Ekonomi RI Bagus, Intiland Tancap Gas Ekspansi

Kamis, 06/09/2012

NERACA

Jakarta – Perusahan pengembang properti PT Intiland Development Tbk akan terus menggenjot ekspansi bisnisnya seiring melesatnya pertumbuhan ekonomi nasional. Alasannya, kinerja ekonomi Indonesia sangat bagus hingga berdampak pada perkembangan pasar properti yang prospektif.

“Kalau ekonomi bagus, kalangan pengembang pasti akan membangun proyeknya. Mereka kan merasa yakin bahwa proyeknya akan laku terjual,” kata Hendro Gondokusumo, Presiden Direktur PT Intiland Development Tbk, kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Menurut Hendro, setelah melihat pertumbuhan ekonomi nasional, Intiland akan makin fokus pada pengembangan beberapa proyek properti, mulai dari perumahan, kawasan komersial, perkantoran sampai dengan jaringan hotel. Untuk itu, Intiland tengah mengejar pertambahan lankbank atau bank tanah sekitar 1000 hektar.

Saat ini, imbuh Hendro, pihaknya tengah mengincar lahan berskala besar di sebuah kota di Jawa Timur. “Dana untuk akuisisi belum bisa diungkapkan karena khawatir terjadi kenaikan harga yang pesat. Namun, kami optimis bisa menyelesaikan negosiasi tahun depan,” jelas Hendro.

Dia mengungkap, pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur memiliki potensi yang besar, seiring meningkatnya aktivitas relokasi dan ekspansi perusahaan.

Sementara itu, di kawasan industri Ngoro Industrial Park (NIP) di Mojokerto, misalnya, permintaannya naik tajam. Proyek yang dikembangkan Intiland tersebut bahkan siap menambah lahan baru untuk perluasan NIP 3.

“Dulu, NIP tahap I seluas 200 ha dijual dan dikembangkan selama 15 tahun. Kini, NIP tahap II seluas 225 ha, lebih dari separuhnya terjual hanya dalam enam bulan,” terang Hendro.

Hendro menyebut, salah satu faktor meningkatnya permintaan kawasan industri adalah kondisi ekonomi Indonesia yang masih bagus. Kondisi itu tercermin dari banyaknya perusahaan baru muncul dan membutuhkan pabrik sendiri.

“Sekarang ini, yang menjadi pahlawan adalah para entrepreneur. Positifnya ekonomi berimbas pada sektor properti di mana setiap produk yang diluncurkan pasti laku,” jelas dia.

Selain mengincar lahan baru untuk kawasan industri, Intiland juga menjadikan lahan tersebut sebagai cadangan (landbank) untuk pengembangan proyek terpadu (mix used). “Konsep mix used sangat cocok diterapkan saat ini karena punya fasilitas lengkap. Hotel juga potensial,” papar Hendro.

Proyek Aeropolis

Di tempat yang sama, Didik Riyanto, Direktur PT Perkasa Lestari Permai menbungkap, pihaknya masih terus mengembangkan proyek mix-used Aeropolis yang hanya berjarak 700 meter dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Provinsi Banten. Sepanjang semester pertama tahun ini, proyek tersebut telah membukukan penjualan sebesar Rp 160 miliar. “Dari angka itu kebanyakan bersumber dari Aeropolis Residence (AR) 1,” katanya.

Menurut Didik, Intiland juga tengah menyiapkan penjualan Aeropolis Commerecial Center (ACC). Rencananya, tower I proyek pertokoan dan perkantoran tersebut akan mulai dijual pada pertengahan September ini. “Untuk toko harganya Rp 26,5 juta per m2, sedangkan perkantoran Rp 11 juta per m2,” tutur dia.

Saat ini, imbuh Didik, proyek AR 1 tengah memasuki tahap konstruksi, sementara ACC tengah dilakukan proses pemancangan. “Oktober nanti kami akan memulai tahap dua yang terdiri dari dua kluster. Luasnya 1,8 hektare,” ucap Didik.

ACC terdiri dari lima tower apartemen, di mana kluster keduanya seluas 3 ha. Didik menuturkan, pihaknya mengantongi izin untuk keseluruhan proyek Aeropolis seluas 70 hektare. "Ya, sedang menuju ke 70 hektare itu secara bertahap," ujarnya.