakhi mengatakan dampak kekeringan ini berakibat tanaman sawah menjadi gagal panen. “Hampir 13,9 ribu hektar sawah di Jawa Timur mengalami kekeringan yang berakibat gagal panen,” katanya.

Dinas Pertanian Jawa Timur mencatat, kekeringan paling luas terjadi di Kabupaten Bojonegoro seluas 5.410 hektare, Lamongan 2.102 hektare, Tulungagung seluas 2.102 hektare, Trenggalek 1.470 hektare dan Ngawi 948 hektare.

Gagal panen yang dialami petani, menurut Achmad, terbagi dalam berbagai kriteria. Seluas 2.977,49 hektare padi mengalami gagal panen 100% dan 1.961 hektare gagal panen 75%. Selain itu, seluas 3.429 hektare mengalami kekeringan sedang (gagal panen 50%) dan seluas 5.588 hektare mengalami kekeringan ringan (gagal panen 25%). Agar gagal panen tidak meluas, dia melanjutkan, Dinas Pertanian menyebarkan 50 unit pompa air untuk petani yang mengalami kekeringan itu. “Pompa ini kami pinjamkan untuk menyedot sawah-sawah yang masih ada airnya,” imbuhnya. **bari