Industri Mebel Nasional

Oleh : Fauzi Aziz

Pemerhati Kebijakan Industri dan Perdagangan

Mebel sudah lama kita kenali, dan perkembangannya boleh dikatakan berjalan seiring dengan perkembangan kemajuan di dunia industri properti dan arsitektur di seluruh dunia. Peran dan fungsinya dalam konteks keterhubungannya dengan industri properti, dunia arsitektur dan bahkan life style sangat erat dan kuat.

Mereka bisa dibilang sebagai keluarga besar rumpun industri yang seharusnya menjadi sebuah klaster. Mebel memang bukan kebutuhan primer tapi merupakan kebutuhan sekunder bagi para konsumen penggunanya. Mebel diperlukan sebagai "kelengkapan atau asesoris" tapi bernilai vital bagi rumah tangga, apartemen, perkantoran, hotel dan restoran, dan publik area seperti pertamanan kota dan keperluan lainnya.

Karena begitu kuat keterhubungannya antara industri mebel dengan industri properti dan komunitas arsitektur, maka perkembangan dan pertumbuhan bisnisnya bisa saling mempengaruhi. Pada level makro, konjungtur ekonomi yang up and down sangat kuat berpengaruh terhadap pertumbuhan industri properti yang siklusnya jika sedang bomming, efeknya bersinggungan kuat dengan perkembangan industri mebel. Boleh dibilang industri properti baik di dalam maupun di luar negeri adalah sebagai champion sekaligus lokomotif pasar industri mebel.

Oleh sebab itu, ketika terjadi krisis ekonomi, dunia industri properti menjadi korban pertama yang mengalami declining dengan akibat lebih lanjut terjadinya penurunan dalam pertumbuhan industri-industri yang terkoneksi langsung seperti industri mebel. Dengan pemahaman yang seperti itu, dunia bisnis mebel segmentasi pasarnya luas dan beragam. Menurut Asmindo, pada tahun 2011 ekspor mebel mencapai sekitar US$ 1,85 miliar equivalen sekitar Rp 17,5 triliun. Akibat krisis ekonomi di AS dan Zona Eropa, tahun 2012 diperkirakan hanya akan mencapai sekitar US$ 1,76 miliar setara Rp 16,7 triliun atau turun sekitar 4,8%.

Sayangnya tidak disampaikan berapa nilai transaksinya di pasar dalam negeri. Industri mebel di Indonesia sebagian besar berskala IKM dan sangat padat karya dari penghasil devisa yang tidak kecil. Dalam kaitan membangun ketahanan ekonomi nasional, rasanya tepat jika pemerintah dan lembaga pembiayaan tidak setengah hati memberikan dukungan yang maksimal karena daya inovasi dan kreativitas kewirausahaannya cukup banyak kita miliki, sehingga Indonesia diperhitungkan sebagai pusat produksi mebel yang punya masa depan. Kita tidak boleh mati suri dalam mengambil peran dalam bisnis mebel global, termasuk di ASEAN.

Indonesia harus mampu mengambil posisi sebagai pusat produksi dan distribusi mebel di tingkat regional ASEAN maupun Asia. Jangan sampai menjadi seperti tikus mati dilumbung padi dan nasibnya sama seperti yang dialami oleh industri kayu lapis di masa lalu. Oleh sebab itu, perlu melakukan langkah positioning dan re-inventing baik pada level policy dan progam maupun dilevel bisnis dan at company level. Secara strategis, pemerintah, Asmindo, Amkri dan Asosiasi lain yang terkait harus berada dalam satu fron untuk memenangkan pasar paling besar di dalam dan luar negeri.

BERITA TERKAIT

Infrastruktur Gas untuk Kemandirian Energi Nasional

  NERACA Jakarta - Pembangunan infrastruktur gas yang memadai ke seluruh daerah di Indonesia dengan didukung alokasi anggaran yang mencukupi…

Citilink Buka Rute Baru Jakarta -Banyuwangi - Dukung Industri Pariwisata

NERACA Jakarta - Maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia terus melakukan ekspansi bisnis dengan membuka rute baru untuk melanjutkan pertumbuhan…

INDUSTRI PENYUMBANG EKSPOR

Pekerja menyelesaikan produksi pakaian jadi di pabrik olahan pakaian jadi C59, Bandung, Jawa Barat, Senin (19/2). Pemerintah mencatat produk olahan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Modal Pemerintah di Koperasi, Mungkinkah?

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Koperasi yang merupakan soko guru perekonomian nasional—sebenarnya mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap…

Keuangan Inklusif yang Ekslusif

  Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pada 13 Februari 2018, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Utusan Khusus…

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…