Kontribusi Perbankan Syariah Capai 72%

Senin, 10/09/2012

NERACA

Jakarta—Perbankan syariah memberikan kontribusi tinggi terhadap perekonomian negara. Bahkan selama 5 tahun kontribusi itu mencapai 72%. “Selama 5 tahun ( 2005-2011) pembiayaan di UMKM tumbuh hampir 72 % terhadap total pembiayaan, sedangkan konvensional 51,09 %. Tentu saja Ini sejalan dengan tujuan syariah dalam memajukan kesejahteraan masyarakat," kata kata Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Yuslam Fauzi di Jakarta.

Menurut Yuslam, pertumbuhan perbankan syariah lebih pesat dibanding bank konvensional. Dari pertumbuhan asset cukup mencengangkan dalam dua dekade terakhir ini. "Aset sekarang Rp145,4 triliun, itu sudah tumbuh 85 % dari awal didirikan. Annual growth aset tumbuh 49,21 % per tahun empat kali dari perbankan konvensional," ungkapnya

Lebih jauh Yuslam menambahkan pertumbuhan juga terjadi pada pembiayaan dan DPK. Perbankan syariah pun mengalai fungsi rasio intermediasi sangat baik. "(Rasio DPK terhadap pembiayaan) FDR di 2010-2011 yaitu 100,6 %, sedangkan pada perbankan konvensional 62,3%," tambahnya

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad meminta agar industri perbankan syariah untuk bersinergi dengan unit syariah lainnya dan perbankan konvensional, agar dapat mendongkrak pertumbuhan industri tersebut. "Misalnya di bank itu kan ada syariah, asuransi syariah, ada pasar modal syariah. Nah, ini disinergikan supaya bisa berkembang lebih bagus, kan industri keuangan syariah masih kecil, supaya besar ya harus membangun sinergi," jelasnya

Menurut Muliaman, perbankan syariah harus memiliki model bisnis yang bisa diintegrasikan antar lembaga keuangan. "Ini biar ada keterkaitan antara satu dengan yang lain," ucapnya

Ditempat yang sama, Menteri Keuangan Agus Martowardodjo mengungkapkan keterwakilan Indonesia di dunia syariah internasional masih minim. Hal ini tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama muslim.

Agus Marto mengakui pada dekade ini hingga beberapa dekade ke depan sampai 2025 adalah fase pembangunan terbaik bagi Indonesia, yaitu mengalami bonus demografi yang merupakan modal besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Tapi tantangan terbesar adalah kualitas SDM yang relatif belum bisa bersaing di lingkup global. Ini terlihat dari masih rendahnya keterwakilan Indonesia di lembaga-lembaga internasional. Sebagai contoh di Bank Dunia, hanya 60 pegawai yang berasal dari Indonesia. Kondisi yang sama terjadi di IMF, ADB, IDB, dan lain-lai," jelasnya

Mantan Dirut Bank Mandiri ini menambahkan Indonesia masih kalah bersaing di dunia internasional dalam keterwakilannya di bidang syariah, walau memiliki penduduk yang mayoritas muslim.

Di sisi lain, pemerintah mengklaim alokasi dana pendidikan sebesar 20% dari APBN tiap tahunnya bisa digunakan untuk mendongkrak kualitas SDM. "Tantangan untuk SDM syariah salah satunya di pesantren. Pada 2011 terdapat 3,65 juta santri di sekitar 25 ribu pesantren. Apabila dikelola dengan baik, bisa menjadi tulang punggung ekonomi syariah di masa depan,” tukasnya

Namun pesantren masih bersifat tradisional shg terkesan elitis. Koordinasi dan harmonisasi pesantren menjadi pemecahan problematik di pesantren, menyeimbangkan sistem pengajaran tradisional dan modern," katanya.

Bahkan Agus berharap, ekonomi syariah Indonesia akan mampu memimpin perekonomian dunia dengan adanya peningkatan kualitas SDM, serta ditopang dengan kebijakan dan sistem yang memadai. "Ke depan kami berharap peningkatan ekonomi Islam mjd kebanggan Indonesia," ujarnya. **bari/ria