BBM Naik Rp500, Inflasi “Naik” 1,6% - Perkiraan BI

Perkiraan BI

BBM Naik Rp500, Inflasi “Naik” 1,6%

Jakarta—Bank Indonesia mengkaji potensi inflasi yang terjadi terkait dengan rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak sebesar Rp500/liter. Adapun tekanan inflasi yang akan diberikan berkisar antara 1,2%-1,6%. Untuk alternatif kedua yaitu menaikkan harga BBM subsidi Rp500 akan menyebabkan inflasi 1,2%-1,6%,” kata Peneliti Ekonomi Utama BI Juda Agung kepada wartawan di Bandung,17/4.

Menurut Juda, rencana pembatasan BBM bersubsidi, baik premium maupun solar akan memberikan tekanan inflasi sekitar 0,8%. “BBM bersubdisi yang hanya dibolehkan untuk roda dua dan plat kuning bisa memberikan tekanan pada inflasi sebesar 0,8%,” tambahnya.

Lebih jauh kata Juda, perkiraan tersebut telah memperhitungkan setiap aspek dan kemungkinan yang ada. "Telah kita hitung dari first round effect, second round effect hingga consumer confident," tegasnya.

Keyakinan Juda tersebut, karena berdasarkan pengalaman kenaikan harga BBM subsidi pada 2005 dan 2007 lalu setiap kali harga BBM naik akan berdampak signifikan terhadap inflasi. Para pengusaha telah menaikkan harga sebelum BBM naik. "Pengalaman menunjukkan consumer confident selalu anjlok," paparnya.

Ditempat terpisah, Pengamat Perminyakan Kurtubi mengataka opsi pemerintah menaikkan harga premium di Rp 6.500/liter dinilai terlalu tinggi. Seharusnya, pemerintah cukup menaikkan harga premium Rp 1.000 per liter sehingga menjadi Rp 5.500 per liter."Menaikkan harga premium di Rp 6.500 per liter itu kemahalan. Kalau naik itu maksimal Rp 1.000 per liter," katanya.

Menurut Dosen Pascasarjana UI ini menaikkan harga BBM khususnya premium sebesar Rp 1.000 per liter maka pemerintah bisa menghemat anggaran hingga Rp 25 triliun. Selain itu menaikkan harga premium harus melihat dampak inflasi lebih jauh."Kalau naik Rp 1.000 dampak inflasi itu tidak terlalu besar dan pemerintah bisa menghemat Rp 25 triliun. Tetapi jika naik menjadi Rp 6.500 bisa berbahaya bagi inflasi dan khususnya psikologis masyarakat," tuturnya.

Diakui Kurtubi, sudah sepantasnya harga BBM khususnya premium disesuaikan dengan kenaikan harga minyak dunia. Ia mengatakan kenaikan harga premium sudah lagi tidak bisa dihindari. "Tetapi perlu prosedur dari pemerintah dalam mengumumkan kenaikan harga premium ini. Rakyat sebagian besar bisa menerima asalkan ada penjelasan dari pemerintah," terangnya.

Kurtubi mencontohkan, pemerintah dalam mengumumkan kenaikan harga premium harus memaparkan sebab secara jelas mengapa dinaikkan. Dijelaskan secara rinci mengenai harga minyak dunia yang naik. "Dan dijelaskan pula nantinya anggaran yang dikumpulkan dari BBM ini akan dikembalikan rakyat dalam bentuk pembangunan infrastruktur. Misalnya memperbiki jalan pembangunan jembatan. Jangan dipakai untuk gaji pegawai, pembangunan gedung DPR, membiayai studi kerja DPR. Seperti itu," ungkapnya.

Lebih lanjut Kurtubi mengatakan sudah seharusnya dalam waktu dekat ini pemerintah menaikkan harga premium. Menurutnya tidak menaikkan harga tidak bagus. "Dari pada pembatasan, plat hitam mending menaikkan harga, tetapi harus sesuai dan jangan terlalu tinggi," imbuhnya..

Seperti diketahui, salah satu opsi pemerintah yakni penyesuaian harga BBM diimbangi dengan pemberian subsidi langsung menggunakan alat kendali kartu prabayar. Teknisnya, harga premium dinaikkan menjadi Rp 6.500 per liter untuk dikonsumsi semua golongan pengguna kendaraan. Tetapi khusus pengguna kendaraan plat kuning, roda dua/tiga, dan kendaraan layanan umum akan diberikan subsidi langsung via perbankan. **cahyo

Related posts