Keikhlasan, Kejujuran, dan Sikap Pemaaf

Direktur Utama PT Eka Bogainti (Hoka Hoka Bento): Hendra Arifin

Sabtu, 08/09/2012

NERACA

Hidup layaknya permainan catur, Tuhan akan menunggu giliran setelah Anda menggerakkan pion pertama. Sebuah ungkapan yang terefleksikan dalam kehidupan Hendra Arifin, Direktur Utama PT Eka Bogainti, sekaligus pemilik 148 gerai Japanese fast food restaurant berbendera Hoka Hoka Bento.

Keteguhan hati dan semangat mewujudkan tujuan hidup dari sosok pekerja keras ini, memang telah dibuktikan. Karier cemerlang selama 13 tahun bekerja di PT Astra International justru ia tinggalkan untuk merintis bisnis kuliner.

Kini kiprah bisnis yang dibangun sejak April 1985 silam kian mengepakkan sayap, gerainya tersebar di sentero Pulau Jawa dan Bali sekaligus membuka lapangan kerja bagi ribuan orang. Dia memang telah menggerakkan pion pertamanya, sebuah langkah yang dia putuskan 27 tahun silam.

Awalnya, Hoka Hoka Bento merupakan bisnis makanan dengan konsep take away yang kemudian diubah menjadi cepat saji (fast food), model bisnis yang mengadopsi tren cara menikmati makanan dengan lebih praktis dan higienis ala Jepang.

Dari sebuah gerai mungil di Wilayah Kebon Kacang Raya, Jakarta, Hendra mulai membangun bisnis resto Hoka Hoka Bento. Untuk mengembangkan bisnis yang digelutinya, dia pun menyambangi negeri Sakura untuk mempelajari dan membeli izin penggunaan merek dan technical assistance Hoka Hoka Bento di Indonesia.

Namun kini di bawah PT Eka Bogainti yang dinakhodainya, hak cipta atas merek Hoka Hoka Bento bahkan telah dimiliki sepenuhnya.

Alur perjalanan hidup pria berdarah Betawi ini, memang seperti air yang mengalir, “Semua tidak ada yang kebetulan, semua karena rancangan Tuhan,” ungkapnya, termasuk dengan berdirinya Hoka Hoka Bento, dan pertemuan saya dengan Anda (Neraca-red). “Bila Tuhan berkehendak, maka terjadilah. Kita hanya menjalankan semua rencana-NYA,” ujarnya membuka percakapan.

Hendra akrab disapa memandang bila riak adalah romantisme dan dinamika hidup. “Yang harus dilakukan adalah menghadapinya dengan keikhlasan, kejujuran dan mau memberi maaf,” tuturnya memaknai sukses yang telah diraih.

Sikap ikhlas dan fokus dalam bekerja guna mewujudkan tujuan hidup memang telah dilakukannya. Dalam menjalankan bisnis, kata Hendra, persoalan dan kendala adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi. “Kita harus ikhlas dan berusaha untuk bangkit kembali,” ujarnya memberi kiat menjalani sebuah proses yang telah direncanakan oleh Tuhan.

Dia menilai bahwa sebuah kegagalan merupakan pelajaran yang berharga. “Seorang pembalap motor ternama sekalipun pasti pernah jatuh, namun dia dapat bangkit untuk kembali berjuang dan meraih kemenangan,” ungkapnya.

Begitupun dengan berbisnis, “Kita petik pelajaran dari kegagalan, lalu kembali bangkit untuk tidak mengulang kesalahan yang sama,” ujarnya, sikap ini akan memperkuat diri kita untuk melangkah ke level yang lebih tinggi dengan tetap fokus bekerja dengan sikap tulus dalam menjalaninya.

Menurut dia, sikap fokus pada bidang pekerjaan yang digeluti menjadi salah satu kunci keberhasilan yang maksimal. Ia mencontohkan, banyak orang di tengah bisnis yang dilakukannya kemudian justru menggeluti bidang usaha yang lain, “Langkah ini jelas akan memecah fokus pada pekerjaan dan menimbulkan banyak persoalan,” ujarnya mengingatkan.

Selain keikhlasan dan fokus bekerja, nilai hidup yang patut dimiliki seorang entrepreneur adalah kejujuran.

Hendra menjelaskan bahwa kejujuran menjadi modal yang penting dalam menjalani hidup termasuk dalam membangun bisnisnya. “Sikap shiddiq (tepercaya) sangat penting. Tanpa sikap shiddiq, lalu bagaimana kita memperoleh amanah?,” ujarnya.

"Karena dengan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya saya percaya akan mendatangkan rahmat dan karunia Tuhan yang terindah,” ucapnya penuh keyakinan.

Begitu pun dengan sikap pemaaf, Hendra menilai tak sedikit orang yang sulit memaafkan sebuah kesalahan meskipun telah berlalu. “Butuh sebuah keberanian dan kebesaran hati untuk meminta dan menerima maaf,” ujarnya.

Dia menilai dengan memiliki sikap pemaaf, kita akan lebih bersih dan jernih dalam berpikir. “Pikiran negatif hanya akan mengusik konsentrasi kita untuk bergerak maju. Ini jelas sangat tidak menguntungkan,” ujarnya. Karena itu cobalah untuk melupakan dan tetap melangkah ke depan.

“Seperti ungkapan merunduk tapi tidak patah,” ujarnya berprinsip.