SCTV Siap Menuai Untung Dari Hak Siar Liga Champion

Investasikan Rp 1 Triliun

Kamis, 06/09/2012

NERACA

Jakarta – Perkembangan industri televisi bersaing ketat, maka agar bisa survive dan bisa mendatangkan pundit keuntungan banyak program tayangan yang di siarkan dan salah satunya hak siap Liga Champiaons yang saat ini sudah ditangan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Adapun masa kontrak liga Champions selama tiga tahun. Maka dengan kehadiran liga Champions dapat melengkapi program televisi di SCTV.

Direktur Utama Surya Citra Media Fofo Sariaatmadja mengatakan, tahun ini hanya fokus pada peningkatan rating usai perseroan mendapatkan hak siar Liga Champions karena potensi pendapatan iklan dari program olahraga ini baru terasa di 2013, “Kami belum bisa sampaikan pendapatan iklan dari siaran sepak bola ini. Tahun ini kita fokus pada rating dulu, pengiklan nanti," katanya di Jakarta, Rabu (5/9).

Memang SCTV baru saja meraih hak siar Liga Champion dengan durasi tiga tahun mulai 2012 hingga 2015. Program ini sengaja dipilih karena masyarakat Indonesia sangat gemar olah raga sepak bola. Selama ini terbukti Liga Champion menjadi program yang 'seksi' hingga berpotensi mendatangkan pendapatan iklan.

Sebagai informasi, selama ini porsi tayangan terbesar di SCTV berasal dari drama dan film televisi, lalu musik. Tayangan drama dan film televisi serta musik ini memberikan kontribusi cukup besar, dengan ada program olahraga khususnya bola melengkapi program di SCTV.

Infrastruktur jaringan juga telah disiapkan SCTV demi berjalannya siaran Liga Champion dengan normal. "Di SCTV harus ada kata mampu, manusia-kan bisa ditraning. Infrastruktur juga sudah siap," tegasnya.

Televisi pimpinan Hary Tanoe sudah menjadi langganan penyiar Liga Champion kini harus rela direbut SCTV. Surya Citra Media menurut sumber, rela mengeluarkan dana Rp 1 triliun untuk pembelian hak siar tersebut.

Miliki Segmen Berbeda

Selain itu, dia juga menuturkan, program acara PT Surya Citra Televisi dengan PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) tidak dicampuradukkan karena memiliki segmen pasar berbeda. "Masing-masing stasiun televisi mempunyai segmen berbeda jadi program tidak dicampuradukkan. Selain itu, masing-masing stasiun televisi mempunyai ciri khas pemirsa yang sudah terbentuk,"ujarnya.

Menurutnya, SCTV dan Indosiar memiliki segmen pasar dan penonton berbeda. Masing-masing stasiun televisi tersebut pun memiliki kreatifitas sendiri-sendiri sehingga tidak akan mencampuradukkan program televisi.

Fofo menuturkan, meski Indosiar dan SCTV berada di bawah induk usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), masing-masing stasiun televisi memiliki kebijakan masing-masing. Masing-masing stasiun televisi pun mempunyai program pengembangan yang jelas dan inovatif. Sebelumnya, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk selaku induk usaha PT Surya Citra Media Tbk perusahaan pemilik SCTV mengambil alih 27,24% saham PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM).

Saat ini, sebagian besar program acara yang disiarkan oleh SCTV yaitu program drama, musik, dan film televisi. Perseroan akan menggenjot pendapatan dengan menghadirkan acara olahraga yaitu Liga Champions. "Kontrak liga Champions ini sekitar tiga tahun," kata Fofo.

Stock Split Saham

Selajutnya, hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan juga merencanakan stock split (pemecahan nominal saham) dengan rasio 1:5 sehingga nominal saham dari Rp250 menjadi Rp50.

Kata Fofo Sariaatmadja, stock split tersebut dilakukan agar saham lebih likuid. Selain itu, volume perdagangan saham perseroan menjadi lebih besar. Stock split tersebut diharapkan dapat selesai pada September 2012. "Mudah-mudahan stock split selesai pada bulan ini. Jumlah saham diperkirakan dari 1,95 miliar saham menjadi 9,75 miliar saham," tutur

Selain itu, perseroan melaporkan hasil penggunaan dana penawaran saham perdana yang telah habis digunakan pada tahun ini dalam RUPSLB SCMA. Perseroan telah menggunakan dana hasil penawaran saham perdana sekitar Rp243,5 miliar untuk refinancing, modal kerja sekitar Rp8,6 miliar, dan ekspansi usaha sekitar Rp136,1 miliar. "Dana ekspansi usaha untuk program, peremajaan transmisi, infrastruktur, dan pengembangan fasilitas digitalisasi sistem,"paparnya. (bani)