Tambah Pabrik Baru, Penjualan Mayora Makin Renyah - PT Mayora Indah Tbk

NERACA

Jakarta – Bisnis konsumer good terus mengalami permintaan pasar yang signifikan seiring membaiknya daya beli masyarakat. Menyadari kondisi tersebut produsen makanan dan minuman dalam kemasan, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) terus meningkatkan produksinya. Salah satunya yang dilakukan perseroan dengan membangun pabrik biskuit baru senilai Rp 450 miliar.

Direktur Manufaktur Mayora, Nurdin Lesmana mengatakan, pabrik baru berkapasitas produksi 200 ribu ton per tahun itu mutlak diperlukan. Sebab, kemampuan produksi dua pabrik Jatake I dan II yang beroperasi saat ini sudah maksimal. Padahal, permintaan biskuit naik 20% tiap tahunnya, “Realisasi proyek pembangunan pabrik baru itu dipercepat dari jadwal semula yang direncanakan pada bulan Juni, kami majukan menjadi Mei," katanya di Tangerang kemarin.

Dia menuturkan, pabrik baru yang akan menyerap 2 ribu karyawan ini rencananya dibangun di atas lahan seluas 7 hektare. Saat ini proses pembangunan pabrik tersebut sudah mencapai 20% dan dengan pabrik baru itu, Mayora bakal membuat produk untuk konsumen kelas menengah ke atas.

Lebih lanjut, Nurdin menambahkan, sumber pendaan proyek pembangunan pabrik diperoleh dari penerbitan obligasi. Beberapa bulan lalu, Mayora menerbitkan obligasi senilai Rp 750 miliar yang terdiri dari obligasi Rp 500 miliar dan sisanya obligasi syariah Rp 250 miliar.

Penjualan Semester Dua

Pada semester kedua tahun ini, Mayora mengincar penjualan sebesar Rp6 triliun. Target penjualan tersebut, menurut Hendri setara dengan 65% dari total target penjualan yang dipatok perseroan untuk tahun ini yaitu sebesar Rp11,4 triliun. Sementara target penjualan tahun ini, perseroan mematok diangka Rp 11,4 triliun. Angka ini naik 20% dibandingkan dengan tahun 2011 yang mencapai Rp 9,5 triliun. Hingga sementara pertama tahun ini, emiten berkode MYOR itu mencatatkan penjualan Rp 5,4 triliun.

Dia juga menegaskan, realisasi penjualan diperkirakan bisa mencapai 65% dari target karena ada faktor lebaran, natal, dan persiapan tahun baru. "Di semester pertama, siklus penjualan biasanya memang lebih rendah, tapi di semester kedua kemungkinan bisa lebih besar karena ada beberapa even," katanya.

Sampai dengan periode Januari-Juni 2012, perseroan mencatat sebagian besar penjualan dipasarkan ke pasar domestik yaitu mencapai Rp3,68 triliun sedangkan sisanya Rp1,76 triliun di ekspor ke luar negeri. Sepanjang tahun lalu, perusahaan yang masuk ke dalam Grup Inbisco ini membukukan penurunan laba bersih sebesar 2,69% menjadi Rp471,03 miliar dari Rp484,07 miliar pada tahun sebelumnya.

Penurunan laba bersih tersebut disebabkan oleh kenaikan bahan baku seperti gula dan creamer sekitar 19%-25%. Seiring dengan kenaikan bahan baku tersebut, perseroan pada tahun ini berencana menaikkan harga jual produk Mayora sekitar 5%-10% secara bertahap.

Pasar Ekspor

Sampai saat ini, Mayora telah melakukan penjualan ke 85 negara. Kontribusi pendapatan dari pasar ekspor terhadap total pendapatan perseroan terus mengalami peningkatan dari 8% di 2007 menjadi 35% di akhir tahun 2011.

Rencananya, di 2012, Mayora berencana melakukan ekpansi ke negara Timur Tengah dan Afrika. Dengan melakukan ekspansi di dua negara tersebut, Hendri memprediksikan, target ekspornya bisa mencapai US$10 juta.

Untuk menjamin ketersediaan produk-produknya di pasar internasional, saat ini perseroan telah menjalin kerja sama dengan beberapa distributor dan pembeli langsung di luar negeri. Sementara untuk pasar lokal sendiri, perseroan mempercayakan jaringan distribusinya melalui PT Inbisco Niagatama Semesta. (bani)

Related posts