Kapal Tuna Ditabrak Tanker Asing, Kerugian Capai Rp 1 Miliar

Industri Perikanan

Senin, 10/09/2012

NERACA

Jakarta - Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin) menyatakan, kapal tanker asing berbendera Marshal Island menabrak lari kapal tuna Putra Baru asal Indonesia. Dua nelayan, yakni nahkoda dan satu anak buah kapal dinyatakan tewas, kerugian diperkirakan mencapai Rp 1 miliar.

“Kapal kita ditabrak dan terkatung katung di laut, sampai ditolong kapal yang lewat. Kita kehilangan satu nahkoda bernama Jahari dan ABK bernama Joshep. Setelah berhari hari kita cari tidak ketemu dan kita perkirakan tewas,” kata Ketua Harian Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin) Edy Yuwono, kepada wartawan, di Jakarta, Minggu (9/9).

Kapal tuna KM Putra Baru I, kata Edy sedang menangkap ikan tuna di laut dan tiba-tiba ditabrak kapal tanker curah belum lama ini. Akibatnya kapal hancur, dan ABK lain yang selamat di kapal teratung katung selama beberapa hari di laut sampai diselamatkan kapal yang lewat. Kasu itu, kata Edi sudah dilaporkan ke Mabes Polair, dan tim dari Polair sudah melakukan penyelidikan ke kapal tanker yang melarikan diri ke Kalimantan Selatan.

Akan tetapi saat tim Polair melakukan penyelidikan ke Kalimantan Selatan, justru tim yang berencana memeriksa kapal, dihalangi Wakil Kepala Seksi Pengawasan dan Penyelamatan (Wakasigamat) Adpel Kalsel. Akibatnya petugas tidak bisa melakukan pemeriksaan, hingga kapal melarikan diri ke Singapura dan Nahkoda dari kapal Agia Arini berbendera Marshal Island turun di Singapura. “Kapal tanker itu tidak bertanggung jawab, sudah menabrak dan melarikan diri. Padahal ada dua nelayan kita tewas dan kerugian mencapai satu miliar rupiah,” tegasnya.

Edy mengaku mempertanyakan pengawasa dari Wakasigamat Kalimantan Selatan, seharusnya petugas tersebut melindungi nelayan tidak justru membiarkan kapal asing yang menabrak melarikan diri. Menurut Edi, bagi pelaku penangkapan tuna, kasus tersebut cukup merugikan. Karena saat ini pengusaha penangkapan tuna sedang dipusingkan dengan biaya bahan bakar yang mahal.

“Saat ini kan pengusaha dan nelayan memperhitungkan benar kalau mau melaut, karena bahan bakar hanya di subsidi 25 kiloliter padahal kebutuhan kita 75 kiloliter. Jika kondisi tersebut terus berlangsung bagaimana bisa visible,” paparnya.

Lebih lanjut Edy mengatakan, saat ini sedang musim tangkapan tuna sehingga seharusnya pelaku usaha penangkapan bergairah. Akan tetapi karena BBM untuk operasional mahal, dan kasus penabrakan kapal penangkapan tuna dibiarkan oleh pengawas justru membuat kondisi usaha tuna semakin sulit.

Secara volume, puncak tangkapan tuna terjadi pada Agustus sampai Februari. Kendati sekarang lagi musim ikan tuna, namun volumenya tidak seperti dulu lagi. “Zaman dulu anggota Astuin, tangkapan kita juga dibatasi kuota tahun ini 580 ton dari 700 ton tahun lalu. Dulu kita punya kapal 600 long line sekarang tinggal 280 kapal long line tuna. Kalau bisa memberikan subsidi BBM di awal sebesar 25 kiloliter untuk penangkapan satu bulan,” ungkapnya.

Dalam hitungan Astuin, harga keekonomian BBM Rp 9.000 perliter, kalau disubsidi itu masih fisibel. “Saya yakin ekspor tuna itu turun, proyeksi kita turun 20%. Dibandingkan tahun lalu, di pasar sebenarnya tidak terpengaruh, ikan mulai sulit harga pasti naik,” tandasnya.