Rupiah Naik Tak Signifikan

Kamis, 06/09/2012

NERACA

Jakarta-Mata uang rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat tipis sebesar empat poin dipicu masih adanya aksi beli pelaku pasar uang meski bersifat terbatas pada Rabu sore. “Rupiah menguat tipis dipicu masih adanya aksi beli oleh para pelaku pasar. Akan tetapi, pembelian ini bersifat terbatas seiring imbas berbagai data ekonomi Eropa yang menegaskan perlambatan ekonomi," kata Managing Research PT Indosurya Asset Management, Reza Priyambada di Jakarta, Rabu

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Rabu sore bergerak menguat sebesar empat poin menjadi Rp9.576 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.580 per dolar AS. Perlambatan ekonomi Eropa diantaranya penurunan data produk domestik bruto (GDP) Swiss dan indeks konstruksi Inggris.

Sebelumnya, Gubernur Bank sentral Eropa (ECB), Mario Draghi mengeluarkan pernyataan yang cukup memberikan sentimen positif dimana akan melakukan pembelian obligasi di pasar sekunder hingga tenor tiga tahun. Di sisi lain, lanjut dia, rupiah juga dapat sentimen negatif dari pernyataan bank sentral Australia (RBA) yang mengakui adanya ancaman perlambatan ekonomi dunia, walaupun sebelumnya RBA masih mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5 persen. "Pagi tadi rupiah sempat menguat hingga 20 poin terhadap dolar AS, namun tergerus pada sore hari meski masih menguat," kata dia.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Rabu (5/9) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp9.588 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.578 per dolar AS.

Ditempat terpisah, Kurs euro melemah di perdagangan Asia, Rabu, karena pasar hati-hati menjelang pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) yang para dealer perkirakan akan melihat lebih banyak langkah-langkah memerangi krisis untuk benua yang dilanda utang.

Mata uang tunggal dibeli 1,2529 dolar dan 98,36 yen dalam perdagangan sore di Tokyo, dari 1,2564 dolar dan 98,51 yen di New York pada akhir Selasa.

Dolar sedikit berubah pada 78,37 yen terhadap 78,40 yen di New York, sekalipun data manufaktur yang buruk mengisyaratkan terjadinya perlambatan lebih lanjut dalam ekonomi AS.

Euro mundur dari tertinggi Senin yang dipicu oleh gubernur bank sentral Mario Draghi yang mengindikasikan kemungkinan memulai kembali pembelian obligasi yang diterbitkan oleh negara-negara zona euro bermasalah, seperti Italia dan Spanyol dalam upaya untuk menurunkan biaya pinjaman publik mereka.