Pelemahan Rupiah Masih Wajar

Jumat, 07/09/2012

NERACA

Jakarta--Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai masih wajar. Alasanya diimbangi dengan arus dana asing masuk melalui investasi. "Pelemahan nilai tukar rupiah masih saya anggap normal karena defisit transaksi berjalan masih diimbangi dengan kenaikan “foreign direct investment” (FDI) yang diperkirakan masih akan terus naik," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono di Jakarta, Kamis.

Hartadi menambahkan jumlah valuta dolar AS yang beredar di pasar masih sesuai dengan kebutuhan dan permintaan seiiring dengan fundamentalnya. "Kami mengetahui fundamental sangat dekat dengan "ballance of payment" dimana di transaksi berjalan mengalami defisit, itu akan membuat rupiah melemah karena penyesuaiannya seperti itu. Apalagi kalau financing-nya tidak ada," tambahnya

Lebih jauh Hartadi menyebutkan hingga saat ini rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp9.270. "Diperkirakan 2012 ini ada kecenderungan melemah seperti sekarang ini antara 9.200-9.400 tapi masih realistis. Apa yang dikemukan di DPR itu memang rata-rata untuk setahun, jadi jangan pusing dengan rata-rata harian," jelasnya

Dikatakan Hartadi, BI akan tetap menjaga agar fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak terlalu besar. “BI akan tetap di pasar kalau likuiditas diperlukan. Kadang-kadang dengan penurunan ekpor seperti sekarang, Devisa Hasil Ekspor belum bisa memenuhi kecukupan sehingga kami memonitor agar pergerakan nilai tukar terjadi depresiasi tidak "volatile"," ujar dia.

Mata uang rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah sebesar 10 poin pada Kamis pagi dipicu masih adanya kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi global.

Pada perdagangan sore hari, mata uang rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah ke posisi Rp9.590 pada Kamis sore dipicu sebagian pelaku pasar uang yang masih meragukan kebijakan bank sentral Eropa (ECB).

Menurut pengamat pasar modal Monex Investindo Futures, Johanes Ginting, nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Kamis sore bergerak melemah sebesar 20 poin menjadi Rp9.590 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.570 per dolar AS. "Investor mulai meragukan apakah ECB akan benar-benar mengumumkan rencananya untuk menanggulangi krisis hutang," ujarnya

Lebih lanjut Ginting menambahkan, ECB hingga saat ini nampak masih berhati-hati dalam mengungkapkan target pembelian obligasi mengingat masih adanya penolakan dari bank sentral Jerman.

Sejak awal pekan, lanjut dia, pergerakan mata uang rupiah terpengaruh sentimen di pasar global, pergerakannya cukup sensitif terhadap berita yang ada kaitannya dengan masalah krisis utang di Eropa. "Meski demikian, seiring dengan kondisi ekonomi dalam negeri yang masih dalam keadaan stabil turut membatasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS agar tidak terlalu tajam," tuturnya

Sementara itu, Managing Research PT Indosurya Asset Management, Reza Priyambada menambahkan, pergerakan rupiah dipicu masih adanya kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi global. Terutama, setelah produk domestik bruto (PDB) Australia untuk semester I 2012 dirilis lebih rendah dari perkiraan. "Di sisi lain, Eropa juga mendapat tekanan negatif dari MenKeu Jerman yang mengatakan, masalah Eropa belum akan selesai dalam waktu dekat," jelasnya.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Kamis (6/9) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp9.592 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.588 per dolar AS. **ria/cahyo