Online Trading, Tren Baru Bersaing Merebut Banyak Investor

50% Perusahaan Sekuritas Gunakan Online Trading

Kamis, 06/09/2012

NERACA

Jakarta – Pemanfaatan teknologi informasi, tidak bisa lepas dari industri pasar modal dan salah satunya penggunaan transaksi online trading. Saat ini, online trading sudah menjadi tren di banyak perusahaan sekuritas yang menerapkan fasilitas tersebut guna memudahkan nasabah bertransaksi saham.

Oleh karena, seiring maraknya perushaaan sekuritas yang mengeluarkan fasilitas online trading, pihak Bursa Efek Indonesia juga mengajak semua anggota bursa untuk memberikan fasilitas berupa trading online, kendatipun bukan menjadi kewajiban.

Direktur Utama Ito Warsito mengatakan, sudah lebih dari 50% atau sudah ada 70 sekuritas yang membuat trading dengan sistem online dari 114 sekuritas yang ada. Pasalnya, remote trading sudah merupakan kewajiban, “Artinya berdagang dari kantornya masing-masing itu mereka sudah. Namun online trading ini agak berbeda, ini fasilitas tambahan yang diberikan anggota bursa kepada para nasabahnya untuk melakukan transaksi perdagangan melalui internet,"katanya di Jakarta, Rabu (5/9).

Dia menambahkan, broker dalam menyiapkan online trading selalu diam-diam dan baru memberitahu bursa setelah sistem onlinenya siap."Biasanya mereka memberitahukan kalau mereka sudah berhasil membuat trading online-nya, pihak BEI juga tidak mendorong AB membuat online, itu terserah saja," ungkapnya.

Tingkatkan Investor

Hal senada juga disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen, dirinya mengaharapkan makin banyak perusahaan efek yang memiliki jaringan perdagangan saham berbasis internet atau "online trading, guna dapat meningkatkan jumlah investor di pasar modal.

Menurutnya, dengan semakin bertambahnya perusahaan efek yang menggunakan sistem "online" pada perdagangan saham akan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal.

Dia menambahkan, dengan menggunakan fasilitas "online trading" maka akan memberi kemudahan investor saham dalam melakukan transaksi jual-beli efek. Disamping itu, pihak bursa juga telah menyediakan sistem yang cukup untuk mendukung maraknya minat "online trading" di dalam negeri, “Investor domestik diharapkan dapat berpartisipasi lebih besar di pasar modal Indonesia. Hal ini agar indeks saham dapat stabil bila ada gejolak karena sentimen eksternal,"tuturnya.

Dalam data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah sub account yang terdafar per Agustus 2012 sebanyak 337.881 nasabah.

Transaksi Rp 40 Miliar Perhari

Sementara PT NISP Sekuritas meluncurkan fasilitas online trading (VINTRA-Virtual NISP Sekuritas Online Trading). Fasilitas tersebut menawarkan kemudahan dan keunggulan bagi nasabahnya yang menjadi komitmen pihak NISP Sekuritas.

Direktur Utama PT NISP Sekuritas, David Partono mengatakan, dengan diluncurkannya fasilitas "online trading" dapat mendorong penambahan jumlah nasabah baru sebanyak 1.000 nasabah baru (online client).

Sedangkan peningkatan transaksi, ditargetkan sebesar Rp 40 miliar per hari dan bisa masuk dalam peringkat 40. Saat ini total transaksi harian mencapai Rp25-30 miliar per hari dan ada dalam peringkat 50 dari total anggota bursa yang mencapai 114, “Kita targetkan akhir tahun nanti, nilai transaksi harian Rp40 miliar per hari dan bisa masuk dalam top 40,”tegasnya.

Fasilitas online trading, Vintra menurut Tjie melengkapi layanan NISP Sekuritas yang ada sebelumnya, yaitu brokerage service yang ada di tiga kantor cabang NISP Sekuritas, di Pluit, Bandung, dan Surabaya.

Dia menuturkan layanan Vintra memiliki sejumlah jenis produk yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Vintra-i misalnya, menawarkan layanan kemudahan order dengan hanya klik harga di market info.

Sementara produk lainnya yaitu Vintra-M yang menawarkan layanan kepada nasabah untuk dapat order saham langsung dari handphone atau tablet pc. Ada juga Vintra-VIP yang memberikan informasi dan grafik yang lebih lengkap kepada nasabahnya.

NISP mencatat, untuk total nasabah saat ini telah mencapai sekitar 80-1000 nasabah. Tjie mengatakan, dengan fasilitas online tersebut diproyeksikan bisa menambah sebesar 10% hingga akhir tahun ini. Sementara untuk total pendapatan di semester pertama tahun ini, NISP mencatat, mengalami penurunan sekitar 0,89%, dari Rp30,42 miliar di periode yang sama pada tahun sebelumnya menjadi Rp30,16 miliar.

Menurut Tjie, penurunan tersebut tidak dapat dihindari karena pengaruh global yang menyebabkan pelaku pasar kebanyakan masih wait dan see untuk membeli saham. Oleh karena itu, NISP berupaya membuat program-program marketing inovatif dan berkomitmen untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan kepada para nasabah. (lia)