Untuk Mencegah Intrusi Air Laut

Oleh Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Pemerintah DKI Jakarta berencana membangun tanggul laut berukuran besar di Teluk Jakarta dengan nilai sedikitnya US$5 miliar, atau setara dengan Rp 45 triliun. Hal itu terungkap dalam ajang Infrastructure Summit di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis (30/8).

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan Pemda DKI akan mengembangkan Teluk Jakarta dengan membangun giant sea walls atau tanggul laut raksasa.

Memang DKI Jakarta memerlukan tanggul laut seperti itu, selain untuk mencegah intrusi air laut ke kawasan daratan, juga untuk mencegah banjir gelombang rob ke daratan, yang belakangan ini semakin terasa di kawasan Jakarta Utara.

Tanggul raksasa itu akan membenamkan kakinya sampai di bawah permukaan laut. Dengan demikian, badan tanggul diharapkan akan bisa mencegah intrusi air laut.

Menurut para ahli geologi, beberapa tahun silam intrusi air laut itu sudah sampai di sekitar Bundaran Hotel Indonesia. Mereka mengkhawatirkan kalau intrusi air laut itu dibiarkan, maka akan terjadi korosi terhadap fondasi gedung yang ada di Jakarta. Namun belum ada penelitian terkini, sampai sejauh mana intrusi air laut itu merasuk ke relung-relung fondasi gedung pencakar langit di Jakarta?

Apalagi selama lebih dari 30 tahun ektraksi air tanah telah membuat permukaan tanah di wilayah Jakarta semakin menurun. Karena demikian kronisnya penurunan permukaan tanah tersebut, ada pula kekhawatiran bahwa ”Jakarta akan tenggelam”.

Selain itu, perubahan iklim juga menyebabkan naiknya permukaan laut dengan genangan air laut yang bergerak ke wilayah dataran rendah di bagian utara Ibu Kota.

Dengan dibangunnya tanggul raksasa yang mulai digarap masterplannya pada November mendatang, diharapkan ekstraksi air tanah bisa disetop dan penurunan permukaan tanah di pesisir Jakarta dapat dihambat. Konon untuk membangun tanggul raksasa tersebut, diperlukan waktu sedikitnya 10 tahun.

Selain untuk mencegah intrusi air laut dan banjir rob, Pemda DKI juga dapat memanfaatkan tanggul raksasa ini untuk kepentingan ekonomi dan publik. Seperti memanfaatkan daerah di dalam tanggul sebagai daerah bendungan air tawar guna memproses dan memasok air bersih untuk kebutuhan kota.

Tidak hanya itu.

Ke depannya, di area tanggul bisa dibangun jalur Mass Rapid Transit (MRT) dan jalan tol, sehingga akan dapat mengurai kemacetan lalu lintas di DKI yang seperti benang kusut. Sementara di dalam tanggul akan dibangun kawasan pusat bisnis serta perumahan. Namun harus diwaspadai kembali peranan pemodal besar, yang cenderung merusak bentang alam, demi mengejar keuntungan.

BERITA TERKAIT

Pembangunan Infrastruktur untuk Indonesiasentris, Bukan Pencitraan

  Oleh: Winarto Ramadhan, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UIT Makassar   Pemerintahan Jokowi-JK sudah memasuki ambang masanya. Empat tahun pemerintahan sudah…

Presiden Serahkan SK Perhutanan Sosial di Jabar - Menteri LHK: Perhutanan Sosial untuk Pemerataan Ekonomi dan Mengurangi Angka Kemiskinan

Presiden Serahkan SK Perhutanan Sosial di Jabar Menteri LHK: Perhutanan Sosial untuk Pemerataan Ekonomi dan Mengurangi Angka Kemiskinan NERACA Jakarta…

Anugerah Pinisepuh Paguyuban Pasundan untuk Presiden

Bandung-Presiden Jokowi menerima penghargaan sebagai Pinisepuh Paguyuban Pasundan dari masyarakat Jawa Barat. Acara penganugerahan digelar di Kantor Pusat Pengurus Besar…

BERITA LAINNYA DI

Sepanjang Oktober, All New Honda Brio Terjual 6.703 Unit

Setelah memulai pengiriman perdananya pada tanggal 13 Oktober 2018, All New Honda Brio meraih penjualan sebanyak 6.703 unit sepanjang bulan…

Volkswagen-Ford Berunding Mobil Listrik dan Swakemudi

Volkswagen AG dan Ford Motor Co tengah melakukan pembicaraan terkait kemungkinan kerjasama untuk mengembangkan kendaraan swakemudi dan listrik dalam sebuah…

Pasar Mobil Premium RI Diyakini Bakal Berkembang

BMW Group Indonesia merasa optimistis pasar mobil kelas premium akan terus berkembang di Tanah Air. Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi…