Investor Sudah “Kebal “ Teror Bom Di Indonesia

Investor Sudah “Kebal “ Teror Bom Di Indonesia

Jakarta—Bom dan demontrasi diyakini tak lagi mampu “menggoyahkan” makro ekonomi Indonesia, termasuk masalah iklim investasi.yang saat ini sudah naik peringkat. Intinya Bom Cirebon tak lagi mempengaruhi investor. . "Tidak, investor tidak pernah menanyakan masalah keamanan," kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa kepada wartawan di Jakarta,16/4.

Keyakinan Hatta itu bukan tanpa alasan. Karena saat ini Indonesia sudah melewati fase kritikal dalam berbangsa yakni otoriter ke demokrasi. Sehingga cara pandang investor juga mulai berubah terhadap Indonesia. "Freedom yang membuat malaikat berbeda dengan manusia," cetusnya.

Lebih jauh kata Ketua umum PAN, Indonesia saat ini merupakan negara demokrasi. Bahkan, dirinya akan heran jika tidak ada demo yang terjadi di Indonesia. Demikian kelakar Hatta pada pihak Deutsche Bank. "Saya secara bergurau mengatakan pada pihak Deutsche Bank. Kalau dulu ada demo kita terkaget-kaget, kalau sekarang enggak ada demo justru kita kaget," canda mantan Mensesneg..

Ditempat terpisah, Ekonom Goldman Sachs Jim O’Neill membuat definisi ulang kelompok BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) sebagai emerging market seiring pertumbuhan ekonomi keempat negara itu. Dia bahkan menilai, Indonesia, Korea Selatan, dan Turki, yang perekonomiannya lebih besar dibanding Afrika Selatan,lebih pantas masuk BRIC.

Menurut O’Neill, kemunculan kelompok ekonomi baru lain di samping BRIC mengubah definisi BRIC menjadi BRICS, di mana ”S” disematkan untuk Afrika Selatan (South Africa). Kelompok baru itu adalah Indonesia,Meksiko, Korea Selatan (Korsel), dan Turki, yang dianggapnya sebagai ”pasar pertumbuhan”.

Dikatakan O’Neill, negara-negara BRIC memang kelompok lama terkemuka dalam pertumbuhan ekonomi.Saat ini kelompok ekonomi baru itu masih kalah dibanding BRIC dalam pertumbuhan. Ekonomi BRIC saat ini bernilai sekitar USD11- 12 triliun, masih di bawah AmerikaSerikat( AS) yangmencapai USD15 triliun.Namun,kata dia, bukan tidak mungkin BRIC akan melewati Paman Sam mengingat cepatnya pertumbuhan di negara-negara itu.

Dia memperkirakan, pada 2020, produk domestik bruto (PDB) gabungan dari empat anggota BRIC akan menembus USD25 triliun. Jika digabungkan dengan Indonesia, Meksiko, Korsel, dan Turki, bisa mencapai USD30 triliun.O’Neill yang juga Chairman Goldman Sachs Asset Management menambahkan,BRICS tidak lagi masuk dalam kategori emerging market karena pasar kelima negara itu berbeda satu sama lain.”Saya tidak memikirkan Brasil, Rusia, India, dan China,” kata O’Neill dalam wawancara dengan China Daily yang dirilis kemarin.

Dalam pandangannya, awalnya BRIC dianggap emerging market karena perekonomian mereka memiliki tren pertumbuhan PDB antara 3,7- 4,5 persen per tahun. Sedangkan saat ini pertumbuhan PDB BRIC sudah lebih dari itu.

Analis Eurasia Group untuk kawasan Afrika Anne Fruhauf menyatakan, bergabungnya Afrika Selatan ke dalam kelompok BRICS berbau politis karena dianggap hanya dijadikan batu loncatan bagi anggota asli BRIC yakni Brasil, Rusia, India,dan China agar memiliki akses ke sub-Sahara Afrika.

Fruhauf menambahkan, masuknya Afrika Selatan ke dalam kelompok ekonomi itu merupakan buah dari lobi kepada China, salah satu mitra perdagangan terbesarnya. Pertemuan puncak BRIC di China hari ini akan menjadi momen penting bagi Afrika Selatan. Mereka akhirnya berhasil menjadi anggota kelima BRIC. Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma menegaskan, masuknya Afrika Selatan menjadi anggota BRICS adalah salah satu upaya untuk mengangkat bangsanya di panggung dunia. **cahyo

Related posts