Di Atas Tanggul Bisa Dibangun Jalan Tol

Sabtu, 08/09/2012

NERACA

Tanggul raksasa yang akan dibangun di pesisir Jakarta Utara, selain berguna untuk menangkal air laut, juga dirancang multi-guna yaitu bisa digunakan sebagai jalan tol atau jalur kereta api.

Sebagai jalan raya (tol atau non tol), tanggul tersebutdiperkirakan bisa dibuat lima jalur atau lebih, di masing-masing arah lalu lintas. Jalan tol yang lebarnya sekitar 60 meter itu dapat dibangun tanpa problematika pembebasan tanah yang selalu menghantui pembangunan infrastruktur jalan selama ini.

"Karena cukup lebar, di atas tanggul bisa sekaligus difungsikan sebagai jalan raya atau jalan kereta api, atau kedua-duanya sekaligus," ujar Sawarendro Deputy Representative Witteveen dan pimpinan salah satu konsultan anggota Konsorsium Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS), Senin malam, 25 Juli 2011.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan, setelah master plan selesai dikerjakan, Pemprov DKI akan segera mencari dana untuk pembangunan dengan mekanisme public private patnership (PPP), karena dana yang dibutuhkan untuk membangun mega proyek ini mencapai Rp45 triliun lebih.

Tim JCDS mulai bekerja sejak awal tahun ini dan tengah menggodok rencana pembangunan tanggul laut di Utara Jakarta. JCDS menetapkan bahwa pembangunan tanggul laut adalah bagian dari penyelesaian masalah banjir dan sistem pengelolaan air di Jakarta. Karena itu proyek ini harus dilakukan bertahap dan memakan waktu tidak kurang dari tiga puluh tahun.

Dalam rencana ini, Belanda telah berkomitmen memberikan bantuan teknis untuk proyek tanggul raksasa tersebut. Dana bantuan teknis itu, akan dikucurkan secara bertahap. Untuk pembuatan masterplan, Belanda memberikan komitmen untuk memberikan bantuan teknis sekitar 4 juta Euro.

Konsorsium JCDS yang terdiri dari konsorsium konsultan Belanda dan dibantu beberapa ahli dari Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU ) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), bertugas memetakan permasalahan yang ada sekarang ini.

JCDS bertugas untuk memetakan permasalahan yang ada sekarang, dan kecenderungan permasalahan ke depan untuk menentukan strategi yang dianggap tepat untuk menghadapi tantangan penurunan muka tanah.

Dalam kurun waktu 20 sampai 30 tahun lagi, diperkirakan Jakarta Utara akan terendam. Ini merupakan efek dari penurunan muka tanah dan perubahan iklim. Ini akan berpengaruh langsung terhadap kehidupan jutaan orang yang tinggal dan beraktivitas di daerah itu. Disamping itu, perubahan iklim juga akan makin memperparah banjir di Jakarta secara keseluruhan.

Guna merespons ancaman tersebut, perlu dibuat tanggul yang akan menjadi penghalang masuknya air dari laut. Ada beberapa opsi pembangunan tanggul raksa itu.

Opsi pertama pengelolaan banjir mengikuti pendekatan pengendalian banjir yang ada sekarang ini, dimana dilakukan penguatan dan peninggian tanggul pada lokasi garis pantai. Penambahan ruang terbuka biru untuk kolam retensi juga menjadi bagian dari rencana ini.

Opsi kedua, tanggul laut diintegrasikan dengan pengembangan daerah reklamasi dengan tetap membuka aliran-aliran sungai utama (Cengkareng Drain, Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur) ke arah laut.

Sedangkan opsi ketiga adalah dengan membuat tanggul dengan menampung sementara keseluruhan air yang dialirkan oleh semua sungai sungai yang melalui Jakarta dan kemudian dipompakan ke laut. (agus/dbs)