BI Tetap Akan Bantu IMF US$1 Miliar

Terkait Pinjaman

Jumat, 07/09/2012

NERACA

Jakarta–Bank Indonesia tetap akan memberikan pinjaman kepada Lembaga moneter internasional (IMF) sekitar US$ 1 miliar atau Rp 9 triliun. Alasanya sangat tidak pantas Indonesia tak membantu negara-negara anggotanya, khususnya di Eropa yang sedang krisis. “Singapura saja memberi US$ 4 miliar, kalau Malaysia, Thailand, Filipina, masing-masing US$ 1 miliar. Indonesia yang merupakan anggota G20, Ketua juga di ASEAN akan janggal sekali kalau tidak ikut, kelihatan egois sekali,” kata Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta,6/9

Menurut Darmin, pemberian pinjaman ini juga demi menjaga hubungan baik antara anggota IMF. Sehinga Indonesia tetap mempunyai nilai di mata dunia. "Pada pertemuan G20, dalam periode diambil, yang bicara itu BI, hal ini guna menjaga hubungan, tiba-tiba tidak ikut, maka sangat tidak elok," tuturnya

Lebih jauh kata Mantan Dirjen Pajak ini, Indonesia membantu IMF melalui pembelian surat utang US$ 1 miliar. Bahkan pembelian surat utang ini dianggap menguntungkan, karena bunganya tinggi. Dana yang digunakan BI berasal dari cadangan devisa. "Cadangan devisa ditaruh di surat berharga karena bunganya tinggi di negara manapun juga begitu. Tapi, di negara kita aneh, justru deposito lebih tinggi bunganya dari surat berharga. Jadi dengan pinjaman itu, kita tidak berkurang, ada returnnya, dan pamornya juga ada," jelasnya

Saat ini sejumlah negara anggota IMF telah berjanji untuk meningkatkan sumber dana IMF sebesar US$ 430 miliar, yang akan digunakan untuk membantu memperkuat stabilitas ekonomi dan keuangan global.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono mengungkapkan, ada kenaikan yang terjadi pada cadangan devisa RI sebesar USD2,45 miliar dalam kurun waktu Juli hingga akhir Agustus 2012. Intinya, cadangan devisa pada akhir Juli sebesar USD106,55 miliar sedangkan pada akhir Agustus mencapai angka USD109 miliar.

Hartadi juga menambahkan, adanya transkasi dari term deposit valuta asing, membuat sisi utang pemerintah terlihat masih positif. "Meningkatnya cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan hasil ekspor, terutama dari sektor minyak dan gas sebagai faktor pendorong utama bertambahnya cadev RI hingga akhir Agustus 2012," katanya

Padahal sebelumnya, Darmin mengatakan sulit bagi BI untuk melakukan adjustment atau penyesuaian secara maksimal untuk menekan defisit transaksi berjalan bila tidak ada kenaikan harga BBM. Padahal cadangan devisa (cadev) semakin tergerus karena impor hasil minyak yang sangat tinggi sepanjang tahun ini. "Cadev sekarang USD106,5 miliar tapi sayangnya pemerintah tidak berhasil menaikkan harga BBM sehingga proses adjustment tidak akan sama maka akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk perbaikan transaksi berjalan," tuturnya

Darmin mengingatkan, dalam tujuh sampai delapan tahun terakhir, BI telah beberapa kali melakukan adjustment saat ada kenaikan harga BBM guna memperbaiki deficit transaksi berjalan. Pada 2005, misalnya, transaksi berjalan defisit akibat naiknya harga minyak dunia.

Saat pemerintah menaikkan harga BBM bahkan sampai dua kali, BI pun segera melakukan adjustment dengan cara menaikkan suku bunga dan melemahkan nilai tukar untuk menekan defisit transaksi berjalan.

Campur tangan BI tersebut berhasil mengembalikan defisit transkasi berjalan ke posisi surplus dalam waktu satu hingga dua kuartal. Begitu pula pada 2008 di saat harga minyak melonjak. Saat itu, pemerintah menaikkan BBM sekira 30 %. "Sayangnya adjustment yang dilakukan sedikit terlambat sehingga penyelesaian memakan waktu empat kuartal untuk memperbaiki transaksi berjalan," tandasnya. **ria/cahyo