Hutan Tanaman Industri Harus Dikelola Secara Lestari

NERACA

Jakarta - Pemerintah memperingatkan pengelola hutan tanaman industri untuk beroperasi dengan tetap mempertahankan keanekaragaman hayati. Langkah tersebut bukan cuma memastikan kelestarian hutan tapi juga keberlanjutan usaha yang dijalankan.

Menurut Sekretaris Jendral Kementerian Kehutanan Hadi Daryanto, contoh bagus dalam pengelolaan HTI bisa dilihat dari apa yang dilakukan oleh Asia Pulp and Paper (APP). “Mereka mau melakukan audit hutan bernilai konservasi tinggi yang ada di konsesinya secara sukarela dan mengumumkan perkembangannya kepada publik dengan terbuka,” kata Hadi di Jakarta, Kamis (6/9).

Hadi menanggapi laporan kwartal pertama pelaksanaan peta jalan kelestarian APP yang diumumkan lewat laman perusahaan tersebut. Awal Juni lalu, APP mengumumkan peta jalan kelestarian dengan sejumlah target ambisius termasuk diantaranya memastikan seluruh bahan baku industri pulp berasal dari HTI yang dikelola lestari pada tahun 2015. Untuk itu, seluruh HTI APP dan mitra-mitranya akan menjalani audit hutan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV). APP juga menargetkan seluruh pemasok bahan bakunya memperoleh sertifikat pengelolaan hutan lestari paling telat tahun 2020.

Dalam laporan yang dipublikasikan Rabu (5/9), terungkap bahwa perkembangan penilaian HCV terhadap konsesi HTI APP dan mitra-mitranya yang menunjukan perkembangan signifikan. Saat ini sudah sekitar 80% konsesi HTI APP di Jambi dan Riau sudah menyelesaikan penilaian tersebut. Sementara untuk konsesi yang berada di Kalimantan Barat Sudah mencapai 50%. Selain itu dua perusahaan mitra di Jambi juga sudah menyetujui untuk dilibatkan dalam penilaian tersebut yang memastikan penundaan pembukaan hutan alam di seluruh pemasok bahan baku kayu APP pada provinsi itu.

Hadi juga memuji langkah APP yang melibatkan publik dan pihak ketiga dalam audit HCV. Hal itu, kata dia, mendukung perbaikan tata kelola hutan. "Pemerintah sudah terus memperbaiki tata kelola hutan termasuk diantaranya lewat Instruksi Presiden No. 10 tahun 2012. Hal itu tentu harus diikuti oleh pihak swasta yang diberi izin mengelola hutan,” ujar Dia.

Sementara itu Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto mengatakan, secara umum perusahaan HTI sudah menerapkan prinsip kelestarian melalui penerapan deliniasi mikro yang diwajibkan oleh Kemenhut. “Penerapan prinsip HCV seperti yang dilakukan APP tentu lebih baik dan punya nilai plus,” terangnya.

Purwadi juga mengakui, penerapan HCV mungkin berpengaruh kepada luas efektif tanaman pokok HTI. Meski demikian hal itu justru menjadi tantangan bagi pengelola HTI untuk dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi dari setiap batang tanaman. “Pengelola HTI tentu akan menggenjot riset untuk meningkat riap pertumbuhan pohon agar produktivitasnya meningkat,” tuturnya.

Dia juga menilai hal itu akan meningkatkan citra pengelola HTI di mata publik dan pasar yang pada akhirnya bisa meningkatkan kinerja ekspor pulp dan kertas secara nasional.

BERITA TERKAIT

LG Chemical Ingin Terlibat Proyek Percontohan Motor Listrik

NERACA Jakarta - Perusahaan ternama Korea Selatan, LG Chemical ingin berpartisipasi dalam pilot project pengembangan kendaraan motor listrik di Tanah Air. Langkah…

AS Minat Investasi di RI Bidang Indsutri 4.0

Jakarta - Kementerian Perindustrian ikut aktif mendorong peningkatan investasi industri digital guna memperkuat struktur teknologi di dalam negeri, terutama dalam…

Kemenperin Siap Bangun ‘Material Center’ IKM Furnitur di Jepara

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian akan membangun material center untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang menghasilkan produk…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Awal 2020, Bulog Gelontorkan Beras CBP

NERACA Jakarta - Perum BULOG telah menggelontorkan CBP (Cadangan Beras Pemerintah) sebesar 120 ton sampai dengan minggu kedua di bulan…

PUGAR, Solusi Atasi Garam Rakyat

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan terus berupaya meningakatkan kesejahteraan petambak garam melalui program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR)…

WEF 2020, Kemenperin Bangun Daya Saing Manufaktur

NERACA Jakarta –  Dalam World Economic Forum (WEF) 2020, Kementerian Perindustria (Kemenperin) para pemangku kepentingan global untuk membangun daya saing…